Dawuk, Mahfud Ikhwan

Ini perkenalan pertama saya dengan Mahfud Ikhwan. Selain novel ini, ternyata beliau juga pernah memenangkan sayembara menulis novel Dewan Kesenian Jakarta 2014.

Rumbuk Randu, wilayah yang menjadi latar dalam cerita ini, berisi orang yang kisah hidupnya kelabu. Bagaimana tidak? Hidup Dawuk dan Inayatun berakhir dengan tragis, sebagaimana dikisahkah oleh Warto Kemplung. Tapi biarpun kisahnya tragis, cara Warto bercerita memberikan balutan humor (dark humour) di dalamnya.

Pada akhir cerita, pembaca akan merasa kesal dengan Warto Kemplung sebagaimana pengunjung warung lainnya kesal dengan orang tersebut. Kenapa? Ceritanya sangat memikat, tapi tidak jelas bagian mana yang aktual benar-benar terjadi dan mana yang hanya bualannya!

(Saya tidak akan menceritakan terlalu banyak mengenai konteks ceritanya agar tidak menjadi spoiler berat bagi yang belum membacanya)

Bagian yang menarik adalah ketika pendengar bertanya pada Warto: bagaimana kamu bisa tahu apa yang dipikirkan oleh Dawuk? Kenapa kamu tahu apa perasaan Inayatun dan apa yang mereka ucapkan ketika mereka hanya berduaan saja? Lalu dia balas: memangnya dalam dongeng Kancil, kita harus bertanya dulu pada Kancil dan Buaya mengenai apa yang mereka rasakan?

Budaya mendengarkan cerita dari mulut-ke-mulut ini juga cukup marak di Indonesia. Dibandingkan dengan mencari bukti dan fakta, kita lebih mudah percaya dengan “katanya”. Begitu mudahnya kita larut dalam cerita Warto, bahkan dalam bagian yang mungkin terlalu berlebihan.

Susunan kalimat yang paling saya sukai adalah ketika Warto Kemplung mengibaratkan kebahagiaan sebagai secangkir kopi. Berikut kalimatnya:

Kebahagiaan Itu Bagai Secangkir Kopi

Kalian tahu, apakah kebahagiaan itu?

Ini. Lihat cangkir kopi ini. Ya, inilah kebahagiaan. Seperti kopi, cepat atau lambat, ia akan habis. Ya, ya, kadang kita ingin berlama-lama menikmatinya, menghirupnya sedikit demi sedikit, mencecapnya lama di lidah, memainkannya sedikit di langit-langit, mengumurnya pelan-pelan, tak ingin buru-buru menelannya. Tapi, mak bedunduk, tahu-tahu, begitu kita longok ke dasar cangkir, yang tersisa tinggal ampas. Ia sudah tandas. Mungkin karena memang kita tanpa sadar mereguknya lekas-lekas. Kadang, karena sembrono, tangan atau kaki kita tak sengaja menggulingkan cangkirnya, dan kopi akan tumpah sia-sia. Ada kalanya, datang orang-orang kurang ajar, yang dengan enteng saja mereguknya, sama sekali tak menyisakan untuk kita.

Apa? Kau tanya ‘bagaimana dengan kopi yang tidak diminum’? Kopi yang tidak diminum bukanlah kopi. Ia cuma air putih yang bernasib sangat buruk.

Dunia ini fana, saudara-saudara. Itu bukan aku yang bilang, tapi Tuhan – silakan cari sendiri ayatnya. Semuanya akan binasa. Semuanya! Yang air kembali ke air. Yang tanah balik jadi tanah. Tapi yang paling ujung hanya udara kosong, sebab memang dari itulah alam semesta dan kehidupan diawali. Bahagia itu, kalian tahu, jika memang ada, hanya permainan dan tipudaya dunia belaka. Itulah kenapa Tuhan hanya benar-benar menjanjikan kebahagiaan itu di alam sana, bukannya di sini, di dunia ini. Yang kekal abadi, selamanya, khaalidiina fiha abadan, hanya di surga. Di sini, semuanya fana. Dan fana artinya binasa. Mati. Habis.

Bahagia itu adalah permainan gundu, kalian tahu? Benda bulat bening dan berkilau-kilau yang kita perjuangkan itu, yang kita berkelahi karenanya, kita nangis-nangis ingin punya, kita berpanas-panas untuk memenangkannya., ujung-ujungnya akan pitak juga. Bahagia itu tak lebih dari laying-layang yang mengangkasa tenang lalu tiba-tiba putus benang, kemudian ia akan terkulai jatuh, dan lenyap entah ke mana. Ya, semua akan berakhir. Cepat atau lambat. Atau kadang malah terlalu cepat. Dan banyak di antaranya berakhir dengan cara yang buruk.

Kisah yang terjadi di balik suatu “berita singkat” di dalam sebuah koran regional mengingatkan saya pada novel Eka Kurniawan yang berjudul “Lelaki Harimau”. Semua cerita ini bisa diringkas dalam 2-3 kalimat berita di sebuah kolom kecil. Tapi di balik berita tersebut? Mungkin ada kisah yang panjang, mundur hingga 3 generasi ke belakang.

Secara umum saya suka novel ini dan merekomendasikan agar teman-teman membacanya. Semoga dapat berjumpa kembali dengan penulis ini dalam karya lainnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s