Bulan Januari, Kuliah Umum, dan Dosen Tamu

Di kalender akademik, seharusnya bulan Januari adalah jadwal libur di Fakultas saya. Satu-satunya kelas yang dibuka cuma kelas Remedial, dan -maaf saja- saya nggak sebodoh itu sampai-sampai harus mengikuti kelas Remedial. Tapi, ternyata bulan ini Fakultas mengundang beberapa dosen tamu untuk sharing ilmu yang mereka miliki kepada kami. Secara keseluruhan, di bulan saya mengikuti 3 kuliah dari dosen tamu. 

Kuliah Neuropsychology dengan Prof. Anton Coenen

Di awal tahun 2011, saya ikut serta dalam kuliah umum yang diselenggarakan oleh program Magister Fakultas Psikologi Maranatha. Dosen pengajarnya adalah Prof. Anton Coenen dari Radbound University Nijmegen, Belanda. Kuliahnya diadakan di lantai 10 gedung GWM, seperti kebanyakan acara program Magister lainnya.

Saat saya datang ke ruangan kelas, Prof. Coenen sudah menunggu dengan asistennya (?) yang bertugas menemani dia selama dia berkeliling Indonesia. Rupanya, dia juga diminta untuk mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Atma Jaya, sehingga dia harus bolak-balik JakartaBandung. Dosen yang hadir duluan adalah Prof. M, yang nampak antusias dan menanyakan jadwal kegiatan Prof. Coenen setelah memberikan kuliah karena Prof. M ingin mengobrol untuk mendiskusikan suatu penelitian.

Selain diikuti oleh para dosen, kuliah ini juga dihadiri oleh beberapa mahasiswa program Magister di kampus saya. Nampaknya, saya adalah satu-satunya mahasiswa S1 yang ada di ruangan itu. Sungguh, rasanya seperti sedang berada di antara para singa intelektual (dan saya adalah kelinci yang nggak bisa apa-apa).

Kuliah ini sebenarnya diberi judul “Brain and Behavior”, di dalamnya terdapat 3 materi kuliah yang disampaikan dalam 2 sesi. Sesi pertama dimulai dari pagi, 09.00 – 11.00 WIB. Setelah itu diadakan break selama 2 jam untuk makan siang dan bersosialisasi, dan setelah itu diakhiri dengan sesi 2 mulai dari jam 13.00 – 15.00 WIB. Formatnya seperti kuliah biasa, Professor akan menyampaikan materi di depan ruangan dan mahasiswa memperhatikan. Di akhir kuliah, jika masih ada sisa waktu, para murid diperbolehkan untuk mengajukan pertanyaan.

Materi kuliah pertama adalah mengenai Pain (Rasa Sakit). Professor menjelaskan tentang definisi rasa sakit, prosesnya, dan seperti apa pengaruhnya terhadap perilaku kita. Setelah istirahat, kuliah dilanjutkan dengan materi mengenai Vigilance (kondisi saat efisiensi fisiologis sedang dalam keadaan puncak) dan cara mengukurnya. Saya sangat tertarik dengan cara pengukuran vigilance sebab banyak menggunakan alat-alat neuropsikologi yang tidak pernah saya lihat sebelumnya.Mungkin suatu saat nanti, di Fakultas akan ada lebih banyak alat-alat tes neuropsikologi, nggak cuma sekedar alat tes inventori saja.

Kuliah selesai jam 3 sore. Sebelum pulang, ibu J menampilkan slide yang dibuatnya yang berisi gambar-gambar Prof. Coenen selama dia mengajar di Fakultas ini. Nampaknya dia senang mendapat slide seperti itu karena dia langsung minta softcopynya.

Kuliah Psychology of Religion and Spirituality dengan Alexei Dvoinin

Sebenarnya kuliah ini berlangsung cukup lama, tapi karena ke(sok)sibukan saya, maka saya hanya sempat mengikuti kelas yang diadakan di ruang Sidang (yang sebenarnya ditujukan bagi para dosen dan asisten dosen). Alexei adalah seorang peneliti dari Rusia yang menyempatkan diri untuk datang ke Indonesia untuk berbagi ilmu dan membuka pintu dalam melakukan kolaborasi penelitian lintas-budaya.

Penjelasan singkat mengenai Psychology of Religion, dikutip dari Wikipedia:

Psychology of religion consists of the application of psychological methods and interpretive frameworks to religious traditions and to religious and irreligious individuals. Its challenge is essentially threefold: (1) to provide a thoroughgoing description of the objects of investigation, whether they be shared religious content (e.g., a tradition’s ritual observances) or individual experiences, attitudes, or conduct; (2) to account in psychological terms for the rise of such phenomena; and (3) to clarify the outcomes—the fruits, as William James put it—of these phenomena, for individuals and for the larger society.

Sesuai dengan judulnya, materi yang disampaikan oleh Alexei adalah mengenai Psikologi Agama; dia mulai menjelaskan dari definisinya, lalu berlanjut menjelaskan metodologi penelitian serta memaparkan hasil penelitian yang telah dia lakukan sebelumnya. Penelitian yang dia presentasikan adalah bagian dari disertasinya mengenai pemaknaan nilai yang dimiliki oleh siswa yang bersekolah di sekolah teologi dan sekolah sekuler (tidak berdasarkan agama).

Menurut saya psikologi agama merupakan kajian yang menarik, mengingat agama memiliki peran yang besar bagi orang Indonesia, meskipun ini bukan merupakan negara agama tapi negara hukum. Selain itu, Indonesia juga merupakan negara yang memiliki penganut agama islam terbesar di dunia! (meskipun pada saat saya pergi melakukan penelitian ke desa, kebanyakan orang di sana hanya menganut agama sebatas KTP saja)

Tapi saya ingat sindiran seorang profesor dari Belanda di tahun 2010 kemarin saat menghadiri konferensi psikologi agama dan spiritualitas internasional pertama di Indonesia: Psychology of Religion itu jangan disamakan dengan psikologinya orang relijius! Fokus utama dari Psikologi Agama adalah agama yang dibahas dengan ilmu psikologi! Bukan dengan keagamaan!

Alexei sendiri adalah seorang pria berbadan besar, botak, berkacamata, dan nampaknya adalah orang yang bersahabat dan menyenangkan. Orangnya juga masih muda, cuma beda 6 tahun dengan saya, tapi dia sudah menyandang gelar S3! Luar biasa memang. Setelah selesai kuliah, dia bercerita bahwa dia akan pergi ke Bali untuk menikmati pantai di sana. Dasar bule! Kalau ke Indonesia pasti kerjaannya ke Bali! 😛

Kuliah Metodologi Penelitian dengan Bpk. Ronny

Kuliah ini diadakan di Gedung Administrasi Pusat lantai 4 dari jam 9 hingga jam 3. Ini menarik karena Bpk. Ronny tidak berasal dari latar belakang ilmu yang sama dengan saya; beliau adalah seorang ketua jurusan dari ilmu Pertanian (Agribisnis) Universitas Padjajaran. Memang sih ada argumen bahwa intinya toh masih sama-sama ilmu sosial, tapi pasti ada perbedaan kan?

Nah, kuliah yang terakhir ini sebenarnya ditujukan untuk meningkatkan kualitas skripsi mahasiswa. Tapi Bpk. Ronny justru membahas satu isu yang menarik: bagaimana bisa anda mengharapkan skripsi mahasiswa yang kualitasnya tinggi kalau dosennya sendiri bukan seorang peneliti? Buat saya sih itu sindiran yang cukup keras, tapi mungkin tidak semua dosen menyadari sindiran tersebut.

Bener loh. Saya sih merasakan bahwa dosen sendiri menganggap bahwa penelitian adalah beban tugas dan tanggung jawab yang tidak menyenangkan. Bahkan mungkin ada dosen yang hanya melakukan penelitian untuk persyaratan kenaikan pangkat (dan gaji) saja. Kan jadinya konyol kalau kemudian mereka berharap akan ada lebih banyak mahasiswa yang tertarik untuk menjadi peneliti?

Nah, rupanya ucapan Leo Tolstoy itu memang ada benarnya:

Everybody wants to change the world but nobody wants to change themselves.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s