Keadilan

Dalam menghadapi dunia yang dipenuhi kekejaman, derita, dan keputusasaan, ada orang-orang yang melindungi diri mereka dengan berpikir bahwa semua ini sudah ada yang mengatur. Mereka berpikir begini: orang baik-baik akan mengalami hal baik, dan orang jahat akan mengalami hal buruk. Adil, gitu.

Jadi kalau ada orang yang mengalami penderitaan atau masalah, mereka layak mendapatkan hal itu karena memang mereka salah. Ini juga bisa dibalik: kalau ada orang yang dianggap salah atau jahat, sudah selayaknya mereka mendapatkan bencana.

Ini adalah bias kognitif just-world hypothesis. Intinya: kita kepingin ada keteraturan dan keadilan di dunia ini, itu sebabnya kita berpura-pura bahwa hal itu ada.

Kenapa kita bisa berpikir seperti ini?

Soalnya lebih enak berpikir tentang konsep itu daripada berpikir bahwa dunia ini nggak adil. Dualisme baik-jahat lebih sederhana, lebih mudah dicerna, dan dianggap lebih masuk akal. Kita ingin percaya bahwa mereka yang bekerja keras dan rela berkorban akan mendapatkan kebaikan, sementara mereka yang buruk dan malas akan mengalami nasib jelek.

Orang-orang yang mengalami bias kognitif seperti ini punya kecenderungan untuk lebih religius, lebih otoriter, lebih konservatif, lebih mudah kagum dengan tokoh politik dan institusi sosial, serta lebih bersikap negatif terhadap kelompok minoritas…

…dan biasanya mereka menganggap diri mereka ada di sisi kebaikan, hehe. Bercermin itu memang sulit, soalnya kita lebih melihat apa yang memang ingin kita lihat.

Kalian pasti pernah dengar istilah “azab”, “karma”, “hukum tabur tuai”, “indah pada waktunya”, atau sejenisnya. Iya, itu sebenarnya bias kognitif saja 😛

Berhasil atau tidaknya seseorang itu dipengaruhi oleh faktor kemampuan dan kemauan, tapi juga banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti lahir di mana, siapa orangtuanya, seperti apa kondisi sosioekonominya, atau faktor kebetulan lainnya (kemarin saya bahas ini juga di sini). Terkadang, orang yang cuma malas-malasan juga bisa berhasil. Misalnya teman kuliahmu yang pemalas, ga pernah belajar, ga pernah berdoa, ga pernah sedekah, kerjaannya cuma nonton serial TV, eh setelah lulus ternyata malah langsung jadi pemilik pabrik bapaknya. Maju pula pabriknya.

Dalam hati, kita ingin percaya bahwa kalau kita mengikuti “jalan yang benar”, maka kita akan bahagia, sukses, dan berhasil dalam hidup. Tapi kenyataannya, tidak ada sistem seperti itu di dunia ini.

Iklan

2 tanggapan untuk “Keadilan

  1. Bahagia itu sederhana, dan konsep bahagia orang itu berbeda2. Bahagia itu bagaimana kita menciptakan konsep kenyamanan kehidupan kita. Sementara kesuksesan, kesuksesan itu harus “dikejar”. Kita tidak akan mendapatkan kesuksesan jika hanya duduk manis menunggu durian jatuh.

    Konsep orang baik dan orang jahat. Sebenarnya setiap orang itu adalah baik, tidak ada orang jahat, mungkin tingkah dan perilakunya saja yang jahat.

    Saia salah satu seorang yang percaya kalau kita mengikuti jalan yang benar, maka kita akan bahagia, sukses, dan berhasil dalam hidup. Pun jika jalan yg ditempuh sudah benar, tp belum berhasil2 juga, itu artinya jalan yang kita pilih kurang tepat dan harus merubah alurnya. Yakinlah, ketika satu pintu tertutup, itu artinya pintu lain akan terbuka lengkap dengan segala keindahan yang ditawarkannya.

    eits, orang baru tp komen saia panjang juga yak:D
    nice artikel:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s