Kenangan Gajah

Creative Commons AttributionGajah yang punya bulu mata – Credit: Doug Wheller

“Apa kamu tahu bahwa para ilmuwan pernah beranggapan bahwa gajah punya esp?
“Maksudmu E.S.P? Extrasensory Perception atau indra keenam?”
“Omong-omong, gajah bisa menetapkan pertemuan di lokasi-lokasi yang sangat jauh, dan mereka tahu akan ada di mana teman-teman dan musuh-musuh mereka, dan mereka bisa menemukan air tanpa memerlukan petunjuk geologis. Tidak ada yang tahu bagaimana mereka bisa melakukan semua itu. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Entahlah.”
“Bagaimana mereka melakukan itu?”
“Itu?”
“Bagaimana mereka bisa menetapkan tempat pertemuan kalau mereka tidak punya E.S.P?”
“Kau bertanya kepadaku?”
“Ya.”
“Aku tidak tahu.”
“Kamu ingin tahu?”
“Tentu.”
“Sangat?”
“Tentu.”
Mereka saling memanggil dengan suara yang sangat, sangat, sangat, sangat dalam, jauh lebih dalam daripada yang bisa didengar oleh manusia. Mereka saling bicara. Keren sekali,  kan?
“Betul.”
Aku memakan sebutir stroberi.
“Ada seorang perempuan yang menghabiskan beberapa tahun terakhir di Kongo atau entah di mana. Dia merekam semua panggilan gajah dan mengumpulkannnya di sebuah perpustakaan yang sangat besar. Setahun terakhir ini, dia memutarnya.”
“Memutarnya?”
“Untuk para gajah itu.”
“Kenapa?”
Aku cinta caranya bertanya kenapa.
“Seperti yang mungkin kamu sudah tahu, gajah punya ingatan yang jauh, jauh lebih tajam daripada mamalia lainnya.”
“Ya, sepertinya aku tahu soal itu.”
“Jadi, perempuan ini ingin melihat sebagus apa ingatan mereka sebenarnya. Dia memutar panggilan seekor musuh yang direkam beberapa tahun yang lalu -sebuah panggilan yang hanya mereka dengar sekali- dan mereka panik, kadang-kadang mereka berlarian. Mereka masih ingat ratusan panggilan. Ribuan. Mungkin bahkan tidak terbatas. Itu menarik, kan?”
“Ya.”
“Karena yang betul-betul menarik adalah waktu dia memutar panggilan seekor gajah yang sudah mati untuk anggota keluarganya.
“Dan?”
Mereka ingat.
“Apa yang mereka lakukan?”
Mereka menghampiri pengeras suara. Aku penasaran dengan perasaan mereka. Saat mereka mendengar suara saudara mereka yang sudah mati, apakah mereka mendekati jeep dengan perasaan cinta? Atau ketakutan? Atau kemarahan?

– Cuplikan dialog antara Oskar Schell dan Abby Black dalam novel Extremely Loud and Incredibly Close , karya Jonathan Safran Foer. Cuplikan ini diketik ulang dari versi Indonesia, hasil terjemahan Antie Nugrahani (terbitan Mahda Books).

 Extremely Loud and Incredibly Close adalah kisah seorang anak bernama Oskar Schell yang kehilangan ayahnya dalam peristiwa 9/11. Dua tahun semenjak peristiwa tersebut, Oskar menjadi seorang anak yang paranoid. Dia tidak bisa naik elevator, masuk ke dalam kereta api bawah tanah, atau bepergian jauh… karena dia takut akan ada serangan teroris. Pada suatu hari, dia menemukan sebuah amplop berisi kunci di dalam kloset ayahnya. Di amplop itu tertulis “Black“.

Sewaktu ayahnya masih hidup, Oskar dan ayahnya suka melakukan permainan mencari harta karun, sehingga Oskar berpikir bahwa ini adalah petunjuk harta karun lain yang disampaikan oleh ayahnya. Kemudian, Oskar memutuskan untuk mencari lubang kunci mana yang sesuai dengan kunci tersebut. Untuk bisa menyelesaikan hal ini, dia bertekad untuk menghubungi semua orang di kota New York yang nama keluarganya adalah Black.

Oskar menceritakan kisah tentang gajah ini kepada Abby Black, yang ditemuinya setelah dia gagal bertemu dengan Aaron Black. Bab ini cukup sedih karena Oskar adalah seorang anak berumur 12 tahun yang bercerita dengan sangat polos, tanpa menyadari bahwa dia sedikit menceritakan tentang perasaannya sendiri yang ditinggal mati oleh ayahnya.

Apakah perilaku gajah ini dapat dijadikan sebuah analogi bagi reaksi manusia yang ditinggal mati oleh significant other-nya? Entahlah. Tapi saya memang merasakan nuansa kesedihan dalam bagaimana Oskar menceritakan kisah ini. Kesedihan yang halus, bukan berupa teriakan keras “saya sedang sedih loh dan kamu harus tahu itu!”. Terkadang, sesuatu yang disampaikan secara halus bisa lebih menyentuh dibandingkan dengan sesuatu yang disampaikan secara gamblang.

P.S.: “Seorang perempuan yang menghabiskan beberapa tahun terakhir di Kongo atau entah di mana” yang disebut oleh Oskar adalah Katy Payne, yang melakukan riset panjang dalam Elephant Listening Project. Dalam novel ini, terdapat gambar gajah yang meneteskan air mata. Kenyataannya memang benar bahwa gajah bisa melakukan hal itu, tapi belum bisa dipastikan apakah mereka mengeluarkan air mata untuk mengekspresikan emosi atau untuk membersihkan debu.

Iklan
Dikirimkan di buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s