Reploid

Salah satu game action/platform yang terkenal di era SNES adalah Mega Man X. Kalau kalian pernah memainkan game ini, pasti kalian sudah kenal dengan istilah “Reploid”. Konsep ini cukup menarik untuk saya yang memang suka hal-hal sci-fi.

Tokoh utama game itu adalah X, robot yang punya kemampuan untuk berpikir, merasa, dan bertindak menurut pertimbangannya sendiri. Akan tetapi, diperlukan waktu agar sirkuit moral milik X bisa berfungsi dengan sempurna. Oleh karena itu, penciptanya (Dr. Light) menjalankan program diagnostik dan menyegel X selama 30 tahun untuk memastikan agar X tidak pernah melanggar hukum pertama robotika: robot tidak boleh melukai manusia. Dalam hal ini, X sangat berbeda dengan ciptaan Dr. Light sebelumnya (Rockman/Mega Man), yang selalu terpaku pada program dan aturan yang dibuat oleh penciptanya.

Sebelum diagnostik itu selesai, kapsul X ditemukan oleh Dr. Cain. Meskipun dia tidak bisa memahami sistem X sepenuhnya, dia berhasil menciptakan replika robot berdasarkan desain X, yang dia namakan Reploid (Replica + Android).

Apa permasalahan utama dalam seri Mega Man X? Reploid yang memberontak dan menyerang manusia. Hal ini disebabkan (salah satunya) karena Dr. Cain yang tidak bisa memahami karya Dr. Light sepenuhnya, dan juga karena virus yang diciptakan oleh Dr. Willy. Kalau kalian juga memainkan game Mega Man, kalian pasti sudah tahu siapa Dr. Light dan Dr. Willy.

Hal menarik dari kepribadian X adalah keragu-raguannya dalam bertindak. Karena program diagnostiknya dihentikan sebelum selesai sepenuhnya, dia mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan. Hal ini membuatnya sangat berbeda dengan reploid (yang merupakan replika dari dirinya) dan justru membuatnya lebih mirip dengan manusia.

Dalam seri sequelnya, Mega Man Zero, ada tokoh bernama Copy X. Tokoh ini adalah tiruan dari X, yang ternyata tidak memiliki pola pikir dan pengalaman yang sama dengan X. Kontras dengan X yang cenderung ragu-ragu dan banyak punya pertimbangan, X adalah reploid yang sangat tegas dan cenderung melakukan polarisasi masalah. Tidak ada abu-abu, hanya ada hitam atau putih.

Perbandingan ini sungguh menarik, karena semakin memperjelas bagaimana manusia memiliki proses yang lebih kompleks dalam mengambil keputusan. Sementara itu, pemikiran dan keputusan yang terlalu simplistis, sederhana, dan terburu-buru malah terkesan seperti pemikiran yang muncul dari otak robot yang -sebenarnya- tidak sempurna.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s