Identitas dan Kenikmatan, Ariel Heryanto

Cover Buku Identitas dan Kenikmatan

Menjelang tahun pemilihan umum 2019, politik identitas menjadi suatu hal yang sangat mencolok dan sering kita lihat. Dulu rasanya nggak segininya, tapi sekarang makin banyak kita melihat orang sangat menonjolkan identitas ideologis yang ia miliki. Entah identitas agama, suku, atau keberpihakannya pada figur-figur tertentu. Kenapa bisa jadi begini? Buku ini mengulas dan menjelaskan bagaimana proses serupa terjadi di Indonesia sejak jaman sebelum kemerdekaan.

Dalam buku ini, budaya populer yang tampil dalam suatu masyarakat dijelaskan bukan sebagai upaya untuk sekadar “bersenang-senang” (mencari Kenikmatan seperti yang ditulis dalam judul bukunya), melainkan juga sebagai upaya untuk merumuskan Identitas. Kebetulan di buku ini media utama yang dibahas adalah media film.

Terdapat 8 bab pembahasan dalam buku ini, yang dimulai dengan bab “Mengenang Masa Depan“. Sebagai pembuka, isinya adalah gambaran umum (semacam preview) dari masing-masing bab, begitu pula memberikan gambaran umum dari progress perkembangan negara Indonesia. Sejak reformasi, perombakan terjadi juga dalam hal budaya yang tampil secara populer di Indonesia. Menurut penulis, kita sedang “mencari kembali wujud identitas kita yang sebenarnya”, setelah sekian lama ditentukan oleh pemerintahan Orde Baru.

Di bab ini juga terdapat pembahasan mengenai bangsa Indonesia yang “berkiblat pada budaya lisan“, sehingga mungkin bisa menjelaskan bagaimana budaya membaca masih menjadi hal yang kurang umum di masyarakat Indonesia. Bila kiblat pada budaya lisan ini masih terus berlanjut, mungkin media penyebaran informasi melalui suara (podcast) dan gambar (YouTube) akan menjadi lebih populer dibandingkan media tulis, seperti blog (WordPress) atau konten berita tertulis lainnya (Kompasiana, dan semacamnya).

Dalam bab “Post-Islamisme“, dijelaskan bagaimana identitas sebagai Muslim menjadi dominan setelah selama ini tidak mendapatkan tempat di jaman Orde Baru. Semakin banyak tokoh-tokoh sering tampil ke publik, sehingga penampilan identitas sebagai “muslim” makin banyak dicari orang. Dalam budaya populer, misalnya, jilbab yang dulunya menjadi simbol perlawanan sekarang menjadi tren fashion.

” Tampil gagahnya kekuatan Islam dalam politik dan domain wilayah publik secara luas juga berpengaruh pada unjuk giginya cita rasa Islam di segala pergulatannya dalam budaya layar. Ariel Heryanto juga menyinggung tentang meningkatnya kesalihan masyarakat Indonesia yang ditandai dengan simbol-simbol identitas modernis, seperti model jilbab, yang selalu dipahami sebagai gejala semacam komersialisasi simbol-simbol Islam. “

https://arielheryanto.files.wordpress.com/2016/03/2018_03_12-catatan-setelah-membaca-buku-identitas-dan-kenikmatan-c.pdf

Perdebatan mengenai identitas “Islami” melalui film dibahas tersendiri dalam bab yang berjudul “Pertempuran Sinematis“. Film Ayat-Ayat Cinta dianggap oleh penulis sebagai film yang menampilkan identitas “Muslim” yang selama ini banyak didambakan oleh masyarakat Indonesia. Setelah film itu diluncurkan, nampak bahwa budaya islami sebagaimana yang ditampilkan dalam film tersebut semakin banyak ditiru oleh masyarakat.

Ayat-Ayat Cinta kemudian disandingkan dengan Perempuan Berkalung Sorban dan juga ? (Tanda Tanya), semuanya film karya Hanung Bramantyo. Penulis kemudian memaparkan bahwa penggunaan film telah lama digunakan oleh pemerintah Orde Baru untuk menentukan “identitas” bangsa Indonesia. Contoh paling ekstrim misalnya adalah film G30SPKI (Pengkhianatan 30 September). Dalam film itu diposisikan bahwa tokoh-tokoh aliran komunis adalah penjahat, sehingga kemudian Indonesia (dan masyarakatnya) ditetapkan sebagai negara anti-komunis.

Perkembangan sinema sebagai alat untuk menentukan identitas ke-Indonesia-an yang bisa disepakati juga dibahas dalam bab mengenai “Masa Lalu Yang Dicincang dan Dilupakan“. Dalam sejarah perfilman Indonesia, banyak kisah-kisah atau peran yang sengaja tidak disebutkan. Misalnya peranan etnis Tionghoa dalam perkembangan film di Indonesia yang sangat diminimalisir karena peranan pemerintah yang cenderung represif. Hal serupa juga terjadi pada tokoh-tokoh yang memiliki orientasi “kiri”.

Di bab “Kemustahilan Sejarah?”, film mengenai G30S/PKI dibahas sebagai contoh bagaimana suatu peristiwa sudah sulit untuk dapat diketahui kebenarannya. Bahkan ketika ada film yang membahas secara langsung peristiwa tersebut melalui pelakunya (dalam film The Act of Killing / Jagal, ada kesaksian dari mereka sendiri yang membantai para tertuduh komunis), justru fakta sejarah itu nampak terlalu sulit untuk dapat diterima oleh akal sehat. Nampaknya kenyataan jauh lebih janggal dibandingkan fiksi.

Dalam “Minoritas Etnis Yang Dihapus“, dijelaskan bahwa kehadiran etnis Tionghoa dan budayanya dalam perfilman Indonesia pada Orde Baru dianggap sangat minim. Hampir tidak tampil di layar kaca, sekalinya tampil hanya untuk dijelek-jelekkan. Nampaknya ini merupakan bagian dari upaya pemerintah pada saat itu untuk menanamkan kebencian pada etnis Tionghoa, yang mungkin masih mengakar ke beberapa lapisan masyarakat hingga kini.

Bab “K-Pop dan Asianisasi Kaum Perempuan” justru menjelaskan hal kebalikan dari bab sebelumnya. Berkembangnya budaya pop Asia (baik Korea maupun Mandarin), justru membuat banyak budaya Asia yang jadi lebih bisa diterima oleh masyarakat Indonesia. Secara tidak langsung, mungkin budaya Tionghoa termasuk di dalamnya, meskipun lebih banyak budaya Korea di sini.

Buku ini kemudian ditutup dengan “Dari Layar ke Politik Jalanan“, yang menjelaskan bagaimana tampilan kampanye pada pemerintah Orde Baru tidak ubahnya seperti sinema yang serba diatur. Pemilu yang dilaksanakan tiap 5 tahun nampak seperti ilusi karena hanya menjadi tontonan saja, sekadar menunjukkan ideologi yang unggul pada saat itu.

Demikian ringkasan singkat mengenai buku tersebut. Tentunya ada penulis lain yang membuat ulasan lebih lengkap mengenai buku ini, misalnya Fariz Alniezar, yang tautannya juga terdapat di situs blog pribadi sang penulis.

Buku ini menjadi buku non-fiksi pertama yang saya selesaikan di awal tahun 2019. Awal mulanya saya hanya sekadar meminjam dan iseng membacanya, tetapi ternyata kontennya cukup menarik. Saya juga pernah melihat nama penulis di Twitter. Ternyata beliau adalah penulis yang sangat produktif. Tulisan-tulisannya cukup bikin mikir ulang mengenai perkembangan sosial-budaya-politik di Indonesia. Lumayan bikin merasa tambah pandai, haha. Apalagi di topik-topik yang berkaitan dengan 1965, Tionghoa, dan perfilman di Indonesia.

Nampaknya argumen yang disampaikan dalam buku ini bisa kita aplikasikan terhadap fenomena yang belakangan ini baru terjadi. Misalnya, reuni 212, yang selain karena alasan politik bisa juga dianggap sebagai wujud dari identitas baru yang sedang dicari-cari oleh masyarakat Indonesia. Alasan tumbuhnya, selain karena memang dipupuk oleh politisi tertentu, bisa jadi juga karena adanya rasa ketidakpuasan terhadap situasi atau identitas yang saat ini sudah dimiliki. Fenomena yang serupa juga nampak di negara-negara lain. Nasionalisme yang berlebihan dan politikus right-wing yang banyak mengkapitalisasi isu-isu SARA kembali dominan di berbagai negara.

Ada video pembahasan yang diunggah oleh akun Kepustakaan Populer Gramedia. Silakan ditonton di sini:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s