29

Ini tahun terakhir saya bisa mengatakan saya berumur 20an, soalnya tahun depan saya sudah kepala 3.

Apakah harus dihayati sebagai sesuatu yang penting?

Mungkin nggak juga.

Banyak ke-“harus”-an dalam hidup ini sebenarnya kita buat-buat sendiri dan ujungnya merepotkan diri sendiri juga. Tapi memang ada rasa-rasa cemas karena semakin sulit menghindar dari kenyataan sekarang sudah tua harusnya sudah dewasa.

Karena niatnya tulisan ini tentang renungan, bolehlah saya pinjam kalimat dari seorang filsuf, Kierkegaard namanya. Kira-kira dia bilang gini: Hidup ini kita hanya bisa kita jalani dengan melihat ke depan, tapi makna hidup hanya bisa dipahami dengan melihat ke belakang.

Tahun ini masih menjadi tahun yang banyak mengandung perubahan dalam hidup saya. Banyak keputusan yang membuat saya mengalami perubahan. Ada harapan-harapan yang tidak terwujud, tapi ada juga ada pintu kesempatan baru yang terbuka.

Hal-hal tersebut berdampak dalam hal karir, relationship, gaya hidup, prioritas, dan lainnya. Katanya tahun-tahun yang kita jalani di usia 20an banyak memberi definisi pada hidup yang kita jalani nantinya.

Kalau ingat dulu belajar Psikologi Perkembangan dan Psikologi Kepribadian, sesudah umur 30 kita lebih sulit berubah dan resisten menerima pelajaran-pelajaran (hidup) yang baru.

Mungkin itu karena kita sudah merasa cukup pintar atau merasa sudah nyaman dengan pencapaian yang kita peroleh. Kita jadi tidak mau berubah lagi dan sulit menerima pendapat yang beda, sebab jika kita berubah lagi, itu artinya kita-yang-dulu telah melakukan kesalahan sampai-sampai harus ada revisi. Siapa juga sih yang suka diingatkan bahwa dia telah melakukan kesalahan?

Waktu saya memasuki umur 19, mungkin saya juga cemas menyambut usia 20. Entahlah, sudah lupa. Mudah-mudahan saat saya usia 39, saya masih ingat dengan pelajaran hidup yang saya terima hingga usia 29.

Kalaupun sudah lupa, mudah-mudahan tulisan ini masih ada. Jadi kalau saya-di-masa-depan masih butuh saya-di-momen-ini, ada beberapa poin-poin telah dituliskan dan bisa jadi bahan renungan ulang.

Poin-poin di bawah ini dibuat saat saya berusia 29, berdasarkan pengalaman-pengalaman hidup yang masih berkesan. Kalau saya tulis di usia 30, mungkin perspektifnya sudah berbeda lagi (dan kesannya -mendadak- udah tua aja gitu).

Ini poin-poinnya:

  • Kita bisa saja terus melakukan pembelaan dan pembenaran diri atas keengganan untuk keluar dari zona nyaman. Seolah kita punya falsafah: “hidup mengalir saja bagai air“; hati pun terasa lebih tenang karena merasa sudah punya alasan. Tapi lama-lama kita akan terhanyut dan lupa kalau air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah.
  • Saat seseorang menganggap diri kita sudah tidak bisa memberi manfaat bagi dirinya, sikapnya terhadap kita menunjukkan kualitas diri dan sifat aslinya. Kalaupun ternyata sifatnya tidak sesuai harapan kita, jangan biarkan kualitas diri kita ikut terpengaruh ke arah yang negatif. Biarlah kita bersyukur karena berkesempatan untuk melihat isi hati orang tersebut.
  • Hargai diri sendiri dengan lebih banyak memberi ruang bagi mereka yang memang mau mengapresiasi usaha-usaha yang telah kita lakukan. Seperti yang diajarkan dahulu oleh seorang guru: “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.
  • Orang lain menghayati masalah hidupnya dengan membawa pengalaman hidup yang pernah ia hayati. Saat kita mengalami masalah yang sama, mungkin kita merasa masalahnya sepele karena pengalaman hidup kita berbeda. Biarpun ternyata masalahnya memang betulan sepele, penghayatan derita orang tersebut tetap nyata. Mungkin bukan dia yang lebay, tapi kita yang kurang berusaha memahami penghayatan dirinya.
  • Menilai orang lain benar/salah, baik/buruk, atau bagus/jelek itu menyenangkan, apalagi kalau kita merasa punya alat, kemampuan, dan jabatan untuk melakukannya. Mungkin secara tidak sadar, kita merasa lebih tinggi dari orang lain karena bisa menjadi hakim bagi sesama manusia. Tapi hal ini bisa membutakan mata kita, sebab kita lupa bahwa kita sendiri juga sama-sama manusia yang punya kelemahan dan bisa berbuat kesalahan.
  • Saat kita merasa orang lain tidak memahami diri kita, berhenti dan renungkan kembali: apakah kita sudah benar-benar berusaha membuat diri kita mudah untuk dipahami orang lain?
  • Prinsip di atas berlaku juga untuk hal-hal lainnya: jika kita merasa orang lain menjaga jarak dengan kita, apakah kita telah membuat diri kita mudah untuk didekati? Saat kita merasa orang lain tidak menyayangi kita, apakah kita sudah menjadikan diri kita mudah untuk disayangi? Relationships are a two-way street, kita turut punya kontribusi di dalamnya.

Bagian di bawah ini untuk ditulis untuk dicek kembali secara berkala.

Per tahun ini, sudah lebih dari 4 tahun tidak ada Mami. Terkadang masih merasa sedih, apalagi kalau lihat teman-teman yang masih punya ibu sebagai tempat bertanya dan mengadu. Mungkin memang pembawaan sebagai anak bungsu yang dimanja masih sulit saya lepaskan dari identitas diri.

Kata sejumlah pakar psikoanalisis, kehilangan ibu adalah perasaan kehilangan yang tidak akan tergantikan. Maaf ya (untuk pembaca, dan juga saya-di-masa-depan), bagian ini jadinya agak melankolis.

Tapi lebih sedih lagi saat lihat mereka yang kedua orangtuanya masih lengkap dan sehat namun hubungannya tidak bagus. Bukannya menjadi tempat yang aman, namun menjadi sumber emosi-emosi negatif, baik yang terpendam maupun diungkapkan.

Soalnya gini: ada perasaan gelisah dan geregetan saat melihat orang lain memiliki sesuatu yang saya tidak punya dan saya inginkan tetapi malah tidak mereka kelola dengan baik. Mungkin saya masih perlu belajar lebih banyak tentang menerima kenyataan.

Banyak yang mengatakan doa orangtua itu tulus. Sekiranya Mami masih hidup, apakah yang akan dia doakan dan harapkan saat saya berulang tahun? Berhubung Mami sudah tidak ada, saya tak akan pernah tahu. Tapi setidaknya saya tahu apa harapan saya sendiri:

  • Dalam keluarga, kita berkesempatan menghayati ada lingkungan yang mau memberi perhatian dan mengurus kita meskipun mungkin kita juga kurang perhatian pada diri sendiri. Seiring bertambah usia, tuntutan hidup semakin banyak dan kita juga harus lebih mandiri, karena orang lain tidak harus bertanggungjawab atas diri kita. Semoga saya menjadi lebih mampu mengelola diri dan juga bertanggungjawab pada diri sendiri (lebih disiplin dan tepat waktu).
  • Saat kita melihat orang lain melukai orang yang kita sayangi, tentunya kita tidak akan tinggal diam. Tapi bagaimana semisalnya baik orang yang dilukai dan melukai itu adalah kita sendiri? Kadang kita sedemikian keras pada diri sendiri, sampai-sampai kita lupa bahwa perlakuan kita pada diri sendiri pun tidak baik (dan tanpa sadar, kemudian kita terapkan saat memperlakukan orang lain). Semoga saya bisa lebih menyayangi diri sendiri sehingga lebih peduli dan mau bergerak untuk mengobati diri sendiri, agar kelak bisa membangun relasi yang lebih positif dengan orang lain.
  • Sehat ternyata benar-benar sesuatu yang langka dan harganya mahal. Banyak teman seusia (bahkan yang lebih muda) sudah sakit-sakitan. Entah diabetes, kolestrol, darah tinggi, dan penyakit orangtua lainnya. Di tempat domisili saat ini makanannya tidak selalu sehat, tapi setidaknya sudah ditanggulangi dengan membiasakan diri untuk memasak makanan sendiri di kost. Semoga ke depannya saya bisa lebih rutin memasak dan juga olahraga, sehingga bisa lebih menjaga kesehatan.
  • Jadi pengamat dan pendengar itu menyenangkan, tapi sebenarnya tidak terlalu bermanfaat untuk pengembangan diri yang nyata. Berteori menyenangkan karena membuat kita merasa bisa menjelaskan masalah. Hanya saja, seringkali masalah tidak selesai hanya dengan dijelaskan, namun butuh juga tindakan nyata. Semoga saya lebih memiliki keberanian untuk ikut jadi partisipan dan mengambil tindakan-tindakan yang nyata.
  • Cuap-cuap ala “Psikologi Untuk Anda (Bukan Untuk Saya)” sangatlah memuaskan ego pribadi. Kita seolah merupakan orang yang paling tahu resep hidup bahagia dan berasa sudah paling benar hidupnya. Tapi juga bisa membuat kita lupa bahwa diri kita juga harus terus dibenahi. Semoga saya terus ingat untuk menerapkan nasehat pada diri sendiri terlebih dahulu sebelum merasa mampu menasehati orang lain.
  • Bekerja akan menghabiskan porsi waktu yang besar ketika kita berada di usia produktif. Tapi apakah kita benar-benar bisa menjawab ketika ditanya apa tujuan kita bekerja? Apakah jawabannya akan memuaskan, mengecewakan, atau malah membuat bingung diri kita sendiri? Semoga saya bisa menemukan jawaban atas pertanyaan ini, sehingga pekerjaan yang saya lakukan bisa lebih memiliki makna.

Harapan-harapan yang lebih kecil dan biasanya saya tulis sudah tidak saya tuliskan lagi. Ada yang karena sudah tercapai (lebih rutin membaca, belajar memasak, belajar main musik), tapi ada juga yang perlu ditunda hingga hal-hal yang lebih mendasar membuat saya lebih siap untuk mencapainya.

Harapan-harapan di atas juga tidak terlalu spesifik, karena semuanya bersifat subjektif. Saya masih belum tahu saya-di-masa-depan akan merasa puas dengan pencapaian yang seperti apa. Tapi semoga saat tulisan ini saya baca kembali kelak, saya lebih banyak menghayati pencapaian dibandingkan rasa capek belaka.

Iklan

3 tanggapan untuk “29

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s