Kisah Isabel Briggs Myers

Isabel Briggs Myers

Salah satu ucapan Socrates yang terkenal adalah gnothi seauton (kenalilah dirimu sendiri). Pertanyaan tentang “kenapa sifat saya begini?”dan “kenapa dia sifatnya begitu?” merupakan topik menarik yang banyak diteliti dalam ilmu psikologi kepribadian. Ada banyak tokoh yang menggunakan pendekatan yang berbeda dalam mendeskripsikan perbedaan individual antar manusia. Salah satu tokoh yang paling terkenal adalah Isabel Briggs Myers, yang menciptakan alat tes Myers-Briggs Type Indicator (MBTI).

Alat tes Myers-Briggs Type Indicator yang pertama kali diciptakan pada tahun 1940an memberikan banyak kontribusi dalam ilmu konstruksi alat ukur psikologi yang digunakan sekarang ini. Tentu saja format MBTI yang sekarang ini sudah sangat berbeda dengan versi tahun 1940an. Asal usul kelahiran alat tes di tangan Isabel Briggs Myers ini sebenarnya cukup menarik.


Pada liburan Natal, Isabel membawa pacarnya (Clarence Myers, yang kemudian menjadi suaminya) ke rumah untuk dipertemukan dengan orangtuanya. Saat itu, Katherine Briggs (ibu Isabel) berkomentar bahwa Clarence punya sifat yang sangat berbeda dengan keluarga Briggs. Berawal dari komentar ini, Isabel terdorong untuk mempelajari lebih dalam tentang manusia dengan cara membaca bermacam-macam buku biografi tokoh-tokoh terkenal. Dari hasil bacaannya, dia melihat bahwa tiap orang memiliki ciri dan pola kepribadian tertentu. Ada tokoh yang cenderung meditatif, ada yang spontan, ada yang sangat social, dan macam-macam jenis lainnya. Pada saat itu, Isabel dan Katherine menemukan karya Carl Jung yang berjudul Psychological Types.

Carl Jung. Less creepy than Freud.

¬†Dalam Psychological Types, Carl Jung melihat bahwa cara-cara manusia melihat dunia dapat dikategorikan dalam suatu kontinum yang mempunyai 2 kutub. Kebanyakan orang berada di antara kedua kutub tersebut. Ada orang yang lebih suka sering mengandalkan perasaan, sebaliknya ada yang lebih suka banyak menggunakan nalar yang logis. Ada yang orang-orang yang “hangat” dalam pergaulan sosial, ada yang “dingin”. Ada yang lebih suka dikelilingi oleh banyak orang, ada yang lebih suka sendirian.


Perbedaan sifat ini dapat menimbulkan konflik, karena tiap orang lebih suka menggunakan cara yang lebih disukainya. Selain itu, konflik juga timbul karena kita tidak mengerti atau tidak menghargai cara yang digunakan oleh orang lain dalam memandang dunia. Orang yang banyak menggunakan perasaan mungkin akan merasa heran, kenapa orang yang suka menggunakan nalar begitu ‘dingin’ dan juga tidak berperasaan. Sebaliknya, tipe yang lebih suka menggunakan nalar malah berpikir kok bisa-bisanya ada orang yang mengandalkan perasaan, padahal perasaan itu kan sifatnya subyektif. Yang jelas, tidak ada tipe yang lebih baik daripada tipe yang lain, karena tergantung pada konteksnya. Tipe tertentu akan lebih cocok mengerjakan hal-hal tertentu pula, tidak ada tipe yang ‘serba bisa’ dan selalu cocok dalam berbagai kondisi.

Kembali ke Isabel, dia bukan orang yang memiliki pendidikan dalam psikologi secara formal. Dia adalah seorang sarjana FISIP (political science). Sewaktu kecil, dia juga dididik lewat home schooling, karena sudah menjadi tradisi dalam keluarganya untuk mendidik anak lewat metode tersebut. Pada tahun 1918, akhirnya Isabel menikah dengan Clarence Myers, sehingga nama lengkapnya menjadi Isabel Briggs Myers.

“I dream that long after I’m gone, my work will go on helping people.” -Isabel Myers, 1979

Saat perang dunia II, banyak orang yang beralih profesi ke dunia militer. Alasan yang kerap kali muncul adalah alasan patriotisme, tapi ternyata banyak juga orang yang tidak suka menjadi seorang tentara karena ketidaksesuaian dengan tipe kepribadiannya. Dari pengamatan ini, Isabel mencari cara untuk menerapkan konsep tipologi kepribadian Carl Jung menjadi sesuatu yang praktis dan dapat digunakan dalam berbagai bidang.

Alat tes yang kemudian dinamakan MBTI ini tidak lahir dalam sekejap, melainkan melewati proses riset panjang selama 20 tahun (dan terus dikembangkan selama puluhan tahun). Hasil dari skoring alat tes ini akan berupa 4 buah huruf alfabet yang terdiri dari 16 tipe. Jika ingin tahu lebih banyak tentang alat tes ini, mungkin kalian bisa ikut pelatihannya di berbagai learning center atau pusat pelatihan. Di Indonesia, alat tes ini cukup banyak digunakan dalam konteks pendidikan dan juga industri. Saya nggak akan terlalu banyak membahas tentang alat ukur tersebut di sini.

Meskipun Isabel adalah seorang introvert (INFP), dia tidak bekerja sendirian dalam proyeknya ini. Dia banyak dibantu oleh berbagai pihak dari dunia bisnis (Philadelphia Bank), pendidikan (berbagai sekolah di Pennsylvania), dan juga dunia medis (George Washington School of Medicine). Rupanya memang benar bahwa sebuah karya penting tidak dibesarkan dalam kesendirian, tetapi lewat kolaborasi berbagai pihak.

Subjek penelitian yang disukai oleh Isabel Briggs Myers adalah mereka yang bekerja di profesi kesehatan. Menurutnya, mereka yang memegang nyawa dan nasib orang lain di tangan mereka merupakan orang-orang yang harus memiliki kemampuan persepsi yang akurat dan mampu memberikan judgment secara terbuka. Penelitiannya terhadap subjek ini tidak main-main, jumlah subjeknya saja 5.355 orang mahasiswa kedokteran, dan ini merupakan penelitian longitudinal. Jadi lima ribu subjek itu terus-menerus diteliti datanya selama 25 tahun, nggak cuma sekali ambil data saja. Sampai sekarang, ini masih dianggap sebagai salah satu penelitian terbesar dalam dunia medis. Dari hasil penelitiannya, Isabel ikut mengembangkan kurikulum yang mampu mengembangkan kemampuan persepsi dan juga judgment mahasiswa kedokteran dan keperawatan, agar dapat menjalankan profesinya dengan baik.

Oh ya, lewat hasil penelitiannya, ternyata memang benar bahwa Isabel memiliki tipe kepribadian yang berbeda dengan suaminya. Isabel adalah seorang INFP, sedangkan suaminya (Clarence) tipe ISTJ. Meskipun demikian, perbedaan ini tidak membuat mereka saling menghancurkan satu sama lain. Pemahaman bahwa tiap orang memiliki caranya sendiri dalam memandang dunia dan juga pengetahuan tentang tipe kepribadiannya bisa membuat kita mau untuk lebih berusaha memahami orang lain. Dengan berbekal pemahaman tentang tipologi kepribadian, kita tahu bahwa saat berhadapan dengan tipe pemikir, mungkin sebaiknya kita menyampaikan apa hasil yang bisa dicapai dan kondisi saat ini lewat penjabaran yang logis. Saat berhadapan dengan tipe yang menggunakan perasaan, kita mungkin bisa menyampaikan bagaimana hal ini bisa memberi dampak emosi tertentu pada orang lain yang terlibat, dan seterusnya.

Yang saya suka dari tipologi kepribadian yang dikembangkan oleh Isabel Myers: konsep ini memberikan dukungan bagi tiap orang untuk melakukan hal-hal yang lebih sesuai dengan diri mereka. Di dunia yang dikuasai oleh extravert ini, seringkali orang introvert dipaksa menjadi “orang lain” (misal: “dipaksa” harus rajin bergaul dengan orang baru). Hal lain yang menarik adalah tipologi kepribadian ini menjelaskan bahwa tipe kepribadian juga memiliki kontribusi yang tidak kalah besarnya dalam keberhasilan hidup, dibandingkan dengan IQ belaka.

Meskipun banyak kritik yang disampaikan terhadapnya (tentang latar belakang pendidikannya, tentang interpretasinya terhadap konsep Jungian, dan metodologi risetnya), karya Isabel Briggs Myers ini terus digunakan dalam berbagai bidang di seluruh dunia. Ada yang menggunakannya untuk pengembangan diri, pemilihan jurusan program studi kuliah, atau penempatan karyawan. Dosen saya di Fakultas Psikologi mengatakan bahwa jika ingin terus dikenang, ciptakanlah karya yang berguna agar nama kita terus abadi. Karya Isabel Briggs Myers ini adalah salah satunya.

Isabel Briggs Myers meninggal di usia 82 tahun (1980). Menjelang akhir kehidupannya, dia tetap punya semangat untuk berdiskusi dan mengembangkan konsep tipologi kepribadian yang digunakan dalam MBTI. Meskipun energinya terkuras oleh penyakit dan usia tua, dia akan kembali terlihat bersemangat dan duduk tegak saat ada orang yang mengajaknya berdiskusi mengenai MBTI. Meskipun tidak memiliki pendidikan formal sebagai seorang psikolog, konsep-konsep yang ada di dalam kepalanya merupakan hasil penelitian selama puluhan tahun yang tidak pernah berhenti dia perbaharui, bahkan hingga menjelang ajal.

Sumber:
Butler-Bowdon, Tom. 2007. 50 Psychology Classics: Who we are, How we think, What we do. London: Nicholas Brealey Publishing
http://en.wikipedia.org/wiki/Isabel_Myers
http://en.wikipedia.org/wiki/Carl_Jung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s