Freud: A Very Short Introduction, Anthony Storr

Freud: A Very Short IntroductionFreud: A Very Short Introduction by Anthony Storr
My rating: 5 of 5 stars

A Very Short Introduction” adalah seri buku dari Oxford yang berisi berbagai macam subjek, mulai dari filsafat, sejarah, agama, dan berbagai macam ilmu lainnya, termasuk psikologi. Salah satu buku yang baru saja selesai saya baca dalam seri ini adalah pengantar singkat tentang Freud.

Buku ini ringkas (namanya juga very short introduction), tapi dapat menjelaskan siapa Freud dan isi pemikirannya. Bagian awal buku menceritakan tentang biografi singkat Sigmund Freud, dan segera dilanjutkan dengan masuk ke dalam gagasan dan teori yang dia kemukakan.

Kelebihan buku ini ada pada penjelasan penulis yang memandang Freud sebagai tokoh historis, dan menjelaskan konsep-konsepnya sesuai dengan konteks pada saat teori itu diciptakan. Kita juga diarahkan pada pemahaman bagaimana interaksi Freud dengan kliennya dapat membuat Freud mengambil kesimpulan tertentu mengenai psikoanalisis.

Dengan demikian, penulis tidak sepenuhnya mendiskreditkan konsep Freud yang sudah lekang oleh jaman, melainkan tetap mengapresiasi apa kontribusi Freud terhadap dunia psikologi (dan juga dalam bidang ilmu lain) di abad 21 ini. Ada kritik yang disampaikan kepada Freud, tetapi kritik itu tetap disampaikan secara ‘fair’ (sesuai dengan keterbatasan Freud pada masanya, tidak membandingkan dengan perkembangan teknologi di abad 21). Misalnya, kecenderungan Freud untuk tidak mau mengubah dugaan/hipotesis yang dibuatnya, meskipun banyak bukti-bukti yang mengatakan bahwa dugaan tersebut keliru (ini salah satu faktor yang berujung pada pengusiran murid-murid Freud, termasuk Carl Jung).

Setelah membahas tentang konsep Freud, penulis juga menuliskan kontribusi Freud dalam dunia seni dan literatur. Psikoanalisis memang besar pengaruhnya terhadap kedua dunia tersebut; Freud sendiri mengemukakan bahwa karya seni merupakan bentuk sublimasi dari fantasi (wish fulfillment) seseorang. Dalam surat-surat dan karya lainnya, Freud membuat analisis terhadap berbagai seniman, misalnya pada Leonardo da Vinci dan Dostoevsky.

Selain itu, penulis juga membahas tentang pemikiran Freud dalam kaitannya dengan budaya dan agama. Freud sendiri memang menganggap agama sebagai suatu bentuk neurosis, yang kemudian dia kemukakan dalam tulisannya yang berjudul The Future of an Illusion. Meskipun mungkin dapat menyinggung pihak-pihak yang merasa sensitif terhadap kepercayaan pribadinya, tapi saya rasa bagian ini penting untuk dipelajari sehingga menambah wacana pemahaman terhadap diri kita sendiri.

Meskipun sebenarnya Freud ingin menjadi seorang dokter yang dapat menganalisis permasalahan pasiennya dengan objektif dan berjarak (diakui karena skill, bukan karena kepribadian), pada akhirnya justru metode itu berkembang dan berpengaruh pada perkembangan psikoterapi. Ada kalimat yang saya suka, di bab terakhir: tiap orang bisa memberikan “nasihat yang bagus” pada orang yang sedang mengalami masalah, tetapi Freud mengajarkan kita bagaimana cara mendengarkan.

Buku ini sangat saya rekomendasikan untuk peminat ilmu psikologi, khususnya mahasiswa psikologi yang ingin refresh pemahaman mengenai Freud dan juga menambah insight baru tentang Freud.

View all my reviews

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s