Tentang Cerita yang Berulang

Kalau tidak salah, Heraclitus berkata: “panta rhei” – semuanya mengalir. Menurut penjelasannya, kita tidak bisa menginjakkan kaki di sungai yang sama, karena sungai itu sudah berubah saat kita kembali untuk yang kedua kalinya. Meskipun sungainya tidak berubah, bisa saja kita yang sudah berubah. Perumpamaan tentang sungai ini maksudnya adalah bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi, tidak ada yang menetap; semuanya berubah.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat merasa bahwa perkataan Heraclitus itu tidak berlaku untuk saya. Saya seperti terjebak dalam sebuah cerita yang sama, yang kembali berulang, yang membuat saya kembali memikirkan, merasakan, dan melakukan tindakan yang serupa. Seolah-olah, saya tidak ikut mengalir bersama seluruh hal lain di dunia ini, melainkan terdiam di titik yang sama.

Kalau sekarang saya analisa kembali, saya dapat menggambarkan peristiwa-peristiwa apa saja yang memicu penghayatan negatif saya. Saya juga dapat menemukan penjelasan mengenai hal apa yang membuat saya memaknakan peristiwa ini sebagai suatu hal yang negatif, sehingga konsekuensinya saya merasakan penghayatan yang negatif. Sebetulnya, kalau pemaknaan saya berbeda, saya tidak perlu tenggelam dalam kondisi negatif seperti itu. Bahkan pemaknaan negatif ini cukup menguasai alam pikir saya, sampai-sampai saya tidak sempat bersyukur atas berbagai peristiwa positif yang kemudian saya alami. Saya hanya terus memperhatikan yang negatif.

Tentunya saya bisa berpikir seperti ini karena sekarang kondisi emosi saya sudah lebih tenang. Saya butuh waktu sekitar 2 minggu untuk “tutup toko” dan “beres-beres”. Kalau saya mampu berpikir lebih dewasa (atau lebih terbuka dan meminta bantuan orang lain), seharusnya sih tidak perlu selama itu.

Kenapa bisa lama ya?

Kata Susan Sontag di Illness as a Metaphor, kita merasa individualitas kita lebih nampak saat berada dalam derita. Rasanya kita punya pengalaman unik yang cuma dapat dipahami oleh diri kita sendiri, sehingga ada perasaan istimewa saat menghayati derita. Jadinya mirip dengan yang dibilang Leo Tolstoy di awal Anna Karenina: semua cerita tentang kebahagiaan itu serupa, tapi tiap cerita ketidakbahagiaan akan tidak bahagia dengan caranya masing-masing. Karena hal tersebut, secara tidak sadar kita menikmati suasana sedih yang kita hayati, menjadikan kesedihan itu sebagai bagian dari identitas kita, lalu perlahan diam-diam merasa nyaman dalam kondisi ini . . . dan kita tidak akan meninggalkan hal-hal yang membuat kita nyaman, kan? Mungkin itu salah satu sebab kenapa banyak orang yang terus berada dalam kondisi sedih yang tidak berkesudahan. Larut dan tenggelam dalam melankoli itu dapat menenangkan.

Tapi larut dan tenggelam hanya akan membawa kita ke satu arah saja: ke bawah.

Ngomong-ngomong soal Susan Sontag, ada salah satu tulisan dalam jurnal pribadinya yang saya suka, tentang cinta:

“Can I love non-possessively, permissively — without withdrawing myself, setting up my own defences and strategy retreats, on one hand, or reducing the amount and intensity of my love, on the other?”

—  Susan Sontag on Love, 17/Feb/70 – As Consciousness Is Harnessed to Flesh: Journals and Notebooks, 1964-1980.

Kalimat ini menarik buat saya, karena buat saya ini menggambarkan sulitnya menjalin relasi yang dekat dengan seseorang. Terlebih dalam hubungan yang lebih dekat lagi, yaitu dalam cinta. Bukan hanya tentang diri kita sendiri saja, tapi juga tentang orang lain…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s