Mendaki Tangga Yang Salah (Barking Up The Wrong Tree), Eric Barker

Banyak anekdot seru yang diceritakan di dalam buku ini, meskipun tidak semuanya “mengejutkan”. Tanpa ditopang narasi yang utuh antar bab dan minimnya wawancara ke narasumber langsung, rasanya saya seperti sedang membaca kliping artikel dan versi panjang dari blog penulis.

Semua manusia menginginkan kesuksesan (berdasarkan definisi suksesnya masing-masing). Tapi apakah sains sudah menemukan rahasia dari kesuksesan? Bagaimana caranya kita bisa merasa lebih sukses? Cara apa yang dapat kita lakukan untuk mengoptimalkannya? Apa saja mitos-mitos kesuksesan yang selama ini kita anggap benar, tetapi sebenarnya keliru? Dalam buku karya Eric Barker ini, kita akan disajikan sejumlah temuan yang dapat membantu kita untuk lebih fokus sehingga kita tidak “mendaki tangga yang salah”.

Eric Barker adalah mantan screenwriter Hollywood dan juga seorang blogger. Mungkin menulis memang merupakan pekerjaan utamanya, karena selain buku ini dan juga blognya, tidak banyak informasi lebih lanjut mengenai penulis ini yang bisa saya temukan di internet. Karena dia bukan seorang scientist, saya tetap menyaring ulang temuan yang dia paparkan di dalam buku ini.

Meskipun saya sudah lama subscribe ke blog Eric Barker di Bakadesuyo.com, baru bulan ini saya mulai membaca bukunya. Kebetulan pada akhir Juli 2020 toko alat tulis Paperclip di Kota Kasablanka sedang diskon sehingga harganya jadi cuma 40rb. Buku ini pemberian dari pacar saya. Sayang juga saat itu saya tidak sempat masuk ke dalam Paperclip untuk berburu diskon buku lainnya, tapi tak apalah.

Dalam buku ini, ada 6 bab yang membahas mengenai persepsi yang umum kita miliki tentang kesuksesan dan bagaimana hasil riset terbaru menunjukkan bahwa persepsi itu keliru.

  1. Agar sukses, apakah kita harus main aman dan ikut aturan? Secara statistik seringkali lulusan terbaik di sekolah jarang menjadi orang kaya atau orang sukses di masa depan. Penyebabnya adalah karena dunia sekolah dan dunia kerja merupakan dunia yang berbeda. Dunia sekolah serba teratur, tetapi dunia kerja serba acak. Orang yang sukses di sekolah mungkin akan lebih sukses bila memilih jalur yang “rapi”, sedangkan mereka yang kreatif dan out-of-the-box bisa lebih sukses menjadi seorang pionir di ranah yang belum pernah dijelajahi orang lain sebelumnya.
  2. Apakah “orang baik” tidak pernah menang duluan? Apakah kita harus berani mengotori tangan kita , seperti halnya bajak laut, mafia, dan pembunuh berantai, untuk menyelesaikan tugas yang diberikan kepada kita?
  3. Do quitters never win and winners don’t quit? Ketika mencapai sukses terasa sedemikian sulit, apakah sebaiknya kita terus berusaha? Atau justru lebih bijak jika kita belajar realistis dan mengganti target yang lebih mungkin untuk diraih?
  4. Bukan persoalan apa yang kamu ketahui, tapi siapa yang kamu ketahui? Seberapa penting faktor koneksi dan kapan kompetensi tetap berkontribusi dalam kesuksesan kita?
  5. (Sesekali) percayalah pada dirimu sendiri. Kapan kita harus (pura-pura) percaya diri dan bagaimana caranya supaya kita nggak delusional mengenai kemampuan diri kita?
  6. Kerja, kerja, kerja… atau work-life balance? Yang mana yang berkontribusi lebih besar buat kesuksesan karir dan mana yang lebih bermanfaat buat hidup kita?

Ringkasan jawaban dari semua poin di atas: yaaa tergantung.

Untuk pembaca yang sudah familiar dengan ilmu sosial, kesimpulan serba ngambang dan butuh konteks lebih lanjut bukanlah hal yang baru. Banyak sekali riset dan pertanyaan-pertanyaan dalam ilmu psikologi yang bisa dirangkum dengan jawaban “tergantung”. Jawabannya memang agak mengecewakan bagi kita yang serba membutuhkan kepastian di dalam hidup.

Ada hal yang saya suka dan kurang suka dari buku ini.

Yang saya suka: buku ini mengacu pada hasil riset yang cukup modern sehingga ada landasan ilmiah di balik premis yang diajukan. Kutipannya juga cukup rapi dan ada daftar referensi di bagian belakang buku ini.

Yang saya kurang suka: buku ini terlalu banyak mengutip. Karena terlalu banyak kutipan yang ada di dalamnya, rasanya saya seperti sedang sekadar membaca kliping saja. Tidak banyak (hampir tidak ada) wawancara yang dilakukan sendiri oleh penulis, mayoritas dari sumber sekunder. Bagian tertentu pun isinya adalah rangkuman dari buku orang lain (yang genrenya juga pengembangan diri, sama seperti buku ini).

Meski demikian, bisa dipahami karena ini adalah versi buku dari artikel-artikel yang sering dia buat di dalam blognya. Jadi mungkin memang gaya menulisnya itu diarahkan untuk menjadi kompilasi dari hasil temuan orang lain.

Anekdot yang diceritakan rasanya terlalu banyak sehingga saya merasa kesulitan untuk tetap fokus dengan topik utama yang sedang dia bahas di tiap babnya. Meskipun ceritanya cukup menarik, tapi saya merasa rasanya seperti mengobrol dengan orang ADHD yang tiba-tiba bisa beralih pada topik pembicaraan baru yang tidak benar-benar berhubungan dengan apa yang semula diperbincangkan.

Awalnya saya berharap buku ini seperti buku Malcolm Gladwell, yang isinya adalah hasil rangkuman wawancara dari berbagai sumber yang dikompilasi menjadi satu cerita yang koheren. Ada keselarasan antara bab pembuka, pertengahan, hingga akhir. Tapi rasanya buku ini tidak ke arah sana. Meski demikian, bukunya tetap terasa menghibur dan bisa dijadikan buku bacaan ringan yang membantu memberikan insight mengenai apa yang dapat kita lakukan untuk merefleksikan perjalanan hidup kita serta lebih fokus untuk “mendaki tangga yang tepat“.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s