Pertanyaan Paul Meehl Pada Mahasiswa Doktoral Psikologi Klinis

Pada pidato sambutannya sebagai President American Psychological Association di tahun 1962, Paul Meehl bercerita seperti ini:

Ada sebuah pertanyaan yang hampir tidak pernah dijawab dengan benar oleh mahasiswa doktoral program Klinis kita dalam ujian lisan PhD, dan mereka nampaknya tidak suka dengan jawaban yang diberikan oleh penguji.

Anggaplah anda diminta menuliskan suatu prosedur untuk memilih seorang individu dari populasi umum, yang kalau didiagnosa oleh staf psikiatri, hasilnya diagnosa skizofren. Anda diminta mempertaruhkan $1000 atas kebenaran jawaban anda. Di dalam prosedur pemilihan itu, anda tidak diperbolehkan mencantumkan fakta perilaku apapun, seperti simptom atau trait yang nampak pada individu tersebut.

Apa yang akan anda tulis?

Sebenarnya ada satu jawaban yang peluang benarnya lebih dari 50%, tulis saja “Carilah individu X yang punya saudara kembar identik dengan diagnosa skizofren.

Mahasiswa Psikologi yang hidup di tahun 2013 dan membaca literatur modern (bukan mengandalkan literatur yang lebih jadul dari tahun proklamasi Republik Indonesia) tidak akan merasa aneh dengan cerita di atas. Di berbagai buku Abnormal Psychology, dituliskan dengan jelas tentang peran faktor biologis dalam etiologi Skizofren. Tapi bagi mahasiswa doktoral tahun 1962 di Amerika, itu merupakan pertanyaan yang sangat sulit, soalnya waktu itu paradigma behavioristik masih dalam masa kejayaannya.

Banyak sekali ahli pada jaman itu yang bersikeras bahwa faktor primer dari gangguan jiwa adalah pengalaman sosial dan interpersonal. Ilmuwan behavioral memusatkan perhatian mereka pada pembelajaran dari lingkungan (environmental learning). John B. Watson sendiri menyangkal peran heredity (keturunan), dan pendapat ini diikuti oleh murid-muridnya. Waktu itu, pemikirannya begini: kalau ada yang kena mental disorders, itu pasti akibat proses belajar.

Dari cerita di atas, kelihatan bahwa suatu pemikiran yang kuat waktu jaman dulu bisa terbukti salah dan tergantikan oleh pemikiran baru. Teori itu ga selamanya bener, bisa jadi salah ketika faktanya menunjukkan bahwa teori itu salah. Dari fakta itu, dibikinlah teori baru. Dalam sains, teori itu dibentuk dari fakta yang ditemukan secara empirik di lapangan, bukan tau-tau jatuh dari langit dan diperlakukan sebagai kebenaran sejati. Jadi wajar saja kalau ada teori yang salah dan digantikan oleh teori baru. Teori itu mengikuti fakta empirik, bukan fakta yang dipaksakan biar jadi matching dengan teori jadul kita (ini terbalik).

Yang aneh itu adalah saat fakta menunjukkan bahwa teori kita keliru, tapi kita tetap maksa pakai teori itu dan ga mau memperbaiki pemikiran kita dengan teori baru.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s