Di balik yang tertinggal

Hari ini saya membongkar-bongkar lemari arsip kuliah S1 untuk mencari materi kuliah praktikum yang akan kembali dibahas di matrikulasi S2. Secara tidak terduga, rupanya semuanya tersimpan dengan rapi. Tadinya saya pikir saya ini orangnya ‘pabalatak‘, tapi ternyata cukup teratur juga. Bahkan semua materi kuliahnya ternyata sudah dipisah per semester, per mata kuliah, dan diurutkan sesuai dengan urutan pertemuannya…

Mungkin juga materi kuliah ini tersimpan rapi karena saya ga pernah baca-baca lagi materi semester sebelumnya 😀

Di antara tumpukan materi kuliah itu, ada cukup banyak fotokopi diktat dan catatan kuliah dari nama yang sama. Untuk mempermudah penulisan, kita sebut saja dengan saudari X agar tidak terlalu panjang. X adalah orang yang waktu tingkat I-II-III tergolong rajin. Catatannya hampir selalu lengkap, dan begitu juga dengan diktat kuliahnya. Karena tulisannya yang rapi (dan banyak catatan tambahan yang dia tuliskan di diktatnya), saya sering meminjamnya untuk difotokopi. X cukup berprestasi secara akademik karena IPK-nya tinggi. Di kelas juga biasanya dia duduk di depan, sehingga dulu saya berpikir dia ini orang dengan kepribadian tipe-A 😛

Hingga saya menemukan kembali fotokopian ini, X masih belum menyelesaikan studinya di S1 Psikologi. Sudah setahun lebih statusnya ‘tinggal skripsi doang’. Katanya sih dari jaman dulu, lulus tepat waktu di Fakultas Psikologi itu susah banget. Tapi kan sekarang kurikulum terus diperbaiki supaya semuanya punya standar yang sama dan bisa diselesaikan dalam waktu 4 tahun, nggak lagi seperti jaman dahulu kala. Beberapa universitas malah menetapkan sistem DO kalau mahasiswa itu sudah kelamaan kuliah tanpa ada ujungnya.

Kenapa X bisa belum menyelesaikan studinya hingga sekarang? Tentunya ada banyak faktor, mulai dari internal sampai eksternal. Rasanya kalau kita perhatikan, ini dapat menjadi pelajaran bagi adik-adik angkatan dan juga buat saya yang kembali menjadi mahasiswa baru.

Berbeda dengan kuliah di kelas yang pakai sistem ceramah, skripsi ini dikerjakan di luar kelas, dan menuntut si mahasiswa untuk kerja sendiri. Ini bisa jadi masalah buat mereka yang gak terbiasa belajar mandiri dan melakukan pengaturan waktu untuk diri sendiri. Beda dengan kuliah yang pasti-pasti aja kapan jam masuk, jam keluar, jam ngumpulin tugas, dan jam ujiannya, skripsi ini tidak ada kepastian kalau kita sendiri tidak berusaha untuk memastikan. Kita harus punya motivasi sendiri.

Bicara soal motivasi, ada baiknya kita punya semacam support system. Alias lingkungan yang mendukung kita untuk menyelesaikan skripsi. Jadi bukan hanya sekedar sekumpulan orang yang bisa menghibur kamu yaaa, karena bisa juga nongkrong ngobrol dan bersenang-senang setiap hari dengan orang-orang yang ga punya tujuan hidup akan  membuat kamu jadi sama seperti mereka. Carilah orang yang mendukung kamu untuk menyelesaikan perjalanan ini, lebih bagus lagi kalau mereka adalah orang yang juga ingin sama-sama menyelesaikan perjalanan yang sama.

Dari hasil ngobrol-ngobrol, memang ada tekanan tersendiri ketika hampir semua teman seangkatan sudah menyelesaikan studinya. Apalagi kalau kita masuk ke kelompok yang paling akhir banget. Jadi buat yang masih baru mengontrak skripsi, buruan selesaikan! Gak usah deh pakai rasionalisasi kuliah-lama-buat-mematangkan-ilmu kalau kenyataannya setiap hari nggak mengerjakan apa-apa yang memperdalam pemahaman. Defense mechanism itu fungsinya untuk lari dari realita!

Nggak-kebayang-nanti-mau-jadi-apa-habis-lulus juga bisa jadi faktor yang bikin orang lama menyelesaikan studinya. Ini juga dari hasil ngobrol ya, karena kalau yang dibayangkan setelah lulus nanti kegiatannya langsung nikah-hamil-ngasuh anak-jaga toko, ya wajar aja kalau nggak semangat menyelesaikan studi. Soalnya ga terlihat ada manfaat apa dari punya gelar sarjana itu, padahal bisa ada banyak (dan tiap orang berbeda-beda tentunya). Sudah kerja sebelum kuliah juga bisa bikin males beresin studi loh. Banyak yang menjadikan ini sebagai alasan, dan malah banyak yang bangga… tapi ya tiap orang mungkin prioritasnya beda-beda deh.

Ohya, selain faktor dari dalam diri, faktor yang tidak bisa dikendalikan juga turut berperan. Faktor keberuntungan, misalnya. Bisa juga faktor kesialan… misalnya sudah semangat mengerjakan proposal sampai selesai, eh ternyata dosennya mendadak dapat proyek di pulau Kalimantan selama sebulan. Pilihannya ya cuma nunggu sebulan, atau langsung apply jadi intern di proyek dosen itu tanpa dibayar, hehe.

Banyak yang bilang supaya kita terdorong untuk mencapai sesuatu, visualisasi itu penting. Dari obrolan dengan salah seorang sesama mahasiswa, muncul kisah bahwa dia ingin menyelesaikan studi untuk membuat bangga orangtuanya yang sudah susah payah menyekolahkan tinggi-tinggi. Kalau sudah punya keinginan seperti ini, visualisasikan bahwa anda memakai toga, di ruangan yang penuh dengan wisudawan-wisudawati, berjabat tangan dengan Dekan, dan mendengarkan suara tepuk tangan yang ramai (dan di antara tepuk tangan itu, ada orangtuamu! Dengan ekspresi wajah puas dan bangga!).

Postingan kali ini cukup panjang, tapi sebetulnya masih banyak yang bisa dibahas. Postingannya juga sok bijak-menasehati dan agak sok tahu juga sih, tapi ini dari pengalaman dan pengamatan pribadi kok. Semoga apa yang sudah ditulis bermanfaat buat orang yang membaca, dan juga memberi dorongan (serta tidak malah kemudian tersindir dan jadi pundung. Bukan saya yang harus bertanggungjawab atas emosi yang kamu rasakan :D, tapi kamu sendiri).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s