modifikasi narasi

Seorang teman (sebut saja A) kepingin beli sebuah laptop merk tertentu yang biasanya punya harga premium, alias mahal. Lalu, di sebuah situs jejaring sosial dia menemukan bahwa ada orang yang menjual laptop yang dia inginkan dengan harga murah, sekitar 30% dari harga yang ada di toko. Cuma sepertiganya. Murah sekali bukan? Dengan semangat menggebu-gebu, dia langsung menghubungi si penjual dan dia diminta untuk mentransfer sejumlah uang ke rekening si penjual. Karena takut keburu dijual ke orang lain, langsunglah dia transfer, baru habis itu dia memberikan alamat kostnya ke si penjual.

Setelah menunggu beberapa hari, pesanan tak kunjung tiba. Si penjual pun kembali dihubungi berkali-kali, tapi tidak ada respon. Nampaknya orang ini lenyap dari dunia ini, termasuk dari dunia maya.

Teman saya, si A, sudah tertipu sekian juta rupiah.

Dia menceritakan ini kepada saya. Beberapa hari kemudian, saya bertemu dengan teman saya yang lain, sebut saja si B. B bertanya kepada saya, kira-kira seperti ini: “apa kamu sudah tahu apa yang terjadi pada si A?”.

Saya jawab sudah. Lalu si B berkomentar lagi, “gila banget ya, kok bisa dia kena hipnosis gitu. serem juga.”

Loh, hipnosis? Perasaan kemarin ceritanya nggak begitu? Rupanya, si B ini mendengar cerita ‘versi revisi’ dari si A. Dalam ‘versi revisi’ ini, si A menjadi korban hipnosis sehingga dia benar-benar terkesan seperti orang yang tidak berdaya melawan kekuatan mental seperti itu. Tentu saja ‘versi revisi’ ini terdengar jauh lebih baik daripada versi aslinya, yang menunjukkan betapa polosnya (dan juga agak bodoh) dia.

Seringkali ini terjadi dalam kejadian lain. Cerita yang disampaikan oleh orang lain kepada kita bisa jadi merupakan sebuah kisah yang terjadi di dalam kepalanya. Banyak hal-hal yang dimodifikasi dan dipersepsikan lain, baik sengaja maupun tidak sengaja.

Mungkin saja orang itu ingin menimbulkan kesan tertentu dalam ceritanya, seperti contoh di atas. Saat mendengarkan orang lain, kita bukan berhadapan dengan data objektif, melainkan sebuah makhluk hidup yang punya perasaan. Jadi usahakan berpikir lagi saat mencerna cerita orang lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s