Gadis Kretek, Ratih Kumala

Kisah drama yang dibalut dalam panggung industri Kretek di Indonesia.

Menjelang akhir hidupnya, seorang juragan perusahaan kretek (Soeraya, julukannya “Pak Raja”) menyebutkan nama seorang wanita (“Jeng Yah”, yang bukan nama istrinya). Ketiga putranya heboh. Siapa Jeng Yah ini? Kenapa kita tidak pernah mendengar nama ini sebelumnya? Untuk mengetahui siapa wanita tersebut, mereka menjelajahi masa lalu sang ayah, khususnya ketika dia baru memulai bisnisnya di kota M.

Sebagai pembaca, kita melangkah ke masa lalu lewat flashback yang dituturkan secara bergantian dengan cerita di masa kini. Perjalanan ini dimulai dari seorang tokoh lain di masa lalu: Idroes Moeria. Dia adalah seorang pekerja di perusahaan kretek yang terus bersaing mantan rekan kerjanya, Soejagad. Mereka bersaing dalam banyak hal, mulai dari persaingan cinta hingga bisnis. Cukup seru mengikuti perjalanan mereka sejak jaman kolonial, penjajahan jepang, revolusi, hingga di era modern.

Singkat cerita karena kekalahan Belanda dan masuknya Jepang, mereka berdua mendapat kesempatan untuk memulai bisnis tembakau. Mereka mulai bersaing membuat beberapa jenis kretek agar lebih sukses dari yang lain. Menarik juga ya, sekilas seperti film The Prestige, yang mana kedua tokohnya saling bersaing untuk jadi yang terbaik. Bedanya The Prestige itu di dunia sulap, ini di dunia kretek. Yang satu lihai, yang satu cerdik. Yang satu inovatif, yang satu adaptif. Persaingan ini terus merembut hingga ke perebutan pasangan, hingga turun ke generasi berikutnya.

Tokoh Soeraya, si juragan kretek yang pada awal cerita dikisahkan sudah pada usia tua, baru muncul kembali ketika penulis mengisahkan bahwa Idroes memiliki 2 orang putri. Salah satunya bernama Dasiyah. Jeng Yah, panggilan Dasiyah, adalah tokoh yang saya rasa karakternya paling menarik dalam novel ini.

Buat saya kisah flashback dalam novel ini lebih menarik dibandingkan dengan kisah yang di masa kini. Mungkin karena lebih banyak konteks Indonesianya ya. Perubahan besar (kedatangan Jepang, kemerdekaan Indonesia, G30S) yang biasa kita baca dalam buku sejarah, kini dikisahkan dari perspektif orang-orang biasa. Pelajaran singkat tentang metode marketing juga bisa kita pelajari di sini, dari bagaimana kedua pengusaha menamai merk rokoknya (“Merdeka!” pada awal masa kemerdekaan, “Kretek Gadis” ketika dibuat oleh Dasiyah, dan seterusnya).

Pada beberapa bagian, rasanya seperti membaca sejarah kretek dan industrinya. Saya tidak pernah merokok dan tidak tertarik merokok, juga nggak pernah ngerti apa nikmatnya merokok. Jadi saya nggak terlalu familiar dengan dunianya. Tapi penuturan penulis ini rapi dan membantu kita untuk memahami tentang tembakau. Beberapa istilah yang digunakan sejak dulu membuat kita sedikit lebih memahami bagaimana kretek menjadi suatu industri yang besar di Indonesia. Istilah lama seperti “klobot” (kulit jagung yang menjadi bungkus dari kretek) juga membuat novel ini lebih punya konteks.

Tapi di beberapa bagian rasanya seolah-olah ada eksposisi tiba-tiba di-drop saja secara mendadak. Tiba-tiba banyak informasi yang disampaikan kepada pembaca, seolah diburu-buru agar ceritanya bisa cepat maju. Saya jadi merasa bahwa di beberapa bagian sepertinya ceritanya bisa dibuat lebih matang dan juga lebih panjang.

Di atas saya mengatakan bahwa karakter yang paling saya sukai adalah Dasiyah. Bukan cuma karena karakternya kuat, tetapi juga karena tokoh yang lain seperti tidak memiliki karakter yang jelas dan berkontribusi terhadap jalan cerita. Ketiga putra Soeraya rasanya seperti tidak punya keunikan, dan bahkan mungkin bisa diringkas hanya jadi 2 orang saja. Fungsi mereka lebih hanya sebagai membantu eksposisi cerita saja, sekadar supaya jalan ceritanya bisa maju.

Ngomong-ngomong, pengkhianatan Soeraja di penghujung novel ini nyebelin banget. Pantas penyesalannya sampai terus di bawa hingga ujung hayat.

Ulasan Lain

Selain ulasan pribadi saya di atas, berikut adalah 5 ulasan Gadis Kretek lainnya yang juga sudah saya baca dan cukup saya sukai pembahasannya.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Gadis Kretek, Ratih Kumala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s