turning inner demons into something positive like a bawz

Q: Who wants to work with people who have problems?

A: People who have had the same ones and have overtaken them.

Salah satu truth-based jokes (yang sering banget diulang) terkait dengan psikologi adalah kebanyakan orang yang kuliah di psikologi sebenarnya sedang rawat jalan. Mungkin ada benarnya ya, jangan-jangan pemilihan jurusan itu dipengaruhi juga oleh keinginan untuk “pulih”, keinginan untuk bisa mengatasi kecemasan, dan keinginan untuk lebih memahami dirinya sendiri.

Untuk kalian yang kuliah di psikologi, coba amati teman-teman satu jurusan kalian: apa benar orang-orang di jurusan ini punya kecenderungan neurotik (atau gangguan mental lainnya) yang lebih besar daripada jurusan lain? Yang saya maksud gangguan mental di sini tuh bukan berarti jalan-jalan telanjang sambil mengeluarkan busa dari mulut ya :)) Yang sudah kuliah Psikologi Abnormal mungkin bisa sedikit lebih paham. Kalau kalian sudah mengamati dan tidak ketemu orang neurotik, jangan-jangan kalian sendiri yang neurotik 😛 Mengakui kelemahan diri sendiri memang susah, karena dipengaruhi bias kognitif.

Ini berlaku di berbagai penjuru dunia loh. Ada yang pernah menulis (dalam canda, tentunya) bahwa jika kamu ingin ketemu dengan banyak orang-orang yang kondisi emosionalnya paling terganggu se-Amerika, datang saja ke kongres tahunan APA (American Psychological Association).

Kalau mau agak serius dikit, Prof. Johana Prawitasari di buku Psikologi Klinis (2011, hal. 37) mengatakan bahwa justru untuk menjadi seorang psikolog klinis yang baik, orang itu sebaiknya memiliki neurotisisme tertentu yang sudah bisa dikendalikan dengan dalam kadar tertentu. So it takes one to help one? Tentu saja banyak syarat-syarat lain yang perlu dipenuhi, misalnya kecerdasan dan kompleksitas kognitif, insight diri, keterampilan sosial, serta kemampuan menarik diri / jaga jarak.

Mungkin ini terkait dengan proses penyembuhan lewat modelling yang dilakukan klien, yang mungkin bisa lebih terbantu jika ditangani oleh seorang terapis yang bisa menjadi role model atau figur contoh karena sudah berhasil mengatasi sendiri inner demon yang tinggal di dalam dirinya, dan mengubahnya menjadi sesuatu yang positif.

Ini bisa jadi ditiru oleh tiap orang, bukan cuma oleh orang yang sedang belajar psikologi saja: kemampuan untuk menjadikan inner demon dalam diri kita, yang tadinya menyiksa diri kita, menjadi sesuatu yang berguna, entah bagi diri kita atau orang lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s