Next Endeavor…

Di film Street Fighter (1994), ada karakter namanya Chun Li yang dendam ke tokoh antagonisnya, M. Bison, karena sudah menghancurkan desa asalnya 20 tahun yang lalu. Sewaktu Chun Li akhirnya bisa konfrontasi dengan M. Bison, apa yang dibilang oleh M. Bison? “Ga tau, itu mungkin hari yang penting buat elu, tapi buat gw sih itu hari Selasa.

Nah, Selasa kemarin saya melalui hari yang penting buat saya (tapi buat orang lain sih ya itu hari Selasa aja kaya biasa): sidang Ujian Tesis. Setelah melalui ujian tersebut, saya bisa menyandang gelar M.Psi. (Mabok Psikologi).

Ada slide yang tidak sempat terpakai dalam presentasi Ujian Tesis yang baru saya lalui; saya posting di sini saja:

Life is indeed difficult, partly because of the real difficulties we must overcome in order to survive, and partly because of our own innate desire to always do better, to overcome new challenges, to self-actualize.

Happiness is experienced largely in striving towards a goal, not in having attained things, because our nature is always to want to go on to the next endeavor
– Albert Ellis 

Susah gak sih menyelesaikan tesis? Terkesan seperti optimisme buta kalau dibilang “nggak susah asal dikerjain aja terus“. Tiap hari dibuka berkasnya dan juga tiap hari ketemu pembimbing ya nggak akan membuahkan hasil apa-apa kalau ngerjainnya gak beneran pakai mikir.

Nggak saya pungkiri, ada lah ya tesis yang memang lebih susah untuk diselesaikan dibandingkan dengan tesis lainnya. Kenapa lebih susah? Bisa karena memang bidang studinya yang menuntut effort lebih besar, bisa juga dari ekspektasi pembimbingnya, topik penelitiannya, atau hal-hal eksternal lainnya.

Tapi kita juga suka bikin susah diri kita sendiri.

Kita kepingin berhasil, kepingin ada peningkatan, ingin lebih maju. Untuk mendapatkan hal itu, tentu ada hal yang harus dibayar… entah dengan usaha yang lebih keras, waktu yang lebih banyak dikorbankan, atau hal-hal lainnya. Kita jadi susah ketika kita nggak mau “bayar” hal tersebut (kepinginnya mendapat lebih tanpa memberi lebih; dalam rational-emotive behavior therapy, ini disebutnya low frustration tolerance… ah tapi tidak usah lah saya bahas di sini, nanti kepanjangan).

Kalau memang sudah rela untuk “bayar”, kan nggak perlu jadi masalah bersusah-susah dulu. Bagian kedua dari kalimat Albert Ellis di atas, bilang bahwa kita bisa happy bukan saat mendapatkan benda yang kita inginkan, melainkan dalam upaya mencapai target tersebut.

Jadi, the next time kita nggak happy menjalani sesuatu, katakan saja pada diri sendiri: “saya sedang berusaha untuk mendapatkan apa yang saya mau, dan meskipun ada hal-hal yang tidak menyenangkan dalam perjalanan ini, saya akan tetap dapat mengatasinya“.

Terus kalau gak mau berhadapan dan mengatasi hal-hal yang tidak menyenangkan gimana? Kata Albert Ellis sih, pragmatis aja: pikir-pikir lagi apakah yang kamu inginkan itu memang benar-benar penting/bermanfaat buatmu? Kalau nggak, ya ngapain juga bikin susah diri sendiri untuk hal yang sebenarnya tidak penting dan berharga bagi dirimu… mendingan ngerjain yang lain.

Buat saya sendiri: sidang Ujian Tesis sudah selesai, dan by my nature, sekarang adalah saatnya untuk lanjut pada pekerjaan berikutnya!

On to the next endeavor!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s