Guru-guru Gokil (Netflix Review)

“Di dunia ini, gue paling suka uang, dan yang paling gue ga suka, guru.”

Taat Pribadi

Sinopsis

Setelah gagal mencari uang di kota, Taat Pribadi (Gading Marten) pulang ke rumah Pak Pur, ayahnya yang tinggal di kampung. Taat berusaha mencari kerja dan pada akhirnya dia ditawari bekerja sebagai guru pengganti… di sekolah tempat ayahnya mengajar.

Suatu hari, seberes mengajar, dua orang preman mencuri gaji guru di sekolah tersebut. Meskipun gagal menghentikan pencuri tersebut, Taat tetap berusaha menyelidiki siapa pelaku di balik pencurian tersebut dan mengembalikan uang itu, sembari dibantu oleh sesama guru dan murid-muridnya.

Trailer resmi Guru-guru Gokil (2020)

Saya suka karakter Taat Pribadi yang diperankan oleh Gading Marten di sini. Sifatnya lucu dan sebagai orang yang sudah merantau di kota, dia tampil kontras dibandingkan dengan karakter lain yang lebih sederhana, misalnya pak Nelson Manulang atau bu Rahayu. Setelah membaca lebih lanjut di IMDB, saya baru tahu bahwa Dian Sastro adalah produser film ini. Nama Dian Sastro muncul di trailer dan di awal film ini, tapi ternyata dia tidak menjadi sorotan utama di film ini. Kesan umum yang saya rasakan sih karakter yang dia perankan agak mirip dengan “Oneng” dari seri Bajaj Bajuri.

Saya suka cara film ini membahas mengenai nasib guru yang harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Ada salah satu adegan yang menunjukkan bahwa guru harus saling pinjam uang ketika sedang kesulitan membiayai hidup, begitu juga guru yang merangkap penjual bando ketika harus mencari uang tambahan untuk bertahan hidup. Kesulitan hidup ini (dana BOS telat, harus membayar cicilan, dll) juga yang berpengaruh pada keputusan yang diambil oleh salah satu karakter yang diperankan oleh Asri Welas.

Meskipun judulnya “Guru Guru Gokil”, tapi “Guru Gokil”-nya tidak terlalu menjadi pembahasan utama di film ini. Adegan mengajarnya juga tidak terlalu banyak. Saya bahkan tidak terlalu tahu apakah Taat ini guru Sejarah yang bagus atau tidak. Tidak banyak cerita yang menjelaskan bagaimana hubungan Taat dengan murid-muridnya terbangun, kecuali dengan Ipang (yang juga adalah adik dari bu Rahayu).

Awalnya saya sempat menyangka ini seperti GTO (Great Teacher Onizuka), tapi ternyata tidak. Selain Ipang, fokus film ini benar-benar lebih banyak ke tokoh guru dan tidak terlalu banyak ke murid. Jadi terasa ada yang kurang, karena identitas “guru” tercipta dari keberadaan “murid”. Karena sosok murid kurang dibahas, sosok Taat sebagai guru juga kurang menonjol.

Karena saat ini Indonesia masih berada di dalam periode pandemi, film ini tidak muncul di bioskop tapi langsung di Netflix. Saya kurang tahu dampak dari segi bisnisnya seperti apa, tapi mungkin segmen penontonnya menjadi lebih terbatas. Kira-kira berapa ya Netflix membayar film Indonesia ini? Kalau ternyata lumayan, mungkin akan lebih banyak film Indonesia yang langsung masuk ke layanan streaming seperti ini.

Singkat cerita, saya cukup menikmati film yang hadir di tengah pandemi ini. Sudah cukup lama tidak ada film Indonesia baru yang saya tonton sehingga rasanya cukup menghibur.

Review Lain

Jika ingin mencari rujukan lain, silakan menonton video review berikut ini:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s