Menerima nasehat

Ini era social media yang bikin orang lebih mudah mengekspresikan dirinya. Rupanya, banyak juga orang-orang yang menggunakan social media untuk menasehati orang lain. Kalau di dunia nyata orang itu memang merupakan seorang mentor, leader sebuah company, atau sejenisnya, berarti sinkron ya.

Tapi ada juga yang nggak sinkron. Malah banyak akun anonim yang ikut-ikutan memberi nasehat dan petuah-petuah. Ternyata banyak juga yang follow dan baca yang begituan. Mungkin karena memang hidup itu susah dan serba random ya, jadi rasanya enak juga kalau sesekali ada yang bisa memberikan panduan buat kita.

Jadi gini ya: sekarang yang memberi nasehat dan petuah buat kita tuh terlalu banyak, jadi kita perlu belajar filtering semua informasi tersebut (kecuali kita mau menghabiskan sebagian besar waktu kita hanya untuk mendengarkan nasehat melulu). Jangan pernah sampai lupa siapa orang yang nasehatnya sedang kita dengarkan.

Betul, kita bisa dapat nasehat berguna dari orang yang gagal, tapi kita juga bisa dapat nasehat yang tidak berguna (malah merusak diri sendiri) dari orang yang kita anggap sukses besar. Jangan lupakan bahwa manusia tidak lepas dari motivasi pribadi, sehingga pikirkan juga kenapa orang itu menyampaikan nasehat itu. Jangan lupa juga mengingat kembali latar belakang orang yang nasehatnya sedang kita dengarkan.

P.S.: I do realize the irony of this post

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s