The Woman in the Window, A.J. Finn

Saya baru selesai baca buku ini dalam waktu kira-kira satu minggu. Tokoh utama yang diangkat di sini adalah seorang psikolog anak di New York yang menderita Agoraphobia bernama Anna Fox. Sebuah trauma membuatnya membatasi hidupnya hanya di dalam apartemennya. Karena dia tidak dapat keluar apartemen, aktivitasnya sepanjang hari adalah mengamati apa yang dilakukan oleh tetangga sekitarnya dengan bantuan kameranya dan minum alkohol.

Pada suatu ketika, ia kedatangan tetangga baru di seberang apartemennya. Dia mulai berkenalan dengan penghuni apartemen tersebut, awalnya dari jarak jauh dan kemudian dikunjungi oleh anak dan wanita dari apartemen seberang tersebut. Keesokan harinya, dari jendela apartemen dia melihat wanita itu dibunuh…

Tapi ceritanya menjadi lebih kompleks lagi karena setelah dia menelpon polisi, ternyata tidak ada yang percaya dengan ceritanya. Karena istri si penghuni rumah masih hidup. Saat dimintai keterangan oleh polisi, dia bertemu dengan sang istri… yang adalah orang yang berbeda dengan orang yang ia temui kemarin. Tapi tidak ada yang percaya dengan ceritanya. Upaya Anna untuk membuktikan bahwa kejadian yang ia lihat benar-benar terjadi merupakan tema utama dari novel ini.

Apakah dia salah lihat, gila, atau halusinasi? Di novel ini kita dihadapkan pada unreliable narrator (si protagonis itu sendiri) yang merupakan seorang alkoholik dan mengkonsumsi obat psikotropika (untuk membantu mengatasi kecemasan) yang berdampak pada pikiran.

Saya baca novel ini karena lihat trailer filmnya yang akan tayang di bulan Mei 2020. Sekarang sudah terlanjur baca novelnya dan tahu plot twist-nya, tapi saya masih tetap akan menonton kalau sudah tayang, siapa tau ada modifikasi.

Trailer Film The Woman in the Window

Terus, novelnya bagus gak?

Menurut saya ini page-turner banget. Setidaknya sampai menjelang klimaksnya lah. Banyak plot twist kecil yang membuat kita masih penasaran dengan apa yang akan segera terjadi di bab berikutnya. Tapi buat yang sudah pernah nonton/baca Gone Girl atau The Girl on the Train mungkin akan merasa ada premis yang sama di sini.

Selain itu novel ini juga slow burn banget alias temponya pelan. Ada bab tertentu yang ga ada konflik apa-apa. Jadi buat beberapa orang yang kurang sabar mungkin bakal banyak skimming dan skip bagian yang kurang menarik ini.

Kalau terkait ending-nya…. mungkin ekspektasinya terlalu tinggi ya, jadi agak jomplang ketika dibandingkan dengan Gone Girl atau The Girl on the Train. Penulisnya lumayan juga berusaha mengikat rapi semua clue yang dibahas di awal supaya tidak ada loose ends. Mengingat ini novel perdana si penulis, ya lumayan lah.

Yang menarik itu jika kita googling profil penulisnya, ya ternyata dia juga penuh intrik dan kontroversi. Ternyata dia banyak berbohong mengenai latar belakang kisah hidupnya supaya terkesan lebih dramatis dan dia sendiri mengaku punya penyakit jiwa Bipolar. Selain itu ada kritikus yang juga menganggap novelnya ini sangat mirip dengan novel lain berjudul Saving April.

Terlepas dari itu semua, novel ini cukup oke lah buat dinikmati sebagai hiburan. Saya kasih 3 dari 5 bintang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s