Beratnya Hidup Sebagai Atreides Maupun Harkonnen – DUNE (2021)

Pada 3 September 2021, film DUNE, yang merupakan adaptasi dari novelnya, tayang di Venice International Film Festival. Dalam waktu sebulan setelahnya film ini akan tayang di bioskop (US) dan layanan streaming HBO. Saya cukup penasaran dengan adaptasi film yang versi tahun 2021 ini karena saya pernah baca novelnya di tahun 2015. Saya pernah buat juga ulasannya di Goodreads – ini linknya.

DUNE ini ceritanya tentang apa? Hmm… kompleks dan panjang banget. Bahkan novel pertamanya saja sudah rumit, ditambah lagi penulis aslinya melanjutkan ceritanya hingga 6 novel. Tapi ringkasnya cerita di buku pertamanya begini: lebih dari ribuan tahun di masa yang akan datang, umat manusia sudah tersebar di berbagai planet di luar angkasa. Setting utama novel ini adalah tentang perebutan kekuasaan antara House Atreides dan House Harkonnen.

Ini trailer film yang akan segera rilis:

Duke Leto Atreides ditugaskan untuk menjadi penguasa di planet Arrakis, sebuah planet padang pasir yang punya sumber daya alam terpenting di dunia, melange, atau disebut juga “spice” (rempah). Dia sebenarnya tahu bahwa di penugasan ini ada banyak jebakan dan musuh yang menunggunya, terlebih Baron Vladimir Harkonnen yang ingin menguasai segala hal yang dimiliki Leto. Meski demikian, Leto tetap harus menjalankan tugas itu karena dia tidak bisa membantah titah Padishah Emperor Shaddam IV.

Dia pun pindah dari planet asalnya, Caladan (yang isinya lautan), ke planet Arrakis (isinya padang pasir dan planet ini juga dijuluki Dune). Dia membawa serta selirnya, Lady Jessica, dan anaknya, Paul Atreides. Di bagian awal cerita kita banyak mengikuti perjalanan Leto menghadapi intrik politik yang rumit, tapi belakangan lebih fokus ke Paul yang harus menjalani pengasingan di Arrakis.

Lady Jessica adalah anggota sekte Bene Gesserit yang seluruh anggotanya perempuan dan punya kemampuan semi-gaib, sehingga Paul juga mewarisi kemampuan serupa: dia bisa meramal masa depan lewat mimpi. Dalam mimpinya, dia melihat masa depan bahwa dia akan hidup di tengah-tengah Fremen, penduduk lokal di planet Arrakis. Ramalan ini kemudian betul-betul terwujud ketika keluarganya disingkirkan oleh House Harkonnen.

Setelah dua tahun hidup bersama Fremen, kemampuan Paul makin bertambah kuat dan dia dianggap sebagai juru selamat yang selama ini sudah diramalkan. Dia kemudian minum cairan yang beracun bagi laki-laki (biasanya diminum oleh oleh anggota sekte Bene Gesserit) untuk memperkuat kemampuannya, hampir mati, tapi kemudian pulih kembali dan sekarang dia bisa melihat melintasi seluruh ruang dan waktu. Dia menjadi Kwisatz Haderach, sosok sakti yang selama ini juga dinanti-nantikan oleh sekte Bene Gesserit.

Jadi ujungnya Paul Atreides ini jadi sakti banget karena bisa melihat masa depan. Tapi itu juga ternyata konflik baru buat dia, karena dia tahu ada hal-hal yang pasti akan terjadi tapi tidak bisa dia hindari. Misalnya, dia tahu bahwa pasangannya akan mati ketika melahirkan anaknya. Bila kita ada di posisinya, apakah kita akan menghentikan pasangan kita untuk punya anak? Atau dia juga tahu bahwa keberhasilannya dalam perang melawan Harkonnen ini malah akan memicu jihad yang meluas dan menimbulkan kematian trilyunan jiwa di alam semesta. Apakah untuk mencegah perang ini terjadi, sebaiknya dia kalah dalam perang ini dan mati? Nah kira-kira itulah konflik batin yang dialami Paul Atreides.

Baca novel DUNE ini bikin capek. Bukan cuma karena novelnya tebal atau karena intensitas plotnya yang udah diringkas di atas, tapi juga karena gaya narasinya. Berhubung temanya tentang intrik politik, kita dikasih tau apa yang lagi dipikirkan oleh setiap tokoh. Hampir di balik semua hal-hal kecil yang dilakukan, termasuk dari gerakan tangan, ekspresi wajah, atau cara bicara ada muatan rencana, tipu muslihat, curiga dalam hati, menduga-duga orang lain mikir apa, dia udah tau orangnya bohong tapi tetap pura-pura gak tahu, mencoba memancing orang lain lewat gerakan atau kata-kata untuk membuktikan kecurigaan, dan seterusnya.

Kehidupan karakter dalam novel ini sangat intens dan berat, itu sebabnya diceritakan bahwa mereka sudah dilatih sejak kecil untuk siap bertarung secara fisik maupun mental dengan lingkungan sekitar mereka. Bila kita yang orang biasa-biasa aja ini menjalani hidup seperti mereka, kita akan stres atau malah menjadi individu yang bermasalah.

Tapi kenyataannya memang di dunia nyata pun ada orang yang menghayati hidupnya sebagai sebuah perang.

Selalu ada intrik dalam hidupnya, ada kecurigaan, ada dugaan-dugaan, dan dia harus memikirkan cara untuk mengatasi dunia yang hendak memperdaya dirinya. Dia merasa harus selalu bertarung, baik dengan dirinya sendiri atau dengan lingkungan sekitarnya, bisa secara fisik dan juga secara mental. Apakah mungkin dia pikir jika tidak bertarung, dia akan “kalah” dalam permainan kehidupan? Dengan kecenderungan seperti itu, dia bisa merepotkan bukan hanya dirinya sendiri tapi juga berdampak ke lingkungan sekitarnya.

Saya pernah amati ini pula ketika masih menjalani PKPP (Praktek Kerja Profesi Psikologi) di Magister Profesi Psikologi Unpad. Saat itu saya ambil mayoring Klinis Dewasa. Kebanyakan kliennya adalah individu yang sedang mengalami masalah dalam hidupnya, sehingga butuh bantuan tenaga kesehatan mental profesional seperti psikolog. Ada ragam jenis kasusnya, tidak hanya individu yang hidupnya penuh konflik dan agresi seperti contoh di atas. Menghadapi klien dalam konteks Psikologi Klinis tentunya butuh energi dan persiapan ekstra, sebab sesi terapi itu tidak sama dengan sekadar ngobrol-ngobrol seperti dengan teman.

Sama seperti karakter dalam DUNE yang diceritakan sebelumnya, orang-orang yang bermasalah akan terus menciptakan masalah yang baru. Ke manapun mereka pergi, akan kembali muncul masalah (yang biasanya temanya itu-itu lagi): apa yang diucapkan biasa saja oleh orang lain bisa dipersepsikan jadi masalah, orangnya sangat mudah terpelatuk (salah ucap sedikit bisa langsung marah), mudah tersinggung (hampir setiap hari selalu ada isu dengan lingkungan), apa-apa dibuat jadi masalah besar (bila satu hal tidak terjadi seperti yang dia angankan, bisa meledak), dan seterusnya.

Tapi sebenarnya sumber masalahnya ada dalam diri individu itu sendiri. Dengan datang ke psikolog, dia bisa mulai memperbaiki masalah, setidaknya mulai dari dirinya sendiri. Sulit mengharapkan lingkungan atau realita yang beradaptasi dengan kemauan (atau khayalan) di dalam kepala kita. Tentunya tidak mudah mengubah sesuatu yang sudah jadi kebiasaan lama. Itu sebabnya proses terapi ke psikolog memakan waktu yang tidak sebentar. Tidak heran juga jika perjalanan studi menjadi seorang psikolog klinis cukup panjang, karena banyak sekali pertimbangan dan persiapannya.

Kenapa sih individu tersebut bisa jadi kayak begitu? Dalam konteks klinis, tiap kisah individu benar-benar memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Meskipun ada beberapa kesamaan faktor (pengaruh genetik/turunan, pengalaman masa kecil, dukungan dari lingkungan terdekat, dan lain-lain), tapi dinamika pada tiap individu berbeda. Lewat proses terapi bersama psikolog, permasalahan diurai dan individu tersebut pun akan dihadapkan pada dirinya sendiri. Tentunya proses ini akan berjalan dengan lancar jika individu tersebut jujur dengan dirinya sendiri.

Seperti kata Carl Jung, proses terapi dimulai dengan adanya confession, pengakuan bahwa memang ada yang perlu diperbaiki dari diri kita. Penulis novel DUNE adalah penggemar Carl Jung sehingga beberapa konsep-konsep psikologi analitik muncul di novel ini. Ada satu kutipan yang kira-kira parafrase dari Jung mengenai perlunya mengubah diri kita sendiri:

“Without change something sleeps inside us, and seldom awakens. The sleeper must awaken.”

Selama kita masih tidak mengakui bahwa kita ini punya masalah, proses pemulihan tidak bisa terjadi. Jordan B. Peterson, psikolog klinis dari Kanada yang terkenal dengan bukunya “12 Rules for Life“, memaparkan ini juga dalam seri kuliahnya yang dia unggah ke internet. Ini cuplikannya:

Dalam video ini Jordan Peterson juga mengutip Sigmund Freud yang mengatakan bahwa represi (menekan persoalan ke alam bawah sadar hingga kita tidak menyadarinya lagi) adalah penyebab dari kebanyakan jiwa-jiwa yang menderita. Ada juga kutipan dari Alfred Adler, yang mengatakan bahwa ketika kita tidak mengakui bahwa masalah ada, kita menjalani false life. Dia juga mengutip Carl Rogers, yang percaya bahwa komunikasi yang jujur dan tuluslah yang bisa membuat kita berkembang. Poin tentang kejujuran ini juga dibahas dalam buku Jordan Peterson.

Jadi para psikolog ini mengatakan bahwa jujur (setidaknya ke diri sendiri) adalah faktor penting yang bisa jadi pegangan dalam hidup yang lebih sejahtera. Bila kita tidak jujur pada diri sendiri, lama-lama kita tidak bisa lagi membedakan benar dan salah, bahkan mungkin merasa benar ketika melakukan kesalahan. Bisa juga kita akan marah ketika diingatkan bahwa kita salah. Makin sering kita melakukannya dan ditambah lagi bila kita mengelilingi diri kita dengan individu bermasalah, kita melangkah semakin dalam ke hidup yang tidak bahagia.

Oleh karena itu, meskipun tokoh-tokoh dalam novel DUNE ini keren dan kisah hidupnya seperti menarik, sebaiknya kita tidak meniru cara hidup seperti mereka yang penuh masalah, konflik, dan intrik. Cukup kita baca di novel atau tonton lewat film saja 🙂 Sejauh ini review di Rotten Tomatoes dan IMDB cukup baik, semoga saya bisa segera menontonnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s