Pick-me-up: Bingung Tentang Masa Depan dan Kehilangan Motivasi

At the risk of sounding like a creepy stalker… saya cukup sering loh menghabiskan waktu saya untuk membaca blog orang lain. Apalagi orang-orang yang saya kagumi, termasuk yang tidak saya kenal betul. Sering terlintas dalam benak saya, “ini orang keren ya, seperti apakah isi pikirannya?”. Kalau kebetulan saya nemu blognya, saya langsung baca-bacain postingannya dari postingan terakhir sampai yang paling awal. (iya, kesannya seperti orang kompulsif -_-). Ada blog yang seru, ada juga yang nggak. Yah, tergantung isinya sih.

Reaksi saya beragam, ini 3 contoh kemungkinannya:

1. “Oh, ternyata isi pikirannya juga luar biasa! Jadi seperti ini ya proses berpikirnya…”, trus sambil (sok) berpikir seperti ahli perkembangan, saya melihat bagaimana kualitas pikiran si X ini berkembang dari yang sederhana menjadi lebih kompleks.

ATAU

2. “Ah, ternyata yang di luar dan di dalam tidak sama…” dan tentunya bikin penasaran, trus tetap saja saya baca-bacain postingan blognya hingga paling awal.

ATAU

3. Ya elah isi pikirannya ga jelas banget, banyaknya kata-kata mutiara dan puisi.

ATAU…. 
ah, kepanjangan nanti prolognya. Postingan kali ini berisi link-link yang saya anggap menarik, dan saya kaitkan dengan apa yang saya temui di kehidupan sehari-hari.

Kenapa saya bikin postingan ini? Di umur menjelang 25 begini, kebanyakan teman-teman sebaya saya mulai berubah isi curhatannya. Masih ada sih yang curhat tentang skripsi (seriously guys, ngerjain skripsi ga sampe semester 12-13-14 juga kali). Tapi sebagian besar lebih banyak mengkhawatirkan masa depan mereka. Nanti saya kerja apa? Saya mau jadi apa? Kok saya cuma kayak begini? …dan seterusnya, dan semacamnya.

Kebetulan, saya lagi praktik Konseling juga di program Magister, dan karakteristik subjeknya juga yang ada di tahap dewasa awal, yang rentan mengalami “quarterlife crisis”. Dalam rentang usia ini, ada beberapa masalah yang secara umum dialami oleh kebanyakan orang. Serem bener ya istilahnya, pake krisis segala. Apaan sih itu? Nah, definisinya bisa dibaca di sini:

Quarterlife Crisis: Definisi dan Cara untuk MenghadapinyaNadia Ikayanti
Adakah yang merasakan seperti ini juga? Dari curhatan teman-teman sebaya, sepertinya banyak yang seperti ini:

Kamu melihat teman-teman seumuran di sekelilingmu seakan berjalan dengan mantap dan sukses dalam pilihannya. Sementara dirimu masih berkutat dengan pekerjaan yang tidak kamu sukai, hubungan yang belum stabil, atau kecemasan apakah kamu bisa mendapatkan hal yang kamu inginkan dalam hidup. Terasa familiar denganmu? Tenang saja, kamu tidak sendiri.

Biasanya, dampak lanjutan dari kebingungan tentang masa depan ini adalah hilangnya motivasi (yang kemudian bikin skripsi tidak kunjung diselesaikan :p). Wajar aja sih. Kalau kita sendiri gak tau mau jalan ke arah mana dan gak tau apa yang ada di depan kita, mana bisa kita melangkah dengan yakin?

Ngomong-ngomong soal motivasi, sekarang masih jaman gak sih jualan “PASSION” ? Saya eneg banget sama orang yang jadi motivator tentang passion, apalagi passion di bisnis… tapi dia sendiri ga punya pengalaman nyata di dunia bisnis. Pengalamannya cuma bisnis motivasi doang. You don’t really walk the talk. (eh kenapa sih banyak orang yang sekarang ngomong passionnya jadi entrepreneur? padahal kalau lebih jujur, bilang aja ‘saya mau kaya’ dan ‘saya suka duit’)

Karena “passion” dijadikan barang jualan, tentu kemasannya harus menarik dong ya… nah ini yang bikin orang banyak punya ‘magical thinking’ karena terbuai omongan sang motivator. Gak logis. Seolah-olah kalau dia ikutin passionnya (sesuai apa kata si motivator yang sudah mendapatkan duit darinya), maka dia akan secara gaib dan seketika hidup bahagia. Jauh lebih bahagia daripada orang-orang yang kerja kantoran (biasanya motivator kan compare dengan typical salaryman).

Karena magical thinking melulu itu tidak sehat, jadi yang lebih real yang seperti apa? Nah, cara-cara untuk tetap semangat mengejar masa depan itu bisa kalian baca di 2 artikel di bawah ini:

Stay hungry, Stay Foolish – Kaisar Siregar
WAIT, HEAR ME OUT GUYS. NO, REALLY. Ini bukan link commencement speech Steve Jobs itu ya (tapi memang judulnya sama sih, penulisnya juga mengomentari hal itu). Ini tulisan seorang mahasiswa Indonesia yang sedang meneruskan studinya di Belanda. Gaya tulisannya santai, tapi tetap bisa memberikan insight menarik meskipun pembacanya tidak sedang dalam konteks mencari beasiswa ke Belanda (karena ini bukan postingan ‘Laskar Beasiswa’ :p).

So what do you do when you ask yourself the question, “what should I do with my life?” Well if you ask Google, you will probably ended up in this website which is not entirely useful, or if you choose to ask Deep Thought she would probably went straight on giving you the answer to the ultimate question of life: “42”. Hence I ask other mere mortals namely my parents and friends. But again, much to my hatred towards anything mainstream, the only answer that I heard from them was “Just follow your passion”. Thank you Captain Obvious.

Maybe that answer is good if you already know what your passion is, but I believe some of you are just like me, a drifter I like to called it. Fear not my fellow drifters; never ever think that having no passion (yet) is a bad thing. In honesty, that very fact is exactly why I am now studying here at TU Delft. That very fact and a speech by Chris Anderson, which answered my “what should I do with my life?” question better than an inter-galactic super computer that spent 7.5 million years calculating a similar answer:

Don’t pursue your passion directly. At least not yet. Instead… pursue the things that will empower you. Pursue knowledge… Pursue discipline… And above all. Pursue generosity… If you pursue those with all the determination you possess, one day before too long, without you even knowing it, the chance to realize your most spectacular dreams will come gently tap you on the shoulder and whisper… let’s go.  And you’ll be ready.“

So there you are, the speech that changed my perception of life from constantly asking the cliché and abstract questions of “what should I do with my life?” and “what is my passion?” To a more concrete and quantifiable question of “what will empower me the most?” And for the past Kaisar Siregar on the 26th of October 2011 the answer was to let go his comfort zone, go to the post office and mail this little brown envelope. […]


A speech to Harvard’s architects of the future – Chris Anderson
Dalam tulisan itu, ada cuplikan pidato Chris Anderson (kurator TED). Ini versi yang lebih lengkapnya. Kalau mau baca full transcriptnya, bisa juga klik link di atas.

I guess it’s traditional at a time like this to offer some personal advice to you as you embark on your career. Everything from “one word: plastics”.  to… “follow your dream, pursue your passion“. Indeed the mantra of romantically pursuing passion is hammered into us by countless movies, novels and pulp TV. I’m not convinced it is very good advice. Apart from the fact that many people aren’t sure what their passion is, even if they were, there are lots of wonderful things in life that absolutely should not be pursued directly. Take love. We all want it. But there’s a word for people who pursue love a little too directly. Stalker. Or take happiness. Go after that wholeheartedly and most likely you’ll end up a hedonist, a narcissist, an addict.  A great musician who wants to pursue the absolute in artistic creativity doesn’t get there by being creative. She gets there by being disciplined. By learning, listening and by practicing for hours… until one day the creativity just flows of its own accord.

Don’t pursue your passion directly. At least not yet. Instead… pursue the things that will empower you.

Pursue knowledge. Be relentlessly curious. Listen, learn. […]


Pursue discipline. It’s an old-fashioned word, but it’s never been more important. Today’s world is full of an impossible number of distractions. The world-changers are those who find a way of ignoring most of them.

And above all: Pursue generosity. Not just because it will add meaning to your life — though it will do that — but because your future is going to be built on great ideas and in the future you are entering, great ideas HAVE to be given away. They do. The world is more interconnected than ever. The rules of what you give and what you hold on to have changed forever. If you hold on to your best ideas, maybe you can for a moment grab some short-term personal commercial gain. But if you let them roam free, they can spread like wildfire, earning you a global reputation. They can be reshaped and improved by others. They can achieve impact and influence in the world far greater than if you were to champion them alone. […]

Knowledge, discipline, generosity. If you pursue those with all the determination you possess, one day before too long, without your even knowing it, the chance to realize your most spectacular dreams will come gently tap you on the shoulder and whisper… “Let’s go!”.  And you’ll be ready.

Start with the Why – Simon Sinek
Just in case you haven’t realized yet: both Chris Anderson’s and Kaisar Siregar’s post are written in the form of Why-How-What. Tulisannya persuasif, kan? Simon Sinek, seorang ethnologist, bilang kalau memang manusia itu lebih mudah  tergerak oleh “Why” daripada “What”. Jadi kalau kalian ingin menggerakkan orang lain, kalian juga bisa mulai dengan menonton video ini:

http://embed.ted.com/talks/simon_sinek_how_great_leaders_inspire_action.html
P.S.: “Pick-me-up” di judul postingan ini merujuk ke item di game Super Mario RPG: Legend of the Seven Stars (Super Nintendo). Gunanya untuk bikin temen yang jatuh karena HP-nya 0 bisa bangkit kembali. Ini salah satu game favorit saya. Mudah-mudahan apa yang dituliskan di sini bisa membangkitkan semangat pembacanya dalam menghadapi masa depan. 

P.S.S.: Seriously, play that game.

P.S.S.S.: Kembali ke paragraf awal postingan ini: blog yang paling seru dibaca itu sebenernya blog yang berisi curhatan sehari-hari. Apalagi kalau saya kenal orangnya 😛

Iklan

2 tanggapan untuk “Pick-me-up: Bingung Tentang Masa Depan dan Kehilangan Motivasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s