William Butler Yeats, si Penyair-pemenang-Nobel-yang-tidak-berhasil-memenangkan-cinta-sejatinya

Had I the heavens’ embroidered cloths,

W.B. Yeats
W.B. Yeats

Enwrought with the golden and silver light,

The blue and the dim and the dark cloths

Of night and light and half-light,

I would spread the cloths under your feet

But I, being poor, have only my dreams;

I have spread my dreams beneath your feet;

Tread softly because you tread on my dreams…

— William Butler Yeats

Puisi di atas diciptakan oleh William Butler Yeats, seorang penyair dari Irlandia yang menerima hadiah Nobel dalam bidang Literatur di tahun 1923. Jika kalian tertarik untuk membaca kisah hidupnya, kalian bisa membuka wikipedia, riwayat hidupnya dipaparkan dengan cukup lengkap di sana.

Saya pertama kali mendengar puisi ini dibacakan oleh Sir Ken Robinson dalam salah satu sesi TedTalks yang ditayangkan oleh acara TEDxBandung di ITB. Setelah sampai di rumah, saya segera online dan membaca riwayat hidup W.B. Yeats di Wikipedia. Ternyata puisi ini memang memiliki makna yang mendalam karena terdapat cerita yang menarik di balik puisi ini.

Puisi ini diciptakan pada tahun 1899. Saat itu W.B. Yeats masih muda, dan dia jatuh cinta pada Maud Gonne, seorang Nasionalis Irlandia berusia 23 tahun. Maud Gonne, dalam kisah hidup W.B. Yeats, merupakan seorang wanita yang sangat mendominasi dan menyiksa batin pikirannya. Berhubung Yeats merupakan penyair kelas dunia, dia mampu mengubah penderitaan ini menjadi karya-karya puisi yang indah. Mahasiswa psikologi mungkin mengenal istilah defense mechanism yang disebut dengan sublimation.

W.B. Yeats pertama kali bertemu dengan Maud Gonne pada awal tahun 1899 di kota London. Yeats langsung terpesona oleh kecantikan dan cara bicaranya yang berapi-api. Saat itu, Maud Gonne langsung mengundang Yeats untuk makan malam (dan tentu saja dia menerima undangan itu). Setelah itu, mereka menghabiskan 9 hari bersama-sama selama Maud Gonne tinggal di London. Selama 9 hari itu, Yeats benar-benar merasakan arti jatuh cinta yang sebenarnya.

Gejolak emosi yang nampak dalam puisi-puisinya merupakan hal yang dapat dipahami jika kita menyadari bahwa meskipun lamaran pernikahannya berkali-kali ditolak oleh Maud Gonne, Yeats tetap terpesona dan mengagumi Maud Gonne seumur hidupnya. Yeats melamar Gonne pada tahun 1891 dan ditolak. Setelah itu, dia kembali melamar Maud Gonne di tahun 1899, 1901, dan 1903. Tiga kali dia melamar, tiga kali dia ditolak.

Maud Gonne kemudian menikah dengan Major John McBride pada tahun 1903, dan dalam puisi-puisi Yeats mulai terdapat konten yang menyiratkan kecemburuan. Ini merupakan gambaran dari perasaannya yang ambivalen terhadap Gonne. Meskipun demikian, Yeats tetap terus menulis puisi tentang Gonne dan terus mengaguminya. Saat McBride meninggal pada perang di tahun 1916, Yeats kembali melamar Maud Gonne… dan lagi-lagi ditolak.

Meskipun pada akhirnya Yeats menjalin hubungan dengan wanita lain seperti Olivia Shakespeare, Lady Augusta Gregory, dan Georgie Hyde Lees (yang kemudian menjadi istrinya), justru hanya cinta tak terbalas terhadap Maud Gonne yang mewarnai isi pikiran dan puisinya. Dia tidak pernah bisa melepaskan diri sosok Maud Gonne dari hati dan pikirannya…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s