Carl Rogers: “Healy might be wrong”

 
https://i0.wp.com/www.whatispsychology.biz/wp-content/uploads/2012/01/Carl-Rogers-Humanistic-Psychology.jpg

Saya dan teman-teman di KLD memulai semester baru ini dengan mempelajari kembali konsep-konsep utama dalam ilmu Psikologi. Salah satu materi umumnya adalah mengenai tiga mazhab besar dalam Psikologi, yaitu Psikoanalisa, Behavioristik, dan Humanistik. Waktu bang Leo memberikan materi ini, saya merasa paling tertarik dengan materi Humanistik, terutama cerita-cerita beliau dalam praktik pribadinya.

Saya pernah mampir ke rumah bang Leo yang ada di jalan Banda. Dari yang saya baca di buku Dialog Psikologi Indonesia (ini juga bacaan bagus buat mahasiswa Psikologi), bang Leo ini adalah satu dari tiga psikolog yang pertama kali pasang papan praktik pribadi di Bandung waktu itu (jaman Orde Lama kali ya). Yang satunya lagi bu Sawitri, sedangkan yang terakhir saya lupa. Papan praktiknya cukup jadul, dengan istilah bahasa Belanda: Psycholoog. Biarpun hanya praktik di rumah, tapi beliau selalu kedatangan klien karena memang sudah terkenal sebagai pakar dan juga sering mendapatkan rujukan klien dari psikolog lain.

Karena “terpancing” untuk belajar lebih jauh tentang pemikiran Rogers, di rumah saya memutuskan untuk melanjutkan membaca tentang kisah hidup Carl R. Rogers. Ini ada di buku yang berjudul On Becoming a Person (1961). Sepertinya buku ini merupakan bacaan wajib bagi mereka yang ingin menjadi seorang konselor atau psikolog. Buku ini memang merupakan otobiografi Rogers, tapi ditulis dengan tujuan agar orang dapat lebih memahami bagaimana konsep-konsep Client-centered Therapy dilahirkan.

Ini yang menarik buat saya: psikolog yang biasa memahami orang lain ternyata juga ingin dipahami orang lain lewat tulisannya.

… dan ternyata ini bukan hal yang mudah, karena ternyata dia membutuhkan 440 halaman untuk menyampaikan seluruh pemikirannya. Tebal sekali ya? Memang benar rupanya ungkapan bahwa manusia itu kompleks, sehingga kita sebaiknya tidak cepat merasa sudah “memahami” orang lain, apalagi kalau kita baru membaca beberapa halaman di awal saja (atau malah baru lihat covernya).

 
https://i0.wp.com/d.gr-assets.com/books/1348329148l/174879.jpg

Dalam perjalanannya yang panjang untuk menjadi seorang psikolog, Carl Rogers memulainya di Rochester, New York (sebenarnya buku ini membahas juga tentang masa kanak-kanak, remaja, dan dewasa awalnya, tapi bukan itu yang ingin saya bahas kali ini). Banyak pembelajaran yang dia peroleh selama menjadi psikolog muda di sana. Rupanya, pengalaman praktik memang memberikan hal-hal yang tidak akan pernah bisa diperoleh dari kuliah saja.

It was a period of relative professional isolation, where my only  concern was in trying to be more effective with our clients. We had to live with our failures as well as our successes, so that we were forced to learn

.”
– Carl Rogers

Pada saat dia masih belajar, Rogers sangat kagum pada Dr. William Healy, seorang psikoanalis senior yang cukup terkenal pada saat itu. Dalam praktik, Rogers seringkali menerapkan pemikiran-pemikiran psikoanalisa Dr. Healy pada klien yang dihadapinya.

Setelah memecahkan kasus pyromania, ada pemikiran yang terlintas dalam kepala Rogers: “Healy might be wrong“, tulisnya. Apa yang dituliskan dalam materi kuliah dosennya, ternyata sama sekali tidak terbukti dalam praktik pribadinya, bahkan tergolong ‘ngawur’. Ada semacam ‘jolt‘ (sentakan) dalam dirinya, semacam kekecewaan karena ternyata figur otoritas dalam bidang pendidikan bisa keliru. Ilusi bahwa “figur otoritas selalu benar dan lebih tahu daripada kita” pun runtuh dalam diri Rogers.

Apa reaksi Rogers setelah itu? Dia menulis, “Perhaps I was learning something he didn’t know […] Perhaps there was still new knowledge to discover.

Momen ini merupakan salah satu awal dari keberanian Rogers memformulasikan pemikirannya sendiri. Untuk punya pemikiran yang berbeda, dibutuhkan keberanian tersendiri. Jika seandainya Rogers tidak pernah berani mengatakan bahwa gurunya salah, mungkin Client-Centered therapy tidak akan ada, dan wajah ilmu Psikologi tidak akan sama seperti sekarang.

Beberapa puluh tahun setelah Carl Rogers, Albert Ellis yang terkenal sebagai pencipta REBT (Rational-Emotive Behavior Therapy) juga merasakan hal yang sama. Dia merasa bahwa mungkin yang diajarkan padanya itu keliru, dan dia punya pemikiran lain yang bisa menjawab pertanyaannya sendiri.

Saya rasa ini dialami oleh banyak siswa dan mahasiswa di Indonesia: sering diberikan encouragement untuk berani bertanya karena banyak yang pasif, hanya menunduk diam saja meskipun sebenarnya tidak mengerti. Ada kalimat bang Leo yang mirip dengan kalimat Rogers: “siapa tahu dengan bertanya, kalian malah menemukan hal baru yang nantinya bisa digunakan dalam praktik kalian”.

Dalam berbagai situasi (tidak hanya di dalam kelas), saya seringkali merasa kesal kalau ada orang yang beralasan, “karena kata [figur otoritas] jawabannya begini, jadi beginilah yang benar”. Seolah-olah kita tidak bisa mikir sendiri, dan jawaban dari figur otoritas selalu pasti benar serta tidak boleh terbantahkan. Kisah Carl Rogers dan juga Albert Ellis di atas, yang menunjukkan bahwa kemajuan itu lahir dari keberanian untuk berbeda, menjadi semacam pengingat lagi (dan juga penguat) bagi diri saya untuk lebih berani mempertanyakan sesuatu dan juga berani untuk berpikir berbeda.

Ada kutipan dari Pramoedya Ananta Toer dari novel Rumah Kaca yang pas juga untuk konteks ini:

Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s