Penjaga Gerbang Tol

Sejak SMA, saya sangat sering bepergian dengan menggunakan jalan tol. Apalagi sejak kuliah… dari Senin-Jumat setidaknya saya akan 2x menggunakan jalan tol per hari (Kopo dan Pasteur). Sudah banyak perubahan yang terjadi dalam rentang waktu sekitar 7 tahun tersebut, misalnya dari segi harga (-_-) dan penggunaan gerbang tol otomatis. Tapi ada satu hal yang tidak berubah: penjaga gerbang tol.

Kalau kita masuk gerbang tol, sudah banyak gerbang yang menggunakan mesin tiket otomatis. Tapi untuk gerbang keluar tol, semuanya masih menggunakan tenaga manual. Wajar saja, kan biaya penggunaan jalan tol untuk tiap jalur itu beda-beda.  Biaya dari Kopo ke Pasteur tentu beda dengan yang dari Pasir Koja ke Pasteur.

Biasanya penjaga gerbang tol itu adalah satu orang yang akan menerima tiket kita dan dengan cekatan memberikan uang kembalian jika kita menggunakan uang besar. Yang menarik, penjaga gerbang tol di gerbang Kopo tidak pernah berubah.

Dari sejak saya SMA sampai menjadi sarjana, penjaga gerbangnya selalu yang itu-itu saja. Nggak ngerti kenapa. Apakah memang karirnya stuck di situ saja? Saya sih membayangkan tidak ada orang yang bercita-cita untuk menjadi penjaga gerbang keluar tol. Mudah-mudahan gajinya naik terus ya…

Saya berpikir, kok mereka tidak keluar dari pekerjaan itu dan cari pekerjaan yang lain ya? Saya melihat bahwa pekerjaan itu sangat monoton dan juga tidak sehat (karena berada di lingkungan yang penuh dengan asap knalpot kendaraan). Apakah karena mereka sudah menganggap kotak itu sebagai zona aman mereka?

Saya jadi ingat dulu pernah melihat gambar kandang hamster yang dikonstruksi sedemikian rupa sehingga jika hamsternya berlari di running wheel selama beberapa saat, maka akan keluar food pellets dari mesinnya. Entah kenapa penjaga gerbang tol itu mengingatkan saya pada kandang hamster tersebut.

Nah, kalau mau digeneralisasikan, sebenarnya ini berlaku untuk banyak orang. Di dunia ini ada banyak sekali orang yang berada dalam pekerjaan yang monoton, membosankan, merusak kesehatan, dan tidak selaras dengan cita-cita serta passion mereka. Tapi mereka tidak pindah dari pekerjaan tersebut, karena khawatir tidak akan mendapatkan pekerjaan lain. Mereka sudah dibuai oleh rasa aman yang diberikan oleh gaji tetap mereka…

Untuk kita yang baru lulus dan memulai karir, mungkin kita akan memulai first job kita di tempat yang seperti itu. Mungkin kita tidak suka pekerjaan itu, tapi kita tetap menerimanya dengan dalih ‘hitung-hitung cari pengalaman kerja’ atau ‘ini cuma batu loncatan saja’.

Ada juga orang yang mengatakan bahwa sebaiknya kita nggak kejar passion kita secara langsung (misal, saya suka buku bukan berarti saya harus langsung buka usaha bikin toko buku), tapi lakukanlah kegiatan dan pekerjaan yang memberdayakan diri kita agar mampu mengejar passion kita nanti. 

Permasalahannya adalah apakah kita berani meninggalkan zona aman tersebut? Bahasa gaulnya: nanti kamu bisa move on gak?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s