Going the distance

Setelah membiasakan diri membuat postingan blog setidaknya sehari sekali (dan sekarang saya malah jadi gelisah dan tidak bisa tidur nyenyak kalau belum menulis di blog untuk hari itu – yay for neuroticism!), saya ingin mencoba untuk menciptakan kebiasaan baru: lari pagi. Selain bisa membuat badan jadi lebih sehat, saya juga ingin kembali ‘menormalkan jam biologis’ saya. Kalau kamu seorang night owl, dan itu efektif buat kamu… well, itu juga bagus sih. If you’re happy with it, don’t change.

Memulai hari di pagi yang hening bisa memberikan suasana tenang yang saya butuhkan untuk berpikir lebih jernih. Soalnya saya tipe yang nggak bisa mikir kalau banyak suara-suara lain yang menjadi distraksi. Manfaat lain dari lari pagi adalah saya pasti sarapan, soalnya capek habis lari. Setiap saya bangun agak siang sedikit, seringkali saya hanya minum segelas kopi dan langsung berangkat dari rumah. Kebiasaan lupa sarapan ini tidak baik, sebab tubuh kita membutuhkan asupan nutrisi. Ditambah lagi, rasanya semua praktisi kesehatan menyarankan kita agar selalu sarapan 😀

Saya kagum dengan teman-teman yang biasa bangun pagi dan memulainya dengan olahraga. Banyak sekali teman yang saya jumpai di bangku kuliah rupanya memiliki kebiasaan sebaliknya, biasa tidur hingga subuh, lalu bangun pada saat hari menjelang siang dan dalam kondisi yang tidak segar 😀 Meskipun kelihatannya ‘lari pagi setiap hari’ ini tindakan yang kecil dan sepele, yang sulit sebenarnya adalah komitmen untuk menjalankan tindakan ini setiap hari. Doing it once is easy. Sustaining your behavior is hard. Padahal katanya manusia ini creature of habit ya, tapi kenyataannya membentuk habit yang positif itu sulit.

Banyak sekali tokoh-tokoh menarik yang punya kebiasaan berlari. Sandiaga Uno adalah salah satu yang cukup dikenal dengan kebiasaannya berlari (marathon, bahkan). Dahlan Iskan juga suka lari pagi, terkadang outdoor di lapangan, kadang-kadang indoor di tangga gedung-gedung yang tinggi. Penulis novel asal Jepang, Haruki Murakami, juga punya kebiasaan berlari.

Tulisan ini jadi sejenis komitmen tertulis saya untuk memulai kebiasaan baru. After all, komitmen tertulis lebih mengikat daripada komitmen lisan (apalagi dibandingkan komitmen yang hanya dilontarkan dalam hati).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s