Rumah Lebah, Ruwi Meita

Ada banyak genre yang menarik ketika kita mau memilih buku bacaan. Salah satu yang selama ini populer adalah genre thriller. Kalau novelnya bagus, aktivitas membacanya jadi seru banget. Ada misteri yang menggantung di sepanjang cerita, ketegangan yang bisa mengancam tokoh utamanya, dan diakhiri dengan babak akhir – biasanya ada plot twist tapi bisa juga nggak.

Untuk buku thriller karya penulis asing, saya pernah baca baca Gillian Flynn (Gone Girl) dan Stephen King (IT, Misery, Gerald’s Game). Sebelumnya juga saya membaca The Silent Patient karya Alex Michaelides, yang saya tulis resensi singkatnya di sini.

Kalau penulis asing, saya pernah baca baca Gillian Flynn (Gone Girl) dan Stephen King (IT, Misery, Gerald’s Game). Sebelumnya juga saya membaca The Silent Patient karya Alex Michaelides, yang saya tulis resensi singkatnya di sini.

Saya baru baca dikit banget novel thriller asal Indonesia. Dulu pernah baca “Pintu Terlarang” karya Sekar Ayu Asmara, yang kemudian diadaptasi jadi film oleh Joko Anwar. Saya suka bukunya, filmnya juga ga kalah seru. Katanya ketika novelnya akan diadaptasi oleh Joko Anwar, Sekar Ayu Asmara tidak membaca skrip yang dibuat oleh Joko Anwar. Tujuannya supaya Joko Anwar bisa melakukan proses adaptasi dengan bebas. Memang bener sih ada beberapa jalan cerita yang digabung dan ada juga jalan cerita baru di filmnya.

Saat baca Pintu Terlarang, saya masih menjalani kuliah di S1 Psikologi. Rasanya waktu itu seru aja bacanya karena ada novel lokal yang karakternya mengidap gangguan yang biasa saya baca dalam buku teks Psikologi Abnormal yang berbahasa Inggris. Di novel Pintu Terlarang, gangguannya adalah Schizophrenia. Dalam berbagai cerita dengan karakter yang punya masalah psikologis, schizophrenia adalah opsi yang menarik karena karakternya mengalami waham dan juga halusinasi. Belum tentu apa yang dialami oleh karakter-karakternya nyata, bisa jadi semua hanya ada dalam pikirannya saja.

Belakangan saya baru menemukan novel thriller lain yang membahas tentang gangguan psikologis juga. Judul novelnya Rumah Lebah, karya Ruwi Meita. Saya baca novel ini di aplikasi Gramedia Digital, yang covernya sudah versi baru (warna kuning dengan wajah anak perempuan dikelilingi oleh lebah). Gambar cover depan ini menurut saya salah satu hal yang bikin saya tertarik buat baca novelnya. Bagus ilustrasinya, tapi sayangnya di dalam bukunya nggak ada ilustrasi lain, padahal ada banyak karakter yang bisa dibuat ilustrasinya supaya lebih tegang bacanya.

Untuk jaga-jaga saja sebelum pembaca membaca lebih lanjut, saya mau bilang dulu bahwa bahasan di bawah ini mengandung SPOILER.

Jika Pintu Terlarang mengangkat tentang schizophrenia, novel Rumah Lebah ini membahas Dissociative Identity Disorder. Istilah populernya kepribadian ganda. Tapi topik ini nggak kita langsung dipaparkan oleh penulis di permulaan cerita.

Sinopsis dan Karakter

Awalnya saya mikir novel ini genrenya horor. Soalnya latar ceritanya dikisahkan di malam hari, dengan kondisi yang serba sepi, gelap, agak mencekam. Salah satu karakter anak di adegan pembukaan ini tiba-tiba ada di atas atap rumah, sambil meracau tentang “teman”-nya (yang tentu saja hanya bisa dilihat oleh dia sendiri). Mala, nama anak tersebut, memang digambarkan agak eksentrik.

Dia bukan hanya punya “teman-teman” dengan nama-nama yang janggal (Satira, Wilis, Tante Ana, Abuela dan si Kembar), dia juga bicara dengan gaya bahasa yang sangat formal. Saking formalnya, kita bisa langsung bedain siapa yang sedang jadi narator atau lagi bicara. Ketika membahas sesuatu, dia juga malah mengeluarkan definisi-definisi dari kamus. Kira-kira gini, misalnya kita bilang “tolong masukin kue ke kulkas”, terus dia jawab “Kulkas adalah lemari pendingin yang menggunakan freon, biasanya digunakan untuk menyimpan bahan makanan agar lebih tahan lama”.

Ada tendensi agak-agak autistik di anak ini, dan dalam beberapa bagian digambarkan bahwa dia “anak istimewa” – istilah yang dipakai oleh ibunya adalah anak indigo. Tapi kemudian konsep ini nggak dieksplorasi lebih lanjut. Yang rada-rada bikin komen “lah kok gitu” sih udah jelas-jelas anaknya aneh tapi malah dibilang jenius sama orangtuanya terus malah home parenting. Ibunya bukan sosok yang meyakinkan buat home parenting, ayahnya juga sibuk kerja. Jadinya kan anak ini malah makin jarang sosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Kejadian di awal novel inilah yang membuat Nawai, ibunya, memindahkan keluarga mereka ke Bukit Putri Tidur. Kenapa pake pindah ke sini ya? Padahal kalo tinggal di tempat terpencil dan “kambuh”, kan jadi lebih susah untuk cari bantuan. Mungkin ini memang memang umum di masyarakat Indonesia. Ketika ada kerabat yang mengalami gangguan psikologis, dia malah dianggap sebagai aib yang bikin malu keluarga dan jadinya harus disembunyikan. Bukan menghadapi dan memperbaiki, tapi dikubur dan dipendam. Tapi jawaban praktisnya ya mungkin supaya jalan ceritanya bisa maju ke babak berikutnya aja – soalnya mayoritas adegannya terjadi di Bukit Putri Tidur.

Tadinya saya pikir Nawai, si tokoh ibu, akan menjadi karakter pendukung saja. Mala yang tokoh utamanya, sebab cover depan novel ini adalah seorang anak perempuan. Tapi ternyata peran Nawai ini jauh lebih besar dibandingkan yang saya duga.

Winaya, sang ayah, adalah eks-jurnalis yang juga seorang penulis novel. Ceritanya nih, novelnya yang sudah laris banget itu akan diadaptasi jadi film. Kebetulan, aktris yang dipilih buat jadi pemeran utama dalam novelnya sedang liburan di vila yang ada di Bukit Putri Tidur juga. Saya jadi merasa peran Winaya ini hanya sebagai alat aja supaya bisa menghubungkan keluarga ini dengan kelompok karakter kedua, Alegra dan Rayhan.

Alegra adalah seorang aktris yang sedang naik daun. Meskipun masih dalam proses diskusi, tapi sebenarnya sudah ditetapkan bahwa dia akan menjadi pemeran utama dalam film adaptasi novelnya Winaya. Tapi sebenernya dia punya beberapa masalah, yaitu diem-diem dia adalah pengidap bulimia dan juga pengguna narkoba. Ini juga salah satu sebabnya dia nempel dengan Rayhan, pengusaha yang bisnisnya dicurigai ilegal, bahkan pernah diinvestigasi oleh Winaya ketika dia masih jadi jurnalis. Jadi dulunya Winaya ini jurnalis investigatif, mungkin kira-kira kayak TEMPO kalo di sini ya.

Selaen 5 karakter utama di atas, ada juga tokoh paparazzi bernama Deni. Dia berusaha memeras Alegra dengan foto-foto yang bisa membuat citranya sebagai wanita sempurna bisa rusak. Ini sebabnya dia juga ada di Bukit Putri Tidur. Ketika tiba di sana, dia melihat wajah lain yang familiar: Nawai. Kenapa familiar? Kapan dia pernah menemui Nawai yang katanya seorang pelukis?

Semua karakter di atas diperkenalkan dalam bagian awal novel. Saya cukup suka bagian awal novel ini. Pengenalan karakternya lumayan lah, tiap tokoh punya keunikan sifat sehingga kita juga cepat mengenal mereka. Transisi dari kota ke Bukit Putri Tidur juga terasa cukup cepat, karena ada time skip sejak peristiwa Mala naik ke atas atap. Deskripsi ruangan di dalam rumah Winaya dan Nawai pun terasa cukup menegangkan, apalagi ketika diceritakan ada ruangan bawah tanah di rumah tersebut yang berisi lukisan Nawai. Rasanya ada misteri yang nanti akan mengejutkan pembaca di penghujung cerita yang berkaitan dengan ruangan itu.

Spoiler: ternyata kejutannya ga ada hubungannya dengan ruangan bawah tanah itu.

Baca novel thriller jadi seru ketika kita merasa clueless dan tegang karena tidak tahu nasib apa yang akan menimpa karakter yang sedang kita baca. Sayangnya novel ini kurang menegangkan buat saya. Rasanya hampir nggak banyak resiko yang dapat menimpa tokoh-tokoh di atas, kecuali terhadap si Alegra mungkin. Tapi karena dia bukan “lebah” yang dimaksud dalam novel ini sehingga saya sebagai pembaca juga nggak terlalu peduli akan apa yang menimpa dia. Saya malah sempat mikir dia akan tewas dan kemudian diinvestigasi oleh Winaya yang mantan wartawan.

Plot twistnya, yaitu bahwa Nawai sebenarnya punya kepribadian lain (yang juga adalah wujud asli dari nama teman-teman khayalan Mala), ngga terlalu mengejutkan. Dari adegan Deni dibunuh udah agak ketebak, soalnya nggak ada lagi karakter lain yang dikenalkan ke pembaca. Mulai dari titik ini, yang saya pikirkan adalah “ah kayaknya pelakunya si Nawai dan dia punya kepribadian lain, ayo cepetan deh ceritanya mungkin ada plot twist lainnya setelah itu“. Terus ternyata sampai ceritanya tamat ngga ada plot twist lagi (sebenernya ada sih, tapi kecil).

Karakter polisi detektifnya juga nggak punya kepribadian yang menarik, padahal sudut pandang mereka itu kan menemani perjalanan pembaca membongkar misteri kematian Deni. Tapi memang ini bukan novel misteri pembunuhan, jadi mungkin nggak terlalu banyak juga upaya untuk mengembangkan tokoh polisinya.

“Analogi” Rumah Lebah

Tadinya saya mikir-mikir, kenapa judul novelnya Rumah Lebah? Ibaratnya seperti lebah, apa istilah ini dipakai karena tokoh utamanya melakukan aktivitas untuk kepentingan orang lain? Jadi kira-kira sama seperti lebah yang bekerja keras mengumpulkan nektar tanaman, tapi hasilnya malah dinikmati oleh orang lain? Tapi ternyata ga ada analogi itu di dalam ceritanya.

Atau mungkin maksudnya ketika Rumah Lebah diusik, maka seluruh “lebah” akan menyerbu siapapun yang mengancam sarang tersebut? Tapi kagak ada juga. Kirain bakal ada suatu ancaman tertentu ke Mala sehingga si penyerang itu diserbu oleh penghuni Rumah Lebah. Taunya nggak.

Petunjuk yang menjelaskan kenapa judulnya Rumah Lebah mungkin ada di kutipan ini:

Ketika seekor ratu lebah menetas dia akan menjerit dengan lengkingan yang kuat. Siapapun lebah betina yang ikut menetas bersamanya menjawab lengkingan itu maka dia telah berbuat kesalahan. Sama saja dia memanggil kematiannya sendiri. Hanya boleh ada satu ekor ratu lebah dan sang ratu akan membunuhi siapa pun saingannya.

Apa maksud paragraf di atas dalam kaitannya dengan cerita ini? Nggak tau, hehe.

Tadinya sempat mikir juga Alegra bakal mengancam keberadaan Nawai sebagai “Ratu Lebah” di rumah tersebut, sehingga dia harus melakukan perlawanan. Tapi ternyata bukan ke sana temanya. Ga ngerti juga sih kenapa harus pake analogi lebah ini karena di dalam ceritanya ngga ngebahas tentang lebah.

Ternyata yang dimaksud dengan “Rumah Lebah” itu ya si Nawai sendiri, yang mana di dalamnya ada banyak penghuni. Ketika si Ratu-nya terancam maka hadirlah “penjaga” agar Rumah Lebah itu tidak hancur. Baiklah. Tadinya saya agak berharap judulnya ini punya makna simbolis yang lebih dalam.

Tentang Kesehatan Mental

Saya cukup suka dengan penggambaran penyakit-penyakit yang ada dalam novel ini. Alegra, pengidap bulimia, misalnya. Pengidap bulimia akan memuntahkan kembali makanan yang sudah dia konsumsi. Karena tidak dicerna, berat badannya tidak akan naik meskipun dia sudah makan. Ini masalah yang cukup banyak dialami oleh model, biasanya karena ingin menjaga citra diri agar tetap tampak sempurna sehingga bisa diterima oleh orang lain. Penulis juga menyebutkan efek samping bulimia, misalnya gigi bagian dalam yang jadi keropos karena terkena asam lambung. Bulimia, atau istilah lengkapnya bulimia nervosa, merupakan penyakit mental terkait makan yang nyata ada di kehidupan kita sehari-hari.

Sewaktu kuliah, salah seorang teman di kampus bercerita bahwa dia pengidap bulimia. Teman seangkatan S1 juga ada yang membuat skripsi tentang penyakit ini dan rupanya dia berhasil mendapatkan responden yang cukup banyak. Sewaktu S2, ada tesis yang menerapkan terapi kognitif untuk menanggulangi hal ini. Saya nggak tahu hasilnya, tapi riset sejauh ini menunjukkan bahwa terapi kognitif adalah penanganan utama yang digunakan untuk gangguan terkait makan seperti bulimia, anorexia, dan sebagainya.

Mala, yang di awal cerita seolah-olah adalah anak dengan kemampuan “istimewa”, sebenernya ya merupakan anak dengan masalah perkembangan. Tendensi autistiknya rada-rada keliatan, mulai dari punya ritual-ritual sendiri yang harus dia patuhi, secara sosial juga nggak komunikatif (ditanya apa jawabnya malah isi kamus, gaya bahasa formal), dan diperparah lagi dengan kondisi dia tidak bersosialisasi dengan anak-anak lain.

Plot twist bahwa Nawai ini mengidap gangguan kepribadian sebenernya nggak terlalu ada ancang-ancangnya. Tiba-tiba saja di bagian akhir ada info dump banyak banget. Kira-kira seolah si penulis berkata, ya pokoknya dulu Nawai tuh waktu kecil pernah begini-begini-begini makanya jadi begitu. Seandainya ada indikasi lain yang ditunjukkan pada awal cerita, mungkin bisa jadi lebih seru. Tapi di awal-awal fokusnya lebih banyak ke Mala.

Bicara soal ibu-anak ini, kelainan yang dialami oleh Mala bisa juga dipengaruhi oleh faktor turunan. Jadi di dalam gangguan psikologis, biasanya para peneliti mempertimbangkan faktor biologis, psikologis, dan sosial. Sama seperti penyakit fisik, bisa jadi gangguan psikologis itu diturunkan oleh orangtua kepada anaknya. Tapi di novel ini jenis gangguannya Mala dan Nawai agak beda, jadi sayangnya nggak ada garis temu antara kedua hal tersebut.

Buku Rumah Lebah Yang Lain

Ternyata ada lagi novel yang judulnya “Rumah Lebah“, penulisnya bernama Dodi Prananda dan novelnya diterbitkan oleh Elex Media Komputindo. Temanya tentang keluarga juga, tapi sepertinya pembacanya belum terlalu banyak (baru ada 18 rating di Goodreads, beda dengan novel karya Ruwi Meita yang sudah lebih dari 480 rating).

Review Lain

Untuk pembanding, saya bagikan juga 3 resensi lain dari sesama pembaca:

[Book Review] Rumah Lebah – Ruwi Meita

REVIEW NOVEL RUMAH LEBAH

Rumah Lebah, Misteri di Balik Kepolosan

Simpulan

Bila diringkas, novel ini cukup menarik buat dibaca terutama di bagian awalnya. Bagian tengahnya kurang seru, dan tiba-tiba di bagian akhir seperti diburu-buru untuk tamat. Plot twistnya ada, tapi udah agak ketebak dari awal. Reviewnya di Goodreads sih cukup positif dan sepertinya banyak yang suka. Untuk novel Indonesia sih menurut saya lumayan, karena saya juga ga punya banyak pembanding. Tapi kalau dibandingkan dengan novel thriller karya penulis luar, kayaknya masih kalah seru.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s