Hubungan Terapis – Klien Dalam Film The King’s Speech (2010)

Poster The King's Speech

It takes leadership to confront a nation’s fear.
It takes friendship to conquer your own.

Stadion Wembley, Inggris, 1925.

Di hadapan Pangeran Albert (yang kemudian menjadi Raja George VI, diperankan oleh Colin Firth) terdapat sebuah mike dan lampu berwarna merah yang berkedip tiga kali, lalu terus menyala sebagai tanda bahwa dia sudah on air. Ribuan rakyat Inggris menanti pidatonya dengan gelisah, karena Pangeran Albert memiliki speech defect yang membuatnya tidak dapat berbicara di depan publik secara lancar. Itu adalah adegan pembuka dari film The King’s Speech yang baru saja selesai saya tonton.

Film biopic (diangkat dari kisah nyata) ini menceritakan tentang perjuangan Pangeran Albert yang menjadi raja Inggris setelah ayahnya (George V) meninggal dan kakaknya (Pangeran Edward VII) meninggalkan takhta kerajaan demi menikah dengan seorang janda. Saat itu, kondisi negara sedang sangat gawat karena Inggris akan segera memasuki Perang Dunia II yang dipicu oleh Hitler karena dia menyerang Polandia di tahun 1939. Dalam kondisi yang penuh keputusasaan dan rasa takut, rakyat Inggris membutuhkan sosok pemimpin yang dapat mempersatukan mereka dalam perang.

Sebenarnya Pangeran Albert sudah mengidap gagap sejak usia 4-5 tahun, dan sudah  mencoba berbagai macam terapi untuk menyembuhkan gangguan bicara yang dialaminya. Salah satu metode yang ditampilkan dalam film ini adalah dengan cara memasukkan sejumlah kelereng ke dalam mulut dan mencoba untuk berbicara tanpa mengelurkan kelereng tersebut dari mulut. Kedengarannya tentu sangat konyol, tapi pada saat itu speech therapy memang belum terlalu berkembang ilmunya. Bahkan ada dokter yang menyarankan untuk merokok karena asap rokok dapat membuat larynx lebih rileks. Tentu saja hal ini tidak akan terjadi di dunia kedokteran modern saat ini.

Istri Albert, Elizabeth (Helena Bonham Carter), mencari seorang speech therapist yang dapat menyembuhkan suaminya dan bertemu dengan seorang therapis yang eksentrik: Lionel Logue (Geoffrey Rush). Meskipun awalnya hubungan antara Bertie (nama panggilan Pangeran Albert) dan Logue tidak terlalu baik, bahkan sempat mengalami pertengkaran, namun akhirnya terdapat hubungan terapis-klien yang kuat di antara mereka berdua.

Film yang menceritakan kisah nyata seorang raja ini betul-betul menjadi “raja” dalam Academy Awards. Nggak tanggung-tanggung, film ini memperoleh 121 nominasi! Jumlah nominasinya saja sudah sebanyak itu… jadi tidak mengherankan kalau jumlah award yang dimenangkan juga tidak sedikit. Saya tidak terlalu paham tentang ilmu perfilman, tapi saya merasa bahwa award yang diberikan kepada film ini memang layak. I DO enjoy watching this movie! 🙂

Ada banyak hal-hal menarik yang ditampilkan dalam film ini, namun aspek yang paling menarik bagi saya adalah hubungan terapis-klien yang dimiliki oleh Bertie-Logue. Wajar saja kalau hal ini menarik bagi saya, karena kami (mahasiswa jurusan psikologi) selalu diajarkan untuk menciptakan helping relationship dalam mata kuliah Konseling. Saya sadar bahwa tokoh Logue bukan seorang psikolog, namun banyak metode Logue yang unik membuatnya lebih daripada hanya sekadar speech therapist.

Selain melakukan terapi yang sifatnya fisik, seperti relaksasi otot, rahang, bahu, dan berlatih pernafasan, Logue pun melakukan terapi lain: talk therapy. Meskipun tidak secara eksplisit, Logue memiliki pemikiran bahwa gagap merupakan suatu gangguan psikologis yang disebabkan oleh pengalaman masa lalu klien. Dalam pertemuan antara Bertie-Logue, mulai terungkap hal-hal yang dialami oleh seorang pangeran di masa kecilnya.

Selain itu, terungkap pula bahwa Bertie memiliki ketakutan terhadap sosok ayahnya yang tegas. Saat saudara-saudaranya mengolok-olok Bertie karena dia gagap, ayahnya malah ikut menegur Bertie, dengan pemikiran bahwa tindakan tersebut dapat menyembuhkan gagap Bertie. Ini bukan merupakan hal yang janggal. Seringkali orangtua menganggap tindakan yang dilakukannya adalah demi kebaikan anaknya juga, padahal tindakan tersebut sangat maladaptif bagi perkembangan psikis anak. Itulah sebabnya gerakan psikoedukatif sangat penting.

Logue, sebagai seorang terapis yang baik, tidak hanya sekedar memberikan treatment kepada kliennya, tetapi juga berusaha untuk memahami klien yang dia hadapi. Menurut saya ini prinsip yang wajib dipegang oleh setiap terapis dalam menghadapi klien. Lebih daripada sekedar memberikan obat, tetapi juga membuat klien terlepas dari masalah yang membuatnya membutuhkan obat tersebut. Dalam mata kuliah konseling, diajarkan bahwa konselor yang baik bukanlah konselor yang dapat memberikan nasihat yang paling sakti dan tokcer. Konselor yang baik adalah konselor yang dapat mengajarkan kepada klien bagaimana cara memecahkan masalahnya sendiri tanpa terus tergantung kepada konselor.

Oh ya, di pertemuan awal, Logue juga menunjukkan kepada Bertie bahwa dia dapat menyampaikan pidato secara lancar dengan cara memintanya membaca serangkaian kalimat paling terkenal dari Hamlet karya Shakespeare, To be, or not to be. That is the question”. Uniknya, Logue meminta Bertie memakai headphone dan menyetel suara musik dengan keras sehingga dia tidak dapat mendengar suaranya sendiri. Saat Bertie pulang dan menyetel piringan hitam yang diberikan oleh Logue, ternyata dia memang dapat membacakan kalimat-kalimat tersebut dengan lancar.

Saya pun tahu bahwa di setiap negara selalu ada speechwriter yang tugasnya adalah menuliskan pidato yang akan dibacakan oleh pemimpin negara. Namun, saya merasa bahwa speech yang disampaikan oleh Bertie sangat indah. Mungkin karena faktor sejarah, mungkin juga karena saya sudah tahu betapa beratnya perjuangan Bertie untuk menyampaikan pidato tersebut kepada seluruh rakyat Kerajaan Inggris.

Ini adalah speech yang disampaikan oleh Raja George VI:

In this grave hour, perhaps the most fateful in our history, I send to every household of my peoples, both at home and overseas, this message, spoken with the same depth of feeling for each one of you as if I were able to cross your threshold and speak to you myself.

For the second time in the lives of most of us, we are at war.

Over and over again, we have tried to find a peaceful way out of the differences between ourselves and those who are now our enemies; but it has been in vain.

We have been forced into a conflict, for we are called, with our allies, to meet the challenge of a principle which, if it were to prevail, would be fatal to any civilized order in the world.

It is a principle which permits a state, in the selfish pursuit of power, to disregard its treaties and its solemn pledges, which sanctions the use of force or threat of force against the sovereignty and independence of other states.

Such a principle, stripped of all disguise, is surely the mere primitive doctrine that might is right, and if this principle were established through the world, the freedom of our own country and of the whole British Commonwealth of nations would be in danger.

But far more than this, the peoples of the world would be kept in bondage of fear, and all hopes of settled peace and of the security, of justice and liberty, among nations, would be ended.

This is the ultimate issue which confronts us. For the sake of all that we ourselves hold dear, and of the world order and peace, it is unthinkable that we should refuse to meet the challenge.

It is to this high purpose that I now call my people at home, and my peoples across the seas, who will make our cause their own.

I ask them to stand calm and firm and united in this time of trial.

The task will be hard. There may be dark days ahead, and war can no longer be confined to the battlefield, but we can only do the right as we see the right, and reverently commit our cause to God. If one and all we keep resolutely faithful to it, ready for whatever service or sacrifice it may demand, then with God’s help, we shall prevail.

May He bless and keep us all.

(The King’s Speech of September 3, 1939, quoted in its entirety by Larry Gray in Fathers, Brothers and Sons, pages 127-128.)

Coba anda bayangkan, bagaimana kalau kepala negara kita gagap? Kepala negara adalah sebuah simbol, sehingga apa yang ditampilkan oleh kepala negara akan dianggap sebagai cerminan dari seluruh rakyat negara tersebut. Mungkin ini salah satu hal yang menyebabkan banyak tokoh yang kurang menyukai keberadaan Gus Dur sebagai presiden. Presiden saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono, mungkin memang tampilannya oke, namun saya sudah tidak lagi merasakan kharismanya. Mungkin karena terlalu banyak politik pencitraan, sampai-sampai saya jadi bosan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s