Tentang Bom Bunuh Diri di Solo

Hari ini ada sebuah tragedi yang mengerikan di Solo: seorang pelaku bom bunuh diri meledakkan dirinya di dalam sebuah gereja. Tentu saja jagad maya segera memberikan reaksi yang beragam… (hashtag #PrayForSolo merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan lagi dan pasti jadi Trending Topics).

Nah, ada statement yang menarik dari seorang Menteri(ternyata bukan Menteri, thanks temen IA yang udah kasih tahu :D); kurang lebih dia mengatakan bahwa pelaku bom bunuh diri  itu tidak ber-Tuhan dan tidak berkeperimanusiaan”.

Apa iya?

Meskipun saya tidak tahu apakah orang di balik kasus pengeboman ini percaya Tuhan atau tidak, tapi saya sangat yakin bahwa si pelaku bom bunuh diri itu justru ber-Tuhan. Dia sangat beriman. Bukankah iman sesungguhnya adalah bentuk penyerahan diri total terhadap apa yang kita percayai? Orang itu kan mau meledakkan dirinya sendiri justru karena dia percaya bahwa dia akan mendapatkan imbalan yang besar di surga**.

Statement dari menteri ini menunjukkan bahwa di Indonesia, orang-orang masih menyangkal bahwa agama memiliki dampak buruk. Menurut saya pribadi, agama memang bisa memiliki dampak buruk (dampak baiknya juga ada kok). Di luar masalah apakah Tuhan itu ada atau tidak, intinya agama merupakan suatu institusi yang dibangun oleh manusia. Mungkin saja pada awalnya agama merupakan institusi yang memiliki tujuan mulia (tapi kebanyakan sih tujuan politis), tentu akan ada pergeseran seiring dengan bergantinya orang-orang yang ”mengendalikan” agama tersebut. Wujud agama yang ‘sampai di Indonesia’ kan pasti sudah berbeda dengan wujud agama di tempat asalnya toh?

Permasalahannya, kebanyakan orang di Indonesia masih meninggikan label agama sebagai sesuatu yang mulia, tinggi, dan tidak bercela. Tentu saja hal ini akan sangat memudahkan para provokator untuk menunggangi agama dalam menjalankan aksinya. Iya lah, mereka dapat sejenis immunity gitu kok. Baik di internet maupun di dunia nyata, banyak orang-orang yang sibuk membela agamanya dengan ‘No True Scotsman’ Fallacy. (baca deh artikel di link itu, sangat berguna untuk membuka wawasan kenapa kita berpikir seperti itu)

Sebenarnya salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk melemahkan kekuatan para teroris yang mengatasnamakan agama adalah dengan cara menumbuhkan kemampuan berpikir kritis yang dimiliki orang-orang terhadap agamanya sendiri. Dengan menyadari bahwa agama yang dianutnya juga memiliki kekurangan, maka tidak akan ada lagi orang yang denial bahwa pelaku bom bunuh diri (salah satunya) disebabkan oleh agama. Dari situ, orang akan lebih berhati-hati dalam mengajarkan agama, karena mereka sekarang sadar bahwa orang beragama bisa menjadi sangat berbahaya…

** P.S. : Tentu saja saya menyadari bahwa bukan cuma faktor agama saja yang membuat si pelaku bom bunuh diri rela kehilangan nyawanya demi suatu kepercayaan. Ada hal-hal lain yang lebih berpengaruh, misalnya kebodohan dan kemiskinan, yang sebenarnya perlu ditanggulangi oleh pemerintah melalui program pendidikan dan pemerataan kekayaan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s