And Then There Were More: Belajar Menyelidiki Manusia Bersama Papa Poirot

Sebagai mahasiswa jurusan psikologi yang mempelajari manusia, saya ngefans dengan berbagai macam tokoh detektif. Karakter detektif biasanya digambarkan sebagai orang yang punya kemampuan “membaca” orang, sehingga dapat memecahkan kasus yang ditanganinya. Ada beberapa detektif di dunia fiksi yang cukup terkenal, yang masing-masing memiliki tampilan yang berbeda.

Ada seorang detektif yang digambarkan sebagai jenius dalam mengendus jejak dan mencari bukti. Kemampuan deduktifnya luar biasa. Satu atau dua kali melihat suatu hal, maka dia sudah dapat menarik kesimpulan yang akurat. Belakangan ini, BBC mengadaptasinya dalam bentuk serial TV dan sukses menjadi salah satu serial yang paling dinanti penggemarnya. Ciri lain yang menonjol dari karakter tersebut adalah antisosial dan juga cenderung depresif. Dalam versi klasik, dia diasosiasikan dengan topi pemburu, kaca pembesar, dan pipa tembakau.

Di channel TV lain, ada serial detektif yang tokoh utamanya selalu gelisah, karena memiliki ratusan phobia dan selalu cemas. Meskipun dia sangat terbatas dalam berbagai macam hal, dia selalu dapat memecahkan kasus karena dia memiliki daya ingat dan daya analisis yang luar biasa. Tidak pernah ada hal yang terlewat, karena seluruh detail selalu tercatat di dalam pikirannya. Serial ini sangat laris dan sudah berakhir di season 8 beberapa tahun yang lalu.

Kedua karakter di atas sangat menarik. Sayangnya, kita hanya bisa berandai-andai saja punya kemampuan deduksi setajam Holmes dan daya ingat sekuat Monk. Di dunia nyata, kemampuan memahami kepribadian orang lain akan sangat bermanfaat dalam berbagai aspek kehidupan kita. Bagaimana bisa kita memilih calon pasangan (:P) atau calon karyawan kalau kita sama sekali tidak tahu seperti apa kepribadiannya?

Bagaimana caranya kita bisa memahami orang lain? Jika kita tampil penuh selidik dan sinis (seperti salah seorang detektif di atas :P), maka orang lain akan merasa curiga dan terancam. Ibarat aktor di sebuah panggung: mereka akan nampak tetap menampilkan diri mereka, namun sebenarnya ada yang tersembunyi di balik tampilan karakter tersebut.

Dari berbagai riset psikologi (Funder, 2012; Letzring, 2008), disimpulkan bahwa orang akan lebih mau membuka dirinya pada pribadi yang hangat dan tampak puas dengan dirinya sendiri. Orang juga akan lebih terbuka jika memang tersedia ruang bagi mereka untuk dapat benar-benar mengekspresikan dirinya. Saat orang bisa merasa tenang dan nyaman dengan orang lain, maka mereka akan mau menampilkan diri mereka yang sebenarnya (Rogers, 1961).

Hasil temuan riset itu mengingatkan saya akan salah satu tokoh detektif ciptaan Agatha Christie: Hercule Poirot.

Kisah hidupnya cukup panjang. Sebelumnya, dia adalah detektif di kepolisian Belgia, lalu dia lari dari Perang Dunia I, dan akhirnya tiba di sebuah desa kecil di Inggris, Styles St. Mary. Saat dia berada di sini, terjadi sebuah pembunuhan. The Mysterious Affair at Styles adalah awal mula kembalinya Poirot sebagai detektif, yang kemudian terus berlanjut dalam berbagai kasus hingga berakhir dalam Curtain.

Pribadinya unik: sangat memperhatikan kerapihan, terlalu pede (bahkan dianggap arogan oleh temannya, Hastings), dan selalu membanggakan… kumisnya. Cara bicaranya khas, sering ada kata-kata asing yang diselipkan dalam kalimat yang diucapkannya. Tampilan dirinya ini justru membuat orang meremehkan dia dan justru membuat orang lengah, tidak sadar bahwa Poirot adalah detektif handal.

Metodologinya menarik: membuat orang mau bercerita padanya. Dalam salah satu cerita, dikatakan bahwa dia tidak suka “mengendus jejak” untuk mencari-cari bukti lewat jejak kaki, sidik jari, dan abu rokok (jelas maksudnya merujuk ke detektif yang mana :P). Yang dia pelajari dalam kasus adalah motif yang melandasi terjadinya pembunuhan itu. Nuansa psikologinya jelas lebih terasa dibandingkan dengan cerita detektif lain pada masa itu.

Salah satu cara yang digunakannya (yang cukup berkesan buat saya, karena ternyata dulu ini merupakan metode psikoanalisa betulan) adalah dengan menggunakan asosiasi kata. Dia akan mengucapkan sebuah kata, dan orang lain diminta menjawab dengan cepat tanpa berpikir. Lalu dia mengucapkan kata lain, dan dijawab lagi, begitu seterusnya. Dari sini, dia mendapatkan sedikit informasi mengenai pribadi orang yang dihadapinya. Kalau sekarang, mungkin mirip-mirip yang dilakukan Dedy Corbuzier di acara Hitam Putih (tapi itu orientasinya entertainment).

Dalam judul tulisan ini, saya menggunakan istilah “Papa Poirot“. Apa maksudnya? Ini adalah semacam “peran” yang sering digunakan oleh Poirot, yaitu seorang figur pria dewasa yang siap mendengarkan isi hati orang lain yang sedang mengalami kegundahan. Biasanya dia gunakan untuk menarik informasi dari berbagai sumber, khususnya tokoh wanita πŸ˜› Ditambah dengan cara bicaranya yang khas, maka orang akan secara tidak sadar membuka dirinya di depan Poirot.

Jadi, kalau kalian ingin menjadi “detektif” isi hati manusia, daripada melirik Sherlock Holmes yang punya tendensi antisosial dan Adrian Monk yang selalu cemas, belajarlah dari Papa Hercule Poirot yang charming dan lihai! πŸ˜€

Dengan membaca novelnya, kita bisa melihat berbagai macam cara yang digunakannya untuk memecahkan kasus. Di Indonesia, bukunya sudah diterjemahkan dan sudah dicetak ulang berkali-kali. Saat ini, cetakan terbarunya kembali diterbitkan oleh Gramedia dengan menggunakan cover baru.

Penasaran?
Kepuasan membaca kisah Poirot itu harus dialami sendiri.
Jangan sampai kena spoilers dari orang lain, jadi belilah secepatnya di Gramedia πŸ˜›

P.S.: Postingan ini dibuat dalam rangka mengikuti blog event The Labours of Grey Cells, yang dihost oleh blog Sel-Sel Kelabu.

Iklan

5 tanggapan untuk “And Then There Were More: Belajar Menyelidiki Manusia Bersama Papa Poirot

  1. saya suka pelem law and order ketika vincent dan kathryn memiliki keahlian yg berbeda namun saling melengkapi ketika menangani suatu kasus πŸ˜€

    mungkin itu bisa disebut kenyamanan dalam partner, seperti bekerja dgn partner yang saling melengkapi itu sungguh menyenangkan … hmmm

    jadi kapan nikah …… (lost fokus) :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s