Buku | A Giant Pack of Lies: Menyorot Kedigdayaan Industri Rokok di Indonesia

Hari Tanpa Tembakau Sedunia

Tanggal 31 Mei adalah World No Tobacco Day (WNTD), yang ditujukan untuk mengajak dan terus meningkatkan kesadaran masyarakat di seluruh dunia tentang dampak negatif menghisap tembakau terhadap kesehatan. WNTD sudah dicetuskan sejak tahun 1987 oleh WHO (World Health Organization) dan terus berlangsung sampai tahun ini.

Di Indonesia, tembakau yang diolah dalam bentuk rokok sudah bukan merupakan pemandangan yang asing. Kita tidak akan kesulitan menemui pengguna rokok atau iklan rokok di berbagai media di Indonesia. Bahkan, mungkin menghindari kontak dengan rokok nampaknya justru lebih sulit daripada berusaha mencari produk rokok.

WNTD tahun ini, yang sebenarnya merupakan ajakan untuk tidak mengkonsumsi tembakau selama setidaknya 24 jam, tidak banyak digubris oleh kebanyakan pengguna rokok di Indonesia. Malah lebih banyak yang berkelakar serupa: “gue memusnahkan rokok dari dunia ini dengan cara dibakar terus asapnya gue hisap”. Seolah-olah itu lucu.

Nggak lucu sih, tapi saya jadi sedikit tahu attitude orang-orang itu. Biarlah. Mungkin mereka memang nggak menganggap masalah rokok sebagai masalah serius.

A Giant Pack of Lies


Buku karya Mardiyah Chamim, Wahya Dhyatmika, Farid Gaban, dkk (diterbitkan oleh KOJI Communications dan TEMPO Institute) yang tidak bisa diperoleh di toko buku.

Sekitar dua minggu yang lalu, saya mengikuti acara TEDxITT. Salah satu pembicara mereka adalah ibu Mardiyah Chamim, seorang jurnalis yang mengelola TEMPO Institute. Topik yang dibawakannya serupa dengan buku yang ditulisnya, yaitu A Giant Pack of Lies: Menyorot Kedigdayaan Industri Rokok di Indonesia.

Di akhir acara, saya memperoleh bukunya yang ternyata tidak bisa kita beli di toko buku mana pun. Kalau mau mendapatkan buku ini, harus datang ke acara diskusinya yang diadakan di berbagai tempat. Katanya sih karena ada kekhawatiran nanti bukunya akan ‘diborong’ oleh industri yang berkepentingan agar habis dan tidak beredar di pasaran. Penulis buku ini juga mengatakan bahwa sejak memulai penulisan buku ini, berkali-kali dia kehilangan data/file miliknya (karena dicuri atau entah bagaimana). Mungkin ada pengintai dari industri rokok? Serem juga ya.

Mardiyah Chamim berbicara di panggung TEDxITT, 20 Mei 2012
Buku ini terdiri dari 6 bab utama. Diawali dengan pernyataan bahwa penulis buku ini bukan seorang anti rokok (dalam artian bukan ingin melenyapkan rokok 100%), melainkan lebih menekankan pada regulasi industri rokok. Bab berikutnya membahas bahwa Indonesia merupakan lini akhir industri rokok, sebab negara-negara maju sudah memberlakukan regulasi yang ketat terhadap rokok, sehingga Indonesia merupakan pasar yang harus mereka pertahankan mati-matian. 
Empat “jurus” utama industri rokok yang dikupas dalam TEDxITT membuat pemikiran kami lebih terbuka dan kritis terhadap perusahaan rokok.

Ada juga penjelasan tentang bagaimana industri rokok tidak akan langsung hancur dalam sehari jika ada regulasi rokok, karena bagaimana pun juga, jumlah orang dewasa yang kecanduan rokok sudah banyak sekali. Lalu, ada penjelasan tentang dokumen industri rokok yang bisa diakses publik karena tuntutan dari masyarakat di negara-negara maju. Terakhir, buku ini ditutup dengan bukti-bukti yang ditemukan di lapangan.

7 Mitos Pengendalian Tembakau

Di buku ini, Felix Lamuri mengatakan bahwa dengan dana kampanye yang hampir tidak terbatas, industri rokok dengan lihainya memutarbalikkan fakta dan logika untuk merebut simpati publik sekaligus memojokkan kampanye pengendalian konsumsi tembakau. Tujuh mitos yang sering digembar-gemborkan adalah:

  1. Mitos: Tembakau adalah tanaman khas Indonesia – sebenarnya tembakau dikembangkan secara komersial di Indonesia oleh pemerintah kolonial Belanda. Tanaman tembakau sebenarnya berasal dari Amerika Latin.
  2. Mitos:  Merokok adalah hak individu – prinsip utama hak asasi adalah tidak mengurangi, apalagi menghilangkan kebutuhan individu atau kelompok lain yang bersifat universal (misalnya hak atas udara yang sehat)
  3. Mitos:  Ekonomi hancur jika pengendalian tembakau diterapkan – diukur dari penghasilan devisa, tembakau menempati posisi paling buncit dibandingkan dengan komoditas pertanian lain. Kebutuhan tembakau nasional juga jauh di atas jumlah produksi, sehingga tidak akan ada masalah.
  4. Mitos:  Publik sudah dewasa, tidak perlu pengaturan – justru negara-negara yang masyarakatnya lebih modern malah aktif dan sudah ikut meratifikasi konvensi internasional pengendalian tembakau.
  5. Mitos:  Rokok dikendalikan, media gulung tikar – media yang berhenti menerima iklan rokok bisa tetap terus bertahan hidup.
  6. Mitos:  Dunia olahraga, seni budaya, dan pendidikan tergantung industri rokok – banyak event olahraga dan seni budaya yang bisa tetap berlangsung meski tidak disponsori oleh rokok. Pemberian beasiswa rokok justru membuat generasi masa depan berhutang budi pada rokok.
  7. Mitos:  Pengendalian tembakau cuma akal-akalan pihak asing untuk menguasai pasar – justru yang menggagas pengendalian tembakau adalah negara berkembang.

Devide et Impera di Zaman Milenium

Sebagai penutup, penulis buku ini menyampaikan bahwa teknik yang digunakan oleh industri rokok untuk memelintir isu pengendalian tembakau ini adalah sejenis devide et impera. Seolah-olah, mereka yang menginginkan adanya pengendalian tembakau adalah ancaman bagi penduduk negara ini. Sementara itu, industri rokok terus untung sembari menonton kita yang jadi saling berseberangan satu sama lain.

Bacaan menarik lain tentang rokok:

Pandji PragiwaksonoJawab si koboi sambil berlalu dengan kudanya…
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI): Di Indonesia, Rokok Dijual Bebas Seperti Beras
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI): Rokok, Orang Terkaya dan Tragedi Pemiskinan Masyarakat
PitoresmiQuo Vadis, Perokok?
National Geographic IndonesiaTembakau Pembunuh Utama 6 Juta Orang di Dunia

Video Sex, Lies & Cigarettes’: Vanguard Sneak Peek (lengkap dengan subtitle Indonesia)


Foto diambil dari Facebook Fanpage TEDxITT.

Iklan

2 tanggapan untuk “Buku | A Giant Pack of Lies: Menyorot Kedigdayaan Industri Rokok di Indonesia

  1. Hi Seil,

    buku ini memang nggak dijual di toko buku besar. Untuk mendapatkannya, harus datang ke acara diskusi yang diadakan oleh tim penulis. Biasanya mereka akan bagi-bagi bukunya di situ.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s