Buku Yang Dibaca Bulan Januari 2016

Tahun lalu saya berhasil menyelesaikan 2015 Reading Challenge di situs Goodreads. Secara keseluruhan, saya membaca 52 buku di tahun lalu. Tapi karena kesibukan (dan juga malas?), saya tidak sempat membuat resensi dari buku yang saya baca. Memang ada sih beberapa komentar singkat setelah membaca yang saya tuliskan di situs Goodreads, tapi tidak semuanya sempat saya tulis. Ada buku yang sangaaaat menarik, tapi saya tidak sempat menulis ulasannya. Sewaktu sudah punya waktu, eh sudah lupa apa yang mau ditulis. Ditambah lagi semakin lama menunda, saya semakin merasa malas untuk menulis. Oleh karena itu, tahun ini (targetnya sama, membaca 52 buku tiap minggu) saya akan mencoba untuk membuat rekap bulanan dari buku yang sudah dibaca.

Kalau pake kutipan dari penulis besar Pramoedya Ananta Toer: “selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam sejarah. […] menulis adalah bekerja untuk keabadian“. Apa yang tidak ditulis akan hilang. Jadi mudah-mudahan upaya menulis ulasan bulanan di blog ini bisa membuat saya lebih ingat apa yang telah saya baca, sekaligus juga membantu orang-orang yang sedang mencari buku bacaan yang menarik.

Bacaan Bulan Januari 2016

Ada empat buku yang saya baca: Modern Romance (Aziz Ansari), Do Android Dream of Electric Sheep? (Philip K. Dick), Creatures of a Day (Irvin D. Yalom), Menakar Jiwa Teroris (Sarlito W. Sarwono). Bulan ini bacaannya menarik, dan secara umum ada banyak relevansinya dengan ilmu psikologi 🙂

Isi buku Modern Romance adalah analisis Aziz Ansari tentang lika-liku hubungan antar pasangan di era modern. Menurut pengakuannya, dia menulis buku ini karena pengalaman pribadi mengirim pesan via smartphone dan gelisah karena tidak langsung dibalas. Sekarang tambah parah lagi, karena kita bisa tahu orang yang kita kirim pesan sebenarnya sudah membaca tapi tidak membalas pesan kita. Kenapa bisa begitu? Apa memang harus ribet begini?

Nah, untuk menjawab kebingungan yang dia alami, dia bekerjasama dengan sosiolog dan menelusuri sejarah perkembangan romantic relationships. Ternyata orang jaman dulu jauh lebih simpel dalam menetapkan hubungan (seringkali ya hanya karena kebetulan rumahnya deket, gerejanya barengan, dan sebagainya). Peran internet yang memberikan kita arus informasi yang lebih banyak pun membuat orang kebingungan dalam memilih pasangan, sebab kita tahu akan selalu ada banyak pilihan yang lebih baik (berbeda dengan orang jaman dulu yang hanya mengetahui sedikit pilihan dan akhirnya komit pada pilihan tersebut).  Dia pun mengunjungi beberapa negara untuk melakukan studi lintas budaya mengenai persepsi warga negara tersebut mengenai bagaimana cara menjalin romantic relationship. Tentu saja orang di Perancis, Jepang, dan Arab semuanya punya persepsi yang sangat berbeda.

Meskipun buku ini ditulis oleh stand-up comedian, tapi kontennya cukup menarik juga, apalagi kalau kita bayangkan setiap kalimatnya disampaikan oleh Aziz Ansari sendiri. Terkadang ada bagian yang lucu, tapi secara umum kontennya cukup ilmiah. Apabila kita pernah belajar tentang hubungan interpersonal dalam kuliah Psikologi Sosial, nampaknya buku ini bisa meng-update wawasan kita karena dia banyak menganalisis peran internet terhadap perilaku kita pada lawan/sesama jenis.

Do Android Dream of Electric Sheep ini keren banget, karena jalan ceritanya yang bener-bener ‘kok bisa kepikiran ya?‘. Ceritanya di masa depan, manusia sudah pindah ke Mars dan planet Bumi sudah kena radiasi akibat perang dunia. Yang tinggal di planet Bumi hanya mereka yang sudah terkena radiasi, sedangkan yang di Mars menggunakan Android sebagai budak untuk kerja rodi. Tokoh utama kita adalah seorang bounty hunter yang bertugas menghabisi Android yang kabur ke bumi untuk lari dari perbudakan.

Mengapa Android tersebut harus dihabisi? Alasannya karena Android tidak punya empati… dikhawatirkan mereka akan membunuh manusia apabila dianggap tidak diperlukan lagi. Tapi manusia pun seringkali tidak punya empati. Begitu juga seorang Android di novel ini bertanya, kalau manusia membunuhi android tanpa ampun, bukankah itu juga tanda nihilnya empati? Jadi novel ini banyak membahas tentang ‘apa sih yang membuat kita pantas disebut manusia?’. Nuansa paranoid pun sangat kental, karena kita terus dibuat ragu mengenai siapa yang manusia dan siapa yang android. 

Oh ya, penulis novel ini sebenarnya mengidap gangguan jiwa, dia menjadi schizophrenia (mungkin karena suka menggunakan narkoba?) sehingga keparnoan dalam novel ini benar-benar dalem banget penghayatannya. Hebat betul ya seorang yang mengidap schizophrenia bisa menjadi penulis novel yang produktif.

Creatures of a Day isinya adalah kasus klien yang pernah ditangani oleh Irvin Yalom dengan pendekatan eksistensial. Temanya semua sama: bagaimana menghadapi kematian. Ini buku yang sangat menarik untuk dibaca oleh mereka yang menggeluti profesi psikologi, khususnya psikologi klinis. Kasusnya sangat unik dan banyak insight yang bisa diperoleh dari pembahasan yang tertulis di buku ini. Sebagai seorang psikolog senior, nampaknya Irvin Yalom pun berusaha untuk mengatasi kecemasannya dalam menghadapi kematian dengan cara produktif menulis buku yang berkaitan dengan tema kematian. 

Buku Menakar Jiwa Teroris berisi pembahasan mengenai gambaran pribadi teroris yang mengikuti program deradikalisasi, yang prosesnya ditangani oleh prof. Sarlito dan tim. Salah satu metode yang digunakan untuk mendalami kepribadian mereka adalah tes CHaD, yang merupakan tes proyeksi ciptaan Roselina Davido. Bukunya tidak terlalu tebal, pembahasannya pun menjadi cukup singkat (mungkin karena buku ini dijual untuk umum sehingga bahasa detail tidak diungkap). Meskipun demikian, kontennya tetap sangat menarik untuk dibaca, karena memberikan pengantar mengenai bagaimana seseorang dapat menjadi teroris dan bagaimana hal tersebut tercermin melalui perilakunya yang ditampilkannya maupun melalui tes proyeksi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s