86, Okky Madasari

Novel adalah karya fiksi, tapi cerita di dalamnya bisa jadi adalah potret atau cerminan dari hal-hal yang memang terjadi di dunia nyata. Beberapa waktu yang lalu, saya selesai membaca novel yang mencerminkan budaya yang umum kita temui di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Novel ini judulnya “86”, karya Okky Madasari, yang bercerita tentang budaya korupsi di Indonesia.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dan sebagainya) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Sepertinya definisi korupsi versi Bahasa Indonesia spesifik mengarah pada penyalahgunaan uang untuk keuntungan pribadi. Kata korupsi berasal dari Bahasa Latin: corruptio. Maknanya: busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok, mencuri, maling. Maknanya bisa jadi lebih luas dibandingkan uang.

Wujud korupsi yang digambarkan dalam novel 86 ini sepertinya lebih erat dengan definisi dari Kamus Besar Bahasa Indonesia. Lebih disorot bahwa semuanya berkaitan dengan uang. Tapi sebenarnya korupsi dalam novel ini bisa punya makna yang lebih luas, yaitu ketika suatu hal berubah menjadi lebih buruk, rusak, tidak lagi sebagaimana mestinya. Misalnya, bila seorang petugas penegak hukum justru malah melakukan pelanggaran hukum, saat itulah sudah terjadi “korupsi” pada identitas yang melekat pada diri mereka.

Cerita novel ini berlatar di Indonesia, persisnya di Jakarta. Tidak disebutkan kapan persisnya pada tahun berapa cerita ini terjadi, tapi mungkin pada tahun yang sama dengan tahun terbit buku ini, sekitar 10 tahun setelah reformasi di Indonesia.

Tokoh utama novel ini adalah Arimbi, seorang juru ketik atau staf panitera di kantor pengadilan. Pada awal cerita, dia digambarkan sebagai orang yang polos dan lugu. Bahkan dia terkesan seperti tidak terlalu paham lingkungan pekerjaannya sendiri. Dia berasal dari kampung dan setelah lulus kuliah, dia melamar menjadi pegawai negeri. Dalam cerita ini, kebetulan dia berhasil lolos tanpa uang sogokan. Selama 4 tahun pertama dia bekerja di pengadilan tersebut, dia benar-benar hanya melakukan tugas sesuai dengan jabatannya, yaitu sebagai juru ketik. Kedua orangtua Arimbi di kampung sangat bangga terhadap anaknya karena anaknya berhasil menjadi pekerja kantoran di Jakarta.

Di bagian kedua cerita ini, Arimbi sudah mulai terlibat dalam perilaku korupsi. Awal mulanya ketika dia diberi AC ketika membantu proses administrasi kasus yang sedang berjalan. Lama-lama dia bukan cuma “kecipratan”, tetapi juga aktif meminta bagian. Dia mulai membandingkan dirinya dengan rekan kerjanya yang nampak sudah lebih sejahtera, terutama bila dia melihat bosnya sendiri. Dia tidak ingin ketinggalan sendiri.

Pada bagian pertengahan cerita ini, istilah “86” yang jadi judul novel ini beberapa kali diucapkan oleh beberapa tokoh, termasuk Arimbi. Dalam penjelasan penulis, mulanya istilah 86 digunakan di institusi lain yang artinya “sudah dibereskan, tahu sama tahu”. Arti lain dari 86 adalah kode untuk “bubar jalan”. Tapi ketika istilah 86 digunakan oleh Arimbi, maknanya sudah dikorupsi menjadi “tanda bahwa berbagai masalah dapat diselesaikan dengan menggunakan uang”.

Lama-lama, Arimbi diminta oleh atasannya untuk membantu memberikan uang suap kepada hakim dalam kasus korupsi. Celakanya, dia disergap oleh penegak hukum dan divonis masuk penjara. Namun ketika dia masuk ke dalam penjara, cerita Arimbi bukanlah cerita tentang perjalanan pertobatan Arimbi. Lembaga pemasyarakatan (Lapas) yang diharapkan dapat merehabilitasi pelaku kejahatan sudah sedemikian korupnya sehingga malah menjadi tempat seseorang menjadi semakin terjerumus dalam kejahatan.

Pada babak ketiga dari novel ini, Arimbi kemudian menjadi pengedar narkoba. Dia dikenalkan dengan seorang bandar narkoba, yang justru lebih senang ada di dalam penjara. Sebab di dalam penjara, semuanya sudah “tahu sama tahu”, atau “86”. Asalkan ada uang, semua masalah beres. Kalau bandar narkoba tersebut ada di luar penjara, dia malah harus sembunyi-sembunyi melakukan aktivitasnya. Untuk mendapatkan uang dari narkoba, Arimbi melibatkan suaminya untuk menjadi kurir. Pada titik ini, Arimbi bukan lagi hanya individu pelaku korupsi, tetapi malah sudah menjadi orang yang mengkorupsi orang lain. Suami Arimbi yang awalnya digambarkan sebagai tokoh yang jujur dan mau bekerja keras, sekarang berubah menjadi orang yang berani menawarkan narkoba kepada anak SMA.

Saya punya beberapa tanggapan mengenai perilaku tokoh-tokoh di novel ini. Saat melakukan hal yang kita anggap salah, umumnya kita akan merasakan kebimbangan. Suara hati kecil kita akan berbisik dan berusaha menghentikan kita. Tapi konflik dalam cerita ini hanya ada antara Arimbi dengan lingkungan di luar dirinya. Ketika lingkungan malah mendorongnya untuk melanggar hukum dia akan segera terpengaruh. Tidak ada konflik internal dalam dirinya sendiri, terkecuali yang muncul sesaat di penghujung cerita. Saat itu Arimbi sudah hamil besar dan dia baru mulai mempertimbangkan apakah tindakannya menyiapkan masa depan anaknya lewat uang narkoba adalah hal yang salah.

Arimbi adalah tokoh yang tidak punya pendirian; lebih banyak diombang-ambing oleh situasi di sekitar dirinya. Entah karena alasan butuh uang untuk pengobatan ibunya, untuk kebutuhan suaminya, untuk membesarkan anaknya, dan seterusnya. Novel ini agak tipis, jadi tidak banyak menjelaskan mengenai latar belakang Arimbi.

Kita tidak pernah tahu Arimbi dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang seperti apa, meskipun dalam beberapa interaksi Arimbi dengan orangtuanya, mereka digambarkan sebagai orangtua yang sederhana dan juga cukup konservatif. Jadi cukup membuat bingung juga, darimana dorongan keserakahan ini timbul? Apakah utamanya karena dia mulai membanding-bandingkan dirinya dengan orang-orang di kantornya? Orangtuanya pun sempat membandingkan Arimbi dengan teman-temannya yang ada di kampung.

Arimbi juga jarang memikirkan konsekuensi dari tindakan yang ia lakukan. Bahkan setelah dia terlibat bisnis narkoba, penulis menceritakan bahwa Arimbi belum banyak menabung, uangnya seringkali habis untuk membeli apapun yang sedang dia inginkan. Sebagai orang yang bekerja di institusi hukum, Arimbi juga tidak memikirkan dampak dari tindakannya bagi lembaga tempat ia bekerja. Kepalanya hanya diisi oleh orang-orang terdekatnya saja. Dunianya cenderung terbatas: orangtuanya, suaminya, atau anaknya.

Sifat-sifat itulah yang membuat perjalanan karakternya terasa kurang menarik karena tidak ada proses perubahan yang ia jalani dengan sadar. Arimbi hanya terjerumus, terpeleset, dan tergelincir semakin dalam ke jurang kejahatan. Semuanya lagi-lagi karena pengaruh lingkungannya. Hingga akhir cerita, dia tidak pernah bertemu dengan tokoh yang cukup kuat untuk membuatnya berubah arah menjadi lebih baik.

Nama Arimbi sebelumnya juga ada dalam kisah wayang Mahabarata. Dalam kisah tersebut, dia adalah ibu dari Gatotkaca. Tadinya saya sempat berpikir, apakah mungkin ada makna tertentu dari pemilihan nama ini. Tapi nampaknya tidak dimaksudkan seperti itu oleh penulis. Sebab dalam kisah Mahabarata, ciri khas tokoh bernama Arimbi adalah kesaktiannya untuk berubah wujud dari raksasa menjadi putri yang cantik. Tokoh Arimbi di novel ini justru tidak mengalami perubahan. Bukan perubahan fisik, tapi maksudnya perubahan karakter menjadi lebih positif. Semakin lama, Arimbi hanya semakin merasa terbiasa dalam melakukan pelanggaran hukum. Ironisnya lagi, karakter Arimbi dalam Mahabarata adalah tokoh yang dikenal jujur dan setia, yang mana kedua hal ini tidak dimiliki oleh Arimbi dalam novel ini.

Karena minimnya perubahan dan perkembangan karakter ini, ending cerita buat saya terasa kurang memuaskan. Tapi di sisi lain ini juga membuat novel ini terasa lebih realistis karena dalam kehidupan nyata orang akan terus melakukan hal-hal yang memberikan keuntungan pribadi bagi dirinya meskipun hal itu salah dan melanggar aturan. Sudah lebih dari 10 tahun sejak novel ini diterbitkan. Tapi jika kita melihat berita kasus korupsi di TV atau situs berita, nampaknya budaya 86 di Indonesia masih cukup kental.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s