Orang-orang Oetimu, Felix K. Nesi

Seberapa banyak pengetahuanmu tentang Timor Timur? (sekarang nama resminya berubah menjadi Timor Leste.

Saya sendiri hanya ingat bahwa pada periode transisi setelah reformasi di tahun 1999, provinsi Timor Timur memerdekakan diri dari Indonesia melalui referendum. Pada saat itu presiden Habibie dikritik oleh banyak pihak, tapi saya belum terlalu memahami bahwa keputusan tersebut cukup kompleks.

Ternyata memang negara bernama Indonesia ini dipersatukan oleh berbagai latar sejarah, tidak semuanya semulus cerita di buku sejarah Orde Baru waktu SMA, yang seolah menyatakan bahwa setelah proklamasi kemerdekaan di tahun 1945, lahirlah Indonesia. Dalam beberapa versi buku sejarah, “Indonesia” dianggap sebagai penjajah yang menduduki wilayah tertentu dan mengklaimnya sebagai bagian dari negaranya.

Pernyataan di atas saya peroleh dari kesan yang saya dapatkan setelah selesai membaca novel Orang-orang Oetimu karya Felix K. Nesi. Penerbitnya Marjin Kiri, di tahun 2019. Tapi novel ini jadi pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2018. Saat itu nampaknya penjuriannya sudah selesai dan kemudian baru diterbitkan. Berikut ringkasan ceritanya:

Oetimu: suatu wilayah kecil di pelosok Nusa Tenggara Timur. Masa itu adalah paruh kedua 1990an, dan kejadian-kejadian di wilayah Indonesia selebihnya mau tak mau berdampak kepada kehidupan sosial orang-orang di kampung yang terpencil itu. Kolonialisme Indonesia di Timor Timur kian disorot dunia internasional, sementara warisan kekerasan antara militer Indonesia dan gerilyawan Fretilin ikut menyebar ke wilayah sekitarnya, demonstrasi menentang Soeharto kian marak di kalangan mahasiswa, dan Brazil berhadap-hadapan dengan Prancis di final Piala Dunia.

Ringkasan cerita Orang-orang Oetimu di cover belakang

Di awal cerita, kita dihadapkan dengan adegan pembunuhan yang terjadi ketika Martin Kabiti diundang oleh Sersan Ipi untuk nonton Piala Dunia oleh Sersan Ipi. Dalam bab-bab berikutnya, kita dibawa ke masa lalu untuk mengenal lebih mendalam latar belakang setiap karakternya mulai dari jaman penjajahan hingga kembali ke titik awal di bab pertama. Lingkaran cerita ini dipersatukan oleh tema mengenai konflik yang dialami oleh “Orang-orang Oetimu”.

Kabarnya buku ini awalnya diberi judul “Duhai Hujan“, tapi kemudian penulis menghilangkan unsur hujan di novel ini dan mengganti judulnya. Alasannya karena novelnya jadi terlalu melodramatis. Ini keputusan yang bagus, karena pada akhirnya novel ini bercerita tentang kekerasan.

Saya tidak dapat membayangkan buku ini mungkin terbit di jaman pemerintahan Orde Baru, karena militer digambarkan sebagai tokoh otoriter yang merasuk ke dalam kehidupan masyarakat. Karakter Sersan Ipi, misalnya, aktivitasnya adalah gebukin orang kalau dia lagi kepingin. Belum tentu ada alasan, bisa hanya karena sedang kesal saja.

Penulisnya, Felix K. Nesi, adalah lulusan jurusan Psikologi Universitas Merdeka Malang dan berasal dari Nusa Tenggara Timur. Jadi yang dia tulis adalah mengenai tempat kelahirannya sendiri. Mungkin hal ini yang membantu memperkuat observasinya mengenai kebiasaan perilaku dan cuplikan sejarah yang pernah terjadi di sana.

Yang terkesan cukup menonjol bagi saya: penulisnya menyampaikan betapa mudahnya nyawa hilang. Hal ini terlihat dari bagaimana suatu adegan meninggal digambarkan dengan sedemikian ringkas. Dalam salah satu adegan, tahu-tahu saja karakternya diceritakan dibunuh dalam satu kalimat. Padahal dalam paragraf sebelumnya diceritakan dia masih baik-baik saja. Sedemikian mudahnya nyawa hilang, saya sampai harus membaca kembali bagian tersebut karena tidak percaya hal itu terjadi.

Secara umum, novel ini akan mengingatkan kita pada novel Eka Kurniawan, misalnya Lelaki Harimau atau O. Judulnya juga agak “mirip” dengan karya Budi Darma yang berjudul Orang-orang Bloomington. Meski demikian, latar Timor Leste ini menjadi keunikan sendiri yang membuat saya menganggap novel ini memang seru dan layak untuk dibaca. Novelnya sendiri tidak terlalu tebal dan dapat kita selesaikan dalam waktu 2-3 hari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s