30

DSCF0025.JPG
Ilustrasi adegan saat mengetik post ini.

Hari ini saya berusia 30 tahun.

Gak terasa sudah berlalu satu tahun sejak saya menulis renungan di usia 29. Selama jeda satu tahun itu, saya sudah membuat tulisan di blog ini sebanyak… SATU.

Itu pun resensi buku.

Tapi bukan berarti bahwa yang saya lakukan sepanjang satu tahun itu hanya membaca satu buah buku itu saja. Ada cukup banyak hal-hal yang saya lakukan, dan saya akan coba bandingkan kembali apakah tindakan-tindakan itu masih cukup sejalan dengan yang saya tulis setahun yang lalu.

Apakah turning thirty ini harus menjadi suatu urusan besar? Jadi milestone penting dalam hidup gitu? Semacam krisis psikologis dalam tahapan perkembangan? Mungkin iya, mungkin nggak. Bisa jadi penting buat saya, tapi buat orang lain biasa saja.

Dalam beberapa hal, rupanya masih ada kesamaan antara diri saya setahun yang lalu dan saat ini. Bagus juga. Ada konsistensi. Ini bahkan bisa dilihat dari kalimat pembuka post yang mirip banget.

Ini tahun terakhir saya bisa mengatakan saya berumur 20an, soalnya tahun depan saya sudah kepala 3.

Apakah harus dihayati sebagai sesuatu yang penting?

Mungkin nggak juga.

Banyak ke-“harus”-an dalam hidup ini sebenarnya kita buat-buat sendiri dan ujungnya merepotkan diri sendiri juga. Tapi memang ada rasa-rasa cemas karena semakin sulit menghindar dari kenyataan sekarang sudah tua harusnya sudah dewasa.

Mirip kan.

Gawatnya, saya juga nulis kayak gini:

Kalau ingat dulu belajar Psikologi Perkembangan dan Psikologi Kepribadian, sesudah umur 30 kita lebih sulit berubah dan resisten menerima pelajaran-pelajaran (hidup) yang baru.

Apa iya ya?

Nah, tujuan post kali ini adalah membandingkan apa yang dulu saya renungkan dan apa yang kemudian saya lakukan dalam rentang waktu setahun tersebut.

Kalau misalnya mau baca tulisan lama saya yang berjudul “29“, silakan diklik saja. Saya terkesan bijak juga sih kalau dilihat dari tulisan itu. Tulisan kali ini nggak akan sepanjang tulisan tahun lalu.

Yuk, mulai aja.

Beberapa poin yang saya tuliskan setahun yang lalu:

Kita bisa saja terus melakukan pembelaan dan pembenaran diri atas keengganan untuk keluar dari zona nyaman. Seolah kita punya falsafah: “hidup mengalir saja bagai air”; hati pun terasa lebih tenang karena merasa sudah punya alasan. Tapi lama-lama kita akan terhanyut dan lupa kalau air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah.

Hmm.

Apaan coba maksudnya nulis kayak gini? Apakah saya sedang mencoba menyemangati diri sendiri, sedang passive-aggressive ke orang lain, atau memang larut dalam perenungan filosofis yang mendalam?

Jawabannya: UDAH LUPA.

Kayaknya memang benar bahwa hal-hal yang pada suatu ketika kita anggap besar dan signifikan, mungkin akan jadi sepele dan nggak lagi ada di pikiran kita dalam jangka panjang. Taunya nggak penting-penting amat. Rupanya tidak semua masalah benar-benar separah yang kita bayangkan.

Pada saat menghadapi persoalan baru, apalagi kalau regulasi emosi kita kurang optimal, bagian otak yang mengolah masalah tersebut ternyata cukup rentan terhadap bias kognitif (kalau pakai istilahnya pak Kahneman di buku Thinking, Fast and Slow, ini System 1). Pada saat kita tinjau kembali masalahnya di kemudian hari, kita bisa lebih objektif dalam melakukan penilaian.

Balik ke kutipan di atas, kalau saya merenung sambil membandingkan dengan situasi saya saat ini, saya cukup puas. Saya yakin bahwa saya tidak sekedar “mengalir” dalam menjalani hidup.

Ada beberapa hal baru yang saya coba. Ada resiko yang saya ambil. Ada yang membuahkan hasil positif, ada yang tidak. Tapi saya yakin bahwa saya akan lebih menyesal semisalnya saya tidak mencoba hal-hal tersebut. Soalnya kalau tidak mencoba, maka saya tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk belajar.

WhatsApp Image 2018-08-25 at 21.30.39.jpeg
Salah satu hal baru yang dicoba: belajar fotografi. Belum jago.

Ok. Poin berikutnya.

Saat seseorang menganggap diri kita sudah tidak bisa memberi manfaat bagi dirinya, sikapnya terhadap kita menunjukkan kualitas diri dan sifat aslinya. Kalaupun ternyata sifatnya tidak sesuai harapan kita, jangan biarkan kualitas diri kita ikut terpengaruh ke arah yang negatif. Biarlah kita bersyukur karena berkesempatan untuk melihat isi hati orang tersebut.

Yang ini beneran beruntung banget karena saya bisa kembali mengamati situasi seperti ini. Tambahan untuk poin ini: usia, latar belakang pendidikan, dan jabatan rupanya memang bukan patokan kedewasaan seseorang. Orang yang sudah jauh lebih tua, lebih terdidik, dan lebih berpengalaman dari kita pun bisa menunjukkan kualitas diri yang tidak diharapkan.

Ini malah ada momen yang bikin saya mikir, “OK, saya nggak mau jadi orang yang seperti itu”.

Menilai orang lain benar/salah, baik/buruk, atau bagus/jelek itu menyenangkan, apalagi kalau kita merasa punya alat, kemampuan, dan jabatan untuk melakukannya. Mungkin secara tidak sadar, kita merasa lebih tinggi dari orang lain karena bisa menjadi hakim bagi sesama manusia. Tapi hal ini bisa membutakan mata kita, sebab kita lupa bahwa kita sendiri juga sama-sama manusia yang punya kelemahan dan bisa berbuat kesalahan.

Poin yang ini ternyata agak… susah. Ya memang susah sih. Apalagi kalau kita berada dalam posisi yang cukup punya “kuasa” untuk menilai orang lain.

Terkadang habis mengucapkan suatu hal atau mengambil suatu keputusan, saya jadi kepikiran “wow, I’m being such a judgmental person”. 

Apakah menilai seseorang itu nggak boleh?

Dalam situasi tertentu, justru malah kita perlu melakukannya. Hanya saja metode menilainya juga sebaiknya bisa dipertanggungjawabkan.

Ada bagusnya juga saya cantumkan kembali di atas sebagai pengingat bagi diri sendiri.

Saat kita merasa orang lain tidak memahami diri kita, berhenti dan renungkan kembali: apakah kita sudah benar-benar berusaha membuat diri kita mudah untuk dipahami orang lain?

Kayaknya sampai sekarang saya masih menjadi pribadi yang sulit dipahami oleh orang lain. Tapi setidaknya saya sudah lebih mudah memahami diri saya sendiri sebagai pribadi yang sulit dipahami, hahaha.

Nggak semua perbandingan antar poin akan saya tulis di sini. Ntar jadi kepanjangan.

Sekarang, di usia 30 ini mau ngapain? Apa yang mau dicapai?

Untuk menjawab pertanyaan itu, biasanya saya mencari benchmarking dari orang lain. Meskipun tahu membanding-bandingkan diri dengan orang lain adalah tindakan yang kurang sehat secara psikologis, namun saya tetap melakukannya untuk memudahkan menjelaskan konteks diri saya kepada orang lain. Tapi kadang-kadang penjelasannya malah membuat orang lain tambah sulit untuk memahami. Gak apa-apa lah.

Jadi gini. Ada tokoh yang cukup terkenal dalam bidang Psikologi, terutama di bidang Psikologi Perkembangan. Nama beliau adalah Vygotsky, dari Rusia.

Ada pembahasan yang sangat menarik dalam artikel mbak Ester ini.

Di situ dibahas bahwa ia adalah seorang pemikir besar, tetapi kurang menonjol karena ia cenderung dibahas hanya sebagai kritik terhadap teori tokoh lain yang lebih banyak diterima oleh masyarakat (yaitu Jean Piaget).

Ini parafrase dari kalimat yang saya suka di artikel di atas: “ia seolah hanya menjadi ‘dekorasi’ bagi tokoh lain tersebut“.

Wah ini mengena banget.

Kita hidup menjadi diri kita sendiri, bukan sekadar menjadi pelengkap bagi orang lain.

Nah, tulisan ini mau segera ditutup saja karena sudah lebih dari 1000 kata.

Poin yang ingin saya raih mulai dari titik ini adalah lebih fokus pada target yang spesifik. Di usia segini, kayaknya sudah nggak bisa lagi terlalu banyak bermimpi ini-itu yang melebar ke berbagai area kehidupan. Akhirnya malah nggak ada yang tercapai.  Entah karena waktunya habis, nggak fokus, atau malah keasikan mimpi doang.

Video motivasi dari Deddy Corbuzier ini lebih cocok buat menjelaskan hal itu. Selamat menonton.

 

Iklan

5 tanggapan untuk “30

  1. Hai Agoes, sebelumnya saya ucapkan selamat ulang tahun ya. Selamat memasuki dan menikmati ribuan hari mendatang sebelum bertambah lagi angka ‘kepala’ usia kamu 🙂

    Terima kasih sudah link tulisan saya dengan tulisan kamu ini. Tulisan yang sarat dengan renungan ; khususnya saya setuju sekali dengan kalimat kamu yang terakhir :

    Poin yang ingin saya raih mulai dari titik ini adalah lebih fokus pada target yang spesifik. Di usia segini, kayaknya sudah nggak bisa lagi terlalu banyak bermimpi ini-itu yang melebar ke berbagai area kehidupan. Akhirnya malah nggak ada yang tercapai. Entah karena waktunya habis, nggak fokus, atau malah keasikan mimpi doang.

    Selamat memasuki kepala tiga dan selamat mewujudkan impian mu (yang sudah spesifik ^.^)

    Salam,
    Ester

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s