Cinta Tak Ada Mati, Eka Kurniawan

900-ctam2018[1]
Sumber: http://ekakurniawan.com/books/cinta-tak-ada-mati
Kemarin ini saya baru selesai membaca kumpulan cerita pendek karya Eka Kurniawan. Judulnya “Cinta Tak Ada Mati“. Isinya bukan kumpulan cerita romantis, tapi justru agak muram, suram, dan malah seram. Seolah ada pesan dari penulis bahwa cinta tidak selalu indah.

Tapi sebenernya judul buku itu diambil dari salah satu cerita pendek yang ada di dalamnya. Jadi tidak ada suatu tema tertentu yang diangkat oleh penulis, karena sebagian besar sudah pernah dimuat di media lain sebelumnya.

Ada 13 cerita di dalam buku ini:

  1. Kutukan Dapur (2003). Cerita speculative fiction yang bikin berandai-andai, jangan-jangan bisa ya dulu beneran ada yang kayak Diah Ayu? Tokoh Maharani yang ada di ‘masa kini’ tidak terlalu banyak dijelaskan, tetapi kita dibuat banyak menduga-duga sendiri.
  2. Lesung Pipit (2004). Ini plot twist-nya lebih ke arah shock value soalnya kita juga nggak terlalu “kenal” dengan tokoh utamanya, si Lesung Pipit. Jadinya tindakan yang dia lakukan di akhir bikin kaget tapi kita juga belum terlalu terikat secara emosional dengan orangnya karena karakternya belum dieksplorasi lebih dalam (ceritanya keburu ditamatin).
  3. Cinta Tak Ada Mati (2003). Ini cerita terpanjang di buku ini, yang juga dipilih sebagai judul bukunya. Ini kisah sedih seorang beta male (Mardio, ya elah merasa cinta juga ga gitu-gitu amat kali!) yang terus-menerus memelihara rasa cintanya yang tak berbalas. Bagus juga deskripsi kenapa dia mau tetap “terus berpegang cinta yang bertepuk sebelah tangan” karena dia tidak ingin menerima kenyataan bahwa tindakannya selama ini sia-sia. Endingnya miris, sedih, tapi juga ya cukup bikin kaget. Karena ceritanya cukup panjang (karakternya dijelaskan cukup dalam) jadinya kita sedikit lebih mengerti kenapa sampai segitunya dia terdorong untuk melakukan hal tersebut.
  4. Persekot (2017). Yang ini puas bacanya karena kalimat penutupnya keren. Oh ya. Persekot itu artinya uang muka (Baru tahu kan? Sama dong). Tapi di sini yang dimaksud bukan uang dalam arti harafiah. Nuansa ceritanya seolah kayak di dunia yang sama dengan “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” (?).
  5. Surau (2004). Dialog internal tokoh utamanya menarik sekali, sangat menggambarkan konflik dalam diri. Padahal lokasinya nggak ke mana-mana (di dalam Surai) dan situasinya juga sederhana banget. Intinya ini orang yang lagi konflik mau sholat atau nggak. Bagus juga buat menjelaskan konsep konflik intrapersonal ke mahasiswa psikologi maupun awam, hehe.
  6. Mata Gelap (2002). Ini serem banget baca ceritanya tapi endingnya yaaa rada gimana ya.  Ngerti sih bahwa maksudnya kan ingin menyampaikan pesan semacam ini: biarpun fisik kita dapat dihilangkan, tapi kita nggak benar-benar “hilang”. Cuma ini dibikin secara harafiah.
  7. Ajal Sang Bayangan (2004). Ini mungkin maksudnya interpretasi ulang legenda Ajisaka. Ceritanya bagus, garis besarnya secara umum masih sama dengan cerita aslinya.
  8. Penjaga Malam (2004). Ini ceritanya ketebak sih tapi bacanya tetap deg-degan. Tentang penjaga malam (judulnya kan memang itu!) yang menghadapi seramnya malam. Nggak saya jelasin lebih banyak biar ga spoiler.
  9. Caronang (2005). Ini ceritanya tentang makhluk mistis yang berkepala anjing, tapi cerdas dan bisa belajar seperti manusia. Endingnya ngeri. Ini bagus ceritanya. Kalau kamu pensaran bisa dicari di internet, ada yang upload (gak tahu seijin penulis atau tidak). Ada kemiripan dengan novel Lelaki Harimau, karena bikin kita mikir, jangan-jangan ini kisah yang bisa jadi beneran terjadi di balik berita kriminal yang kita baca di koran.
  10. Bau Busuk (2002). Yang ini mungkin agak eksperimental maksudnya? Penulisannya dibuat sangat panjang, sehingga membacanya juga capek. Cerita ini isinya cuma satu kalimat tapi panjaaaaaaaaaaang banget.
  11. Pengakoean Seorang Pemadat Indis (2005). Ini adalah sebuah tulisan “andai-andai” (what-if stories) semisalnya cerita dari Thomas de Quincey, penulis “Confession of an English Opium Eater” dibuat dengan setting Hindia Belanda. Ini bagus dan agak sedih bacanya.
  12. Jimat Sero (2009). Ini endingnya bangke banget, hehe. Sangat menghibur dan bikin orang pengen komentar “Hadeeeeeeeeh bangke” pas adegan terakhir. Soalnya santai banget nulisnya padahal itu plot twist. Hehe.
  13. Tak Ada yang Gila di Kota Ini (2011). Ceritanya tentang upaya “pemberantasan” orang gila yang kemudian malah menjadi eksploitasi. Ini bagus. Saya suka judulnya karena jadi ironi. Tak ada orang gila secara harafiah, soalnya mereka nggak kelihatan di jalanan. Tapi yang “waras” juga gila kelakuannya.

Oh ya. Urutan penulisan buku ini diubah dari cetakan sebelumnya. Tadinya cerita “Cinta Tak Ada Mati” diletakkan di posisi paling awal(?), tapi entah kenapa dipindahkan lokasinya. Bahkan di edisi pertama ada cerita pendek yang kemudian dihilangkan dalam edisi cetakan berikutnya.

Saya pernah baca di blog Eka Kurniawan sendiri, bahwa cerita pendek lebih banyak ia jadikan sebagai ruang untuk eksperimen. Nampaknya eksperimennya cukup beragam. Nggak semuanya ‘wow-banget-nih-cerita’, tapi banyak yang bagus.

Awal mulanya saya mengenal karya Eka Kurniawan melalui novel, sehingga ketika membaca cerita pendeknya, ada perasaan ‘kurang puas’ karena ceritanya terasa terlalu cepat tamat. Saya masih kepengen diceritakan lebih lanjut oleh penullisnya mengenai apa yang akan terjadi berikutnya.

Setiap cerita ini bisa juga dieksplorasi jadi novel sendiri. Tapi nampaknya penulisnya memutuskan untuk menyudahi saja cerita tersebut, dan kemudian menggunakan hasil eksperimentasinya untuk membuat suatu novel yang baru. Ada ‘jejak’ yang mirip dalam cerita pendek ini yang mungkin ada kemiripan dengan novelnya, meskipun tidak banyak.

Mungkin… mungkin yaaa… memang ini ‘resep rahasia’ dari penulisan novelnya Eka Kurniawan.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Cinta Tak Ada Mati, Eka Kurniawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s