What They Teach You At Harvard Business School, Philip Delves Broughton

What They Teach You At Harvard Business School: My Two Years Inside The Cauldron Of CapitalismWhat They Teach You At Harvard Business School: My Two Years Inside The Cauldron Of Capitalism by Philip Delves Broughton
My rating: 3 of 5 stars

Pada awalnya, saya mengira buku ini akan sharing tips-tips praktis mengenai bisnis yang diperoleh sang penulis setelah menyelesaikan studi MBA-nya di Harvard Business School (selanjutnya ditulis “HBS”). Ternyata, isi buku ini adalah berbagai macam pengalaman dan kesan yang diperoleh si penulis selama 2 tahun di HBS. Buku ini merupakan semacam liputan, reportase, inside peek mengenai dunia yang ada di dalam HBS. Tidak mengherankan, karena penulis buku ini sebelumnya adalah seorang jurnalis yang sudah berkecimpung di dunia jurnalistik selama beberapa tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan studinya ke program MBA.

Permulaan buku ini dimulai dengan keputusan penulis untuk memilih HBS, karena sebenarnya terdapat beberapa alternatif pilihan MBA yang dapat dia ambil (Wharton, Kelogg, Stanford, Columbia, Sloan, Haas, dan lain-lain). Karena dia ingin belajar mengenai general management, maka dia memilih untuk masuk HBS. Setelah dia berhasil masuk HBS, banyak sekali anekdot-anekdot menarik mengenai HBS yang dia ceritakan di dalam buku ini. Misalnya sistem section, setiap angkatan dibagi dalam beberapa section yang tidak akan dipisah selama setahun, dan di dalam section ini terdapat beberapa study group yang ditentukan oleh sekolah. Buat apa study group ini? Untuk mempelajari case study di tiap mata kuliah. Cara pembelajaran yang menjadi ciri HBS adalah case study method, yaitu selalu belajar dari studi kasus dan diskusi panjang di dalam kelas.

Kelompok belajar ini juga menjadi pengalaman menarik bagi penulis buku ini, karena dia berusia 31 tahun, sedangkan rata-rata usia di program MBA HBS adalah 27 tahun. Posisinya sebagai orang yang lebih tua dan sudah memiliki pengalaman kerja di bidang lain selama beberapa tahun membuatnya memiliki pandangan yang berbeda mengenai proses pembelajaran di HBS. Buku ini juga cukup banyak berisi kritik mengenai sistem pengajaran di HBS, juga terhadap sistem kapitalisme yang diajarkannya karena berpengaruh terhadap kondisi di Amerika itu sendiri. Di akhir tulisannya, dia mencantumkan hal-hal yang akan dia ubah seandainya dia menjadi dekan di HBS, misalnya tidak menggunakan profesor yang tidak memiliki pengalaman bisnis untuk mengajarkan tentang bisnis (apalagi di mata kuliah entrepreneurship), dan juga mengenai sistem nilai yang digunakan.

Menariknya, penulis buku ini adalah satu dari sedikit sekali mahasiswa HBS yang tidak mendapatkan internship di perusahaan besar sewaktu sedang libur musim panas, dan juga lulusan yang tidak segera mendapatkan pekerjaan setelah studinya selesai. Banyak renungan panjang yang disampaikan penulis mengenai apa makna MBA itu sendiri, terutama setelah dia mengontak kembali teman-teman kuliahnya dan mendengar bahwa kebanyakan dari mereka yang melanjutkan pekerjaan ke bidang-bidang korporat bergaji besar justru malah merasa tidak bahagia (dan sebagian besar mengundurkan diri dari kantor setelah satu tahun bekerja).

Di akhir studinya, ada pidato yang disampaikan oleh wakil mahasiswa (seorang Asian-American yang cukup rajin), dan penulis mencatat poin-poin menarik yang disampaikan oleh teman kuliahnya tersebut:

1. When we look back, the big things will look small and the little things will look big.
2. Comparison is the death of happiness.
3. We are all we have. No one else will rescue us.

Menurut saya, buku ini cukup menarik untuk dibaca, meskipun kondisinya banyak berlainan dengan di Indonesia. Mungkin pembaca yang melanjutkan studinya ke MBA (misalnya ke Prasetya Mulya, ITB atau kampus lain) akan memperoleh insight menarik dari buku ini. Ngomong-ngomong soal Indonesia, penulis juga menyelipkan analisis menarik dari salah seorang dosennya mengenai bagaimana caranya dengan mudah mengetahui perusahaan mana yang paling memiliki kaitan erat dengan Soeharto. Caranya? Baca sendiri buku ini ;D

View all my reviews

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s