Fleksibel Dalam Berpikir

Albert Ellis, pencipta Rational Emotive Behavior Therapy, mengatakan bahwa salah satu penyebab utama permasalahan emosi adalah pikiran dan kepercayaan yang mengandung kata “harus“. Sebelumnya saya pernah membahas hal yang serupa di sini.

Kenapa pikiran seperti itu bisa bermasalah? Karena sifatnya terlalu kaku dan ekstrim.

Tuntutan yang kaku terhadap diri kita sendiri, lingkungan di sekitar kita, dan orang-orang lain seringkali membuat kita tidak dapat beradaptasi dengan realita (yang terus berubah) dengan baik.

Coba lihat contoh pikiran ini:

Saya harus mendapatkan pengakuan dari teman-teman dan rekan kerja saya.

Pemikiran seperti ini bisa membuat kita mudah gelisah dalam berbagai situasi sosial dan akan mendorong kita untuk terus mencoba memperoleh pengakuan dari semua orang (termasuk menyenangkan semua orang).

Karena saya sudah berusaha untuk baik terhadap orang lain, maka orang lain juga harus baik pada saya.

Tuntutan semacam ini tidak realistik, karena orang lain tidak hidup di dalam dunia kita. Orang lain hidup di dalam dunianya sendiri yang memiliki prioritas yang berbeda dengan kita, bahkan mungkin kita tidak selalu jadi yang utama dalam hidup mereka.

Saya teramat sangat harus tidak membuat orang lain merasa kecewa, sehingga saya akan selalu mendahulukan kesejahteraan orang lain, bahkan kalau perlu mengorbankan diri saya sendiri.

Pikiran seperti ini bisa membuat kita sama sekali tidak asertif; tidak sanggup mengatakan “tidak”, sehingga banyak sekali pekerjaan dan tuntutan yang harus kita penuhi (bahkan melebihi batas kemampuan kita), sehingga kita merasa tertekan.

Daripada menggunakan pola pikir kaku seperti 3 buah contoh di atas, usahakan untuk menciptakan pola pikir yang lebih fleksibel. Tentunya ini lebih sehat dibandingkan hidup di dalam dunia “keharusan”.

Kita bisa menggunakan kata-kata lain, misalnya “ingin”, “berharap” atau “lebih suka”. Ini tentu konotasinya beda dengan “harus” ya. Kita juga bisa puas menjalani hidup ini meskipun kita tidak terus-menerus memperoleh pengakuan dan menyenangkan semua pihak.

Terakhir, ingat ini: the world doesn’t play to your rules. Every people have their own rulebooks. Hal-hal yang kita anggap penting banget, belum tentu jadi penting bagi orang lain.

Jangan membiasakan diri untuk berpikir secara kaku. Statistik angka punya margin of error terhadap hasil perhitungan, rasanya aneh kalau manusia yang dinamis justru malah tidak punya.

Iklan

Satu tanggapan untuk “Fleksibel Dalam Berpikir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s