Broad View

Dalam novel To Kill a Mockingbird, sang narator (Scout Finch) membuka cerita dengan mengatakan bahwa peristiwa yang terjadi di sekelilingnya disebabkan oleh satu hal yang lain. Dalam pembuka novel tersebut, peristiwa yang dibahas adalah luka parah di lengan kanan kakaknya (Jem Finch). Awalnya dia berpikir bahwa penyebabnya adalah tokoh antagonis dalam novel tersebut, yaitu keluarga Ewell. Tapi Jem melihat dengan pemikiran yang lebih luas lagi (broad view), bahwa sebenarnya kejadian tersebut berhulu dari kejadian lain yang terjadi bertahun-tahun sebelumnya, yang juga disebabkan dari kejadian lainnya. Jadi, ada rangkaian peristiwa yang saling berhubungan. Scout menambahkan jika dia ingin melihat secara broad view, peristiwa itu bermula dari leluhurnya yang masih mengejar-ngejar orang Indian dan ayahnya yang melawan tradisi keluarga karena menjadi seorang pengacara. Dia bisa melihat hubungan antar kejadian tersebut setelah dia lebih dewasa, merenung, dan kemudian menceritakan ulang pengalamannya tersebut.

Sebagai orang yang suka membaca buku, saya sangat menyarankan kepada kalian untuk membaca buku ini karena banyak nilai-nilai berharga yang disampaikan dalam novel ini. Tokoh Atticus Finch merupakan gambaran manusia yang sangat manusia. Meskipun digambarkan sebagai orang yang memiliki prinsip keadilan, baik hati, dan rendah hati, dia tetap merupakan manusia biasa yang memiliki kebimbangan dalam menjalankan prinsip yang dimilikinya.

Mungkin pesan yang ingin disampaikan oleh Harper Lee, penulis novel tersebut, adalah bahwa kita, sebagai manusia, sebaiknya memiliki pemikiran yang luas dalam memaknai peristiwa yang menimpa kita. Pemikiran seperti itu sangat baik tapi cukup sulit dilaksanakan. Seringkali kita berpikir bahwa penyebab terjadinya peristiwa X adalah karena si A begini, lalu si B bertindak begitu, padahal kalau kita telusuri lagi hingga ke hulu, bisa saja penyebabnya adalah tindakan yang dulu dilakukan oleh kita sendiri. Tidak semua orang bisa merenung dan melakukan introspeksi dengan jujur, karena seringkali malah jatuh ke dalam jebakan pikiran berupa justifikasi. Tidak sedikit orang yang setelah mengingat kembali peristiwa yan menimpanya, dia malah menyusun cerita yang semakin menempatkan dirinya sebagai protagonis tanpa cela yang hanya menjadi korban dari rangkaian peristiwa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s