Object Permanence

Anak kecil itu lucu yah. Banyak anak preschool / kindergarten yang berpikir bahwa guru mereka di sekolah adalah makhluk unik yang hanya bisa mereka temui di sekolah, cuma ada di sekolah itu saja, dan hidup di dalam sekolah. Tidak heran kalau banyak dari mereka yang berpikir kalau guru mereka tidur di dalam sekolah šŸ˜€

Ini merupakan perkembangan kemampuan berpikir (kognisi) anak-anak yang masih belum sekompleks manusia dewasa. Pada saat usia 0-2 tahun pertama dalam hidupnya, anak-anak belum memiliki pemahaman object permanence yang sempurna. Kalau kata tokoh psikologi perkembangan, Jean Piaget, itu karena mereka masih berada dalam tahap sensori motorik. Object permanence adalah kemampuan mengetahui bahwa suatu benda tetap “ada” meskipun benda itu tidak mereka lihat, dengar, atau sentuh. Anak usia 0-2 tahun, jika mainannya kalian sembunyikan, mereka mungkin berpikir bahwa benda itu lenyap, tidak ada lagi.

Seiring dengan berkembangnya usia, anak-anak tahu bahwa guru mereka tetap ada meskipun mereka pulang dari sekolah. Akan tetapi, mereka belum dapat memahami bahwa “guru” hanya merupakan salah satu peran yang dijalankan oleh pengajar mereka di sekolah. Jika bertemu dengan guru mereka di supermarket, misalnya, mereka akan tetap memandang guru mereka sebagaimana mereka memandangnya di sekolah.

Semakin dewasa, maka seharusnya perkembangan kognitif seseorang semakin matang. Akan tetapi, banyak dari kita yang sulit sekali memahami bahwa orang yang kita temui di hadapan kita merupakan suatu “objek yang permanen”. Dalam arti begini, jika kita tidak melihat, dengar, atau memegang orang tersebut, orang tersebut tetap “ada” dan punya kehidupan sendiri. Untuk dapat lebih memahami dan dipahami oleh orang lain, ada baiknya jika kita mengingat kembali bahwa keberadaan orang lain tidak hanya divalidasi oleh diri kita seorang.

Sayangnya, banyak sekali dari kita yang masih kesulitan untuk punya pemahaman “object permanence” ini. Katakanlah misalnya ada mahasiswa tingkat akhir yang sering mengeluh tentang dosen pembimbingnya. Dia mengeluh, kenapa dosen saya tidak lekas membaca draft skripsi yang sudah saya kumpulkan? Kenapa saya tidak mendapatkan waktu bimbingan khusus? Kenapa dosen saya tidak lekas meluluskan saya, padahal saya sudah semester ‘bonus’? Padahal teman-teman saya kan sudah lulus, padahal kan saya ingin cepat kerja, padahal kan saya ingin cepat menikah, padahal kan orangtua saya ingin saya cepat wisuda, padahal kan… dst. dst. (contoh ini diambil dari cerita seseorang yang membocorkan curhatan seseorang kepada saya).

Jangan lupa bahwa dalam interaksi sosial, kita berhadapan dengan manusia. Saat berinteraksi dengan komputer, misalnya membuka Google, kita sedang berinteraksi dengan algoritma. Algoritma itu diciptakan khusus untuk fungsi tertentu. Beda dengan manusia. Manusia tetap “ada” meskipun kita tidak melihat, mendengar, atau memegang orang tersebut. Manusia lain punya fungsi dan kegiatan lain meskipun kita tidak mengetahui keberadaan fungsi dan kegiatan tersebut. Manusia itu kompleks, lebih kompleks daripada algoritma komputer.

P.S.: penggunaan istilah object permanence dalam tulisan ini saya gunakan sesuka hati saya, jadi jangan dijadikan acuan dalam tugas kuliah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s